Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang

Jum'at, 15 Juli 2016 - 05:00 WIB
Pulau Babo, Tempat Penyebaran...
Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang
A A A
Pulau Babo, salah satu daerah di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menyimpan banyak cerita. Misal, tentang penyebaran agama Islam hingga menjadi basis pertahanan terakhir tentara Jepang saat Perang Dunia II.

Pulau Babo adalah sebuah distrik atau kecamatan di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Luas wilayahnya 687,43 km persegi. Jumlah penduduknya, 2.500 kepala keluarga.

Perjalanan menuju Pulau Babo dapat ditempuh dalam waktu satu malam dengan menggunakan kapal perintis dan satu jam dengan menggunakan pesawat udara dari Kota Sorong.

Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang


Saat tiba di Pulau Babo, kita akan disambut dengan ramah oleh warga setempat. Warga di Pulau Babo terdiri dari empat suku yang hidup berdampingan. Warga asli di Pulau Babo berasal dari Suku Irarutu. Selain itu, ada juga warga yang berasal dari Jawa, Buton, dan Toraja.

Mayoritas warga di Pulau Babo memeluk agama Islam. Namun, seiring perkembangannya, pulau tersebut juga didiami oleh umat Kristen.

Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Jumaat Manuama, ajaran Islam di pulau terpencil di Kabupaten Teluk Bintuni ini dibawa oleh para ulama dari Kesultanan Tidore pada tahun 1867. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah masjid agung tertua di Pulau Babo yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid itu bernama Masjid Miftahul Jannah.

Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang


Saat MNC Media berkunjung ke sana pada Ramadhan lalu, sedang ada pembangunan ruangan tambahan di masjid itu. Mereka yang non-muslim pun ikut membantu pembangunan masjid itu.

Ya, walaupun merupakan kota dengan penduduk mayoritas beragama Islam, Pulau Babo juga didiami oleh umat Kristen. Sejumlah bangunan gereja terlihat di Pulau Babo.

Toleransi umat beragama di Pulau Babo sangat tinggi. Hubungan kekerabatan membuat tali persaudaraan antara masyarakat setempat yang Muslim dan Kristen selalu terjaga baik.

Menurut Jumaat, selain menjadi tempat penyebaran agama Islam, Pulau Babo juga merupakan daerah basis pertahanan terakhir tentara Jepang saat melawan Sekutu pada Perang Dunia II tahun 1942. Hal ini dapat dilihat dengan adanya sebuah bandara, yang merupakan bandara pertahanan tentara Jepang sebelum dibombardir oleh Sekutu.

Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang


Salah satu aset peninggalan penjajah yang saat ini masih utuh dan telah direnovasi, menurut Jumaat, adalah Bandar Udara Babo. Bandara peninggalan penjajah saat itu direnovasi oleh perusahaan gas raksasa LNG Tangguh. Selain itu, masih juga terlihat puing-puing pesawat tentara Jepang yang hancur akibat dibombardir oleh Sekutu.

Rumah-rumah warga yang saat ini ditempati pun masih merupakan rumah peninggalan penjajah saat itu dan masih berdiri kokoh. Hanya sebagian yang telah dipugar oleh warga setempat.

Ada pula sebuah bak penampungan air peninggalan Belanda yang hingga kini masih utuh walaupun telah dikelilingi rumput ilalang yang cukup tinggi. Bak air ini merupakan penyuplai air bagi warga setempat pada saat itu.

Kehidupan masyarakat setempat lebih banyak menjadi nelayan dan komoditi utama masyarakat nelayan setempat adalah kepiting. Namun, warga setempat belum dapat memasarkan kepiting secara baik dan benar hingga luar daerah.

Sayangnya seiring perkembangan zaman, masyarakat Pulau Babo masih terlihat hidup miskin di atas tanah kaya yang menghasilkan gas terbesar di Indonesia.

Pulau Babo, Tempat Penyebaran Islam dan Basis Pertahanan Jepang


Keberadaan LNG Tangguh, perusahaan penghasil gas alam terbesar di wilayah Papua Barat, tepatnya di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni yang telah beroperasi selama 11 tahun, belum mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat.

APBD Kabupaten Teluk Bintuni yang didapat dari sumber pendapatan gas, perusahaan kayu, dan lainnya sebesar Rp2 triliun per tahun juga belum dapat membantu mengangkat kesejahteraan masyarakat Babo dan Kabupaten Teluk Bintuni pada umumnya.

Malah, Kabupaten Teluk Bintuni masuk dalam kategori kabupaten termisikin kedua di wilayah Papua Barat. Kini, Jumaat dan juga warga lainnya di Pulau Babo berharap, pemerintah pusat dapat mengangkat kesejahteraan mereka. Semoga...
(zik)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
51 menit yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
1 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
1 jam yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
1 jam yang lalu
Pimpin Gerakan ASRI...
Pimpin Gerakan ASRI di Banyuwangi, Safrizal Ajak Masyarakat Bangun Budaya Kebersihan
2 jam yang lalu
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
2 jam yang lalu
Infografis
Daftar Aset dan Kekayaan...
Daftar Aset dan Kekayaan Organisasi Islam Muhammadiyah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved