Hidroponik di Tengah Kota
A
A
A
MESKIPUN tidak memiliki lahan yang luas, Kota Surabaya masih bisa memproduksi sayur dan buah untuk mencukupi kebutuhan warga. Produk tersebut dihasilkan dari sistem hidroponik yang mulai bisa diterima warga di Kota Pahlawan.
Hasil sistem hidroponik itu, kini membanjiri beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya. Sayur dan buah yang segar mendapat perhatian tersendiri bagi para konsumen. Mereka menilai sayur dan buah yang dihasilkan memiliki sisi unik dan kualitas yang masih segar untuk dikonsumsi. Yuliana, 38, terus memandang cherry tomato yang berukuran mini. Tomat berwarna merah itu menarik perhatiannya.
Tangkai kecil berwarna hijau yang masih melekat memberikan suasana segar. Tomattomat itu dibingkai dalam plastik berukuran persegi yang membuatnya terlihat cantik. ”Dari kejauhan tak terlihat seperti tomat, tapi seperti buah stroberi. Tapi ketika didekati ternyata tomat yang lucu,” ujarnya.
Berkali-kali ibu satu anak itu memegang kulit tomat yang kencang. Permukaannya yang bersih dan segar membuatnya tertarik untuk membeli. Tomat kecil yang diproduksi warga Surabaya di lahan rumah yang sempit dan memberikan sentuhan berbeda.
Surabaya yang dikenalnya dengan kota maju dengan bangunan tinggi dan mal-mal mewah, ternyata masih bisa menghasilkan sayur dan buah yang menggoda. ”Sempat tidak percaya kalau tomat seperti ini bisa diproduksi sendiri di Surabaya dalam jumlah besar. Ternyata bisa sampai di pasar-pasar dan swalayan,” ungkapnya. Yuliana akhirnya membeli beberapa hasil sayur dan buah hasil sistem hidroponik.
Sebanyak dua buah rock melon dan cherry tomato menjadi pilihannya. Baginya, hasil sayuran dan buah hidroponik lebih aman bagi anaknya, karena tidak ada kandungan pestisida dan lebih tahan lama. Bagi warga Surabaya, sistem hidroponik menjadi pilihan tepat di tengah keterbatasan lahan.
Perkampungan yang sempit dengan rumah saling berdempetan tanpa ada halaman membuat mereka percaya kalau proses hidroponik bisa berkembang dengan cepat. Bahkan, di pusat sayur dan buah yang ada di pasar modern, hasil sistem hidroponik mampu bersaing dengan sayur maupun buah impor. Hasil produk yang ramah lingkungan menjadikan nilai lebih bagi sayur dan buah hasil sistem hidroponik.
Tidak hanya berhenti di sana, beberapa warga yang kreatif juga memberikan tambahan sentuhan pada sayur dan buah hidroponik. Mereka mengolahnya menjadi makanan serta minuman yang lezat. Aneka kue, burger , salad, sampai minuman segar berjejer rapi di etalase swalayan dan pusat perbelanjaan di Surabaya. Rianti Indah Purnama, salah satu pelaku hidroponik, mengatakan, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menjadi pegiat hidroponik. Semua warga bisa bertani tanpa harus ada lahan yang luas. Dinding rumah serta dapur yang sempit saja bisa dimaksimalkan untuk menanam.
”Dulu awalnya hanya untuk konsumsi sendiri. Tapi setelah melihat perkembangan yang pesat, produksi sayur dan buah melimpah, jadi kami juga menjualnya ke orang lain,” ungkapnya. Sistem hidroponik, lanjutnya, tidak hanya menjadi hobi saja bagi kalangan tertentu. Namun, juga ternyata bisa menciptakan pekerjaan baru bagi warga yang ingin berusaha lebih keras. Tinggal mengelolanya dengan rutin. Kesempatan itu pun bisa dilakukan oleh semua warga. Ruang terbuka hijau (RTH) Surabaya sendiri bisa dibantu dengan banyaknya warga yang memutuskan memulai sistem hidroponik di rumahnya.
Di tengah kondisi lahan yang sempit, kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan menyenangkan bagi setiap orang. Sistem hidroponik sendiri memakai unsur utama dari air bukan tanah. Bahkan, pelaku hidroponik banyak yang menggunakan pecahan batu ba-ta sebagai pelengkap bercocok tanam. ”Jadi, cukup sederhana dan tidak memakan tempat. Tanaman nanti dile-takkan di pot-pot kecil atau pipa paralon buatan sendiri di dinding rumah,” katanya. Keunggulan sayur dan buah dari kota hasil sistem hidroponik adalah bebas pestisida, fungisida, dan insektisida.
Di kota maju dan modern saat ini banyak yang mulai melirik dan membiasakan hidup lebih sehat. Di rumahnya yang berada di Pagesangan, Rianti sudah menanam sawi, bayam, selada air, brokoli, cabe, tomat, dan terong.
Semuanya pun sudah berhasil dikembangkan dengan cepat. Bahkan, anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ikut tertarik bercocok tanam di rumah. Pemkot Surabaya sendiri berharap besar pada sistem hidroponik yang cocok diterapkan di kota maju.
Dinas Pertanian (Distan) Kota Surabaya terus mengoptimalkan program urban farming sebagai salah satu solusi pengembangan sektor pertanian di lahan terbatas. Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya, Djoestamadji, menuturkan, kondisi lahan di Surabaya sudah terba- tas. Pilihan yang paling ideal adalah dengan menerapkan konsep urban farming . Kondisi lingkungan di berbagai kawasan yang ada di Surabaya juga bisa terjaga dengan banyaknya warga yang memilih sistem hidroponik di rumahnya.
Prinsipnya, lanjutnya, urban farming bisa memaksimalkan lahan yang sempit di rumahnya masingmasing. Lahan yang terbatas itu bisa dimaksimalkan dengan kegiatan bercocok tanam, budidaya ikan dan peternakan. Sepanjang tahun ini Distan sudah membantu penerapan urban farming bagi 3.000 kepala keluarga (KK) untuk produk pertanian, dan 2.000 KK untuk produk perikanan. Jumlah itu akan terus ditambah sampai akhir 2015 ini. Sementara untuk lahan yang difungsikan untuk pertanian di Surabaya seluas 1.400 hektare. Adapun komoditi andalan Kota Pahlawan antara lain blewah, melon, jamur semangka inul, sawi, tomat, cabe dan brokoli. aan haryono
Hasil sistem hidroponik itu, kini membanjiri beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya. Sayur dan buah yang segar mendapat perhatian tersendiri bagi para konsumen. Mereka menilai sayur dan buah yang dihasilkan memiliki sisi unik dan kualitas yang masih segar untuk dikonsumsi. Yuliana, 38, terus memandang cherry tomato yang berukuran mini. Tomat berwarna merah itu menarik perhatiannya.
Tangkai kecil berwarna hijau yang masih melekat memberikan suasana segar. Tomattomat itu dibingkai dalam plastik berukuran persegi yang membuatnya terlihat cantik. ”Dari kejauhan tak terlihat seperti tomat, tapi seperti buah stroberi. Tapi ketika didekati ternyata tomat yang lucu,” ujarnya.
Berkali-kali ibu satu anak itu memegang kulit tomat yang kencang. Permukaannya yang bersih dan segar membuatnya tertarik untuk membeli. Tomat kecil yang diproduksi warga Surabaya di lahan rumah yang sempit dan memberikan sentuhan berbeda.
Surabaya yang dikenalnya dengan kota maju dengan bangunan tinggi dan mal-mal mewah, ternyata masih bisa menghasilkan sayur dan buah yang menggoda. ”Sempat tidak percaya kalau tomat seperti ini bisa diproduksi sendiri di Surabaya dalam jumlah besar. Ternyata bisa sampai di pasar-pasar dan swalayan,” ungkapnya. Yuliana akhirnya membeli beberapa hasil sayur dan buah hasil sistem hidroponik.
Sebanyak dua buah rock melon dan cherry tomato menjadi pilihannya. Baginya, hasil sayuran dan buah hidroponik lebih aman bagi anaknya, karena tidak ada kandungan pestisida dan lebih tahan lama. Bagi warga Surabaya, sistem hidroponik menjadi pilihan tepat di tengah keterbatasan lahan.
Perkampungan yang sempit dengan rumah saling berdempetan tanpa ada halaman membuat mereka percaya kalau proses hidroponik bisa berkembang dengan cepat. Bahkan, di pusat sayur dan buah yang ada di pasar modern, hasil sistem hidroponik mampu bersaing dengan sayur maupun buah impor. Hasil produk yang ramah lingkungan menjadikan nilai lebih bagi sayur dan buah hasil sistem hidroponik.
Tidak hanya berhenti di sana, beberapa warga yang kreatif juga memberikan tambahan sentuhan pada sayur dan buah hidroponik. Mereka mengolahnya menjadi makanan serta minuman yang lezat. Aneka kue, burger , salad, sampai minuman segar berjejer rapi di etalase swalayan dan pusat perbelanjaan di Surabaya. Rianti Indah Purnama, salah satu pelaku hidroponik, mengatakan, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menjadi pegiat hidroponik. Semua warga bisa bertani tanpa harus ada lahan yang luas. Dinding rumah serta dapur yang sempit saja bisa dimaksimalkan untuk menanam.
”Dulu awalnya hanya untuk konsumsi sendiri. Tapi setelah melihat perkembangan yang pesat, produksi sayur dan buah melimpah, jadi kami juga menjualnya ke orang lain,” ungkapnya. Sistem hidroponik, lanjutnya, tidak hanya menjadi hobi saja bagi kalangan tertentu. Namun, juga ternyata bisa menciptakan pekerjaan baru bagi warga yang ingin berusaha lebih keras. Tinggal mengelolanya dengan rutin. Kesempatan itu pun bisa dilakukan oleh semua warga. Ruang terbuka hijau (RTH) Surabaya sendiri bisa dibantu dengan banyaknya warga yang memutuskan memulai sistem hidroponik di rumahnya.
Di tengah kondisi lahan yang sempit, kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan menyenangkan bagi setiap orang. Sistem hidroponik sendiri memakai unsur utama dari air bukan tanah. Bahkan, pelaku hidroponik banyak yang menggunakan pecahan batu ba-ta sebagai pelengkap bercocok tanam. ”Jadi, cukup sederhana dan tidak memakan tempat. Tanaman nanti dile-takkan di pot-pot kecil atau pipa paralon buatan sendiri di dinding rumah,” katanya. Keunggulan sayur dan buah dari kota hasil sistem hidroponik adalah bebas pestisida, fungisida, dan insektisida.
Di kota maju dan modern saat ini banyak yang mulai melirik dan membiasakan hidup lebih sehat. Di rumahnya yang berada di Pagesangan, Rianti sudah menanam sawi, bayam, selada air, brokoli, cabe, tomat, dan terong.
Semuanya pun sudah berhasil dikembangkan dengan cepat. Bahkan, anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ikut tertarik bercocok tanam di rumah. Pemkot Surabaya sendiri berharap besar pada sistem hidroponik yang cocok diterapkan di kota maju.
Dinas Pertanian (Distan) Kota Surabaya terus mengoptimalkan program urban farming sebagai salah satu solusi pengembangan sektor pertanian di lahan terbatas. Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya, Djoestamadji, menuturkan, kondisi lahan di Surabaya sudah terba- tas. Pilihan yang paling ideal adalah dengan menerapkan konsep urban farming . Kondisi lingkungan di berbagai kawasan yang ada di Surabaya juga bisa terjaga dengan banyaknya warga yang memilih sistem hidroponik di rumahnya.
Prinsipnya, lanjutnya, urban farming bisa memaksimalkan lahan yang sempit di rumahnya masingmasing. Lahan yang terbatas itu bisa dimaksimalkan dengan kegiatan bercocok tanam, budidaya ikan dan peternakan. Sepanjang tahun ini Distan sudah membantu penerapan urban farming bagi 3.000 kepala keluarga (KK) untuk produk pertanian, dan 2.000 KK untuk produk perikanan. Jumlah itu akan terus ditambah sampai akhir 2015 ini. Sementara untuk lahan yang difungsikan untuk pertanian di Surabaya seluas 1.400 hektare. Adapun komoditi andalan Kota Pahlawan antara lain blewah, melon, jamur semangka inul, sawi, tomat, cabe dan brokoli. aan haryono
(bhr)