Raja Jayabaya, Penguasa Kediri Keturunan Airlangga yang Ramalkan Kehancuran Dunia

Senin, 09 Januari 2023 - 05:34 WIB
loading...
A A A
"Sementara bagi pencuri, perampok dan penyamun, dan tindak-tindak kejahatan besar lainnya, langsung mendapat hukuman mati". Di masa Jayabaya, Kerajaan Panjalu atau Kadiri atau Kediri dengan ibu kota Dahanapura atau Daha, mencapai masa keemasannya. Jayabaya merupakan keturunan Raja Airlangga (1019-1042).

Ia adalah raja ketiga Panjalu setelah Airlangga membelah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Dengan kekuatan dan kebijakannya, Jayabaya berhasil menyatukan Panjalu dan Jenggala yang bertahun-tahun berseteru dalam perang saudara. Jayabaya juga termasyhur dengan ramalannya yang dikenal bernama Jangka Jayabaya.

Ramalan itu disusun dalam bentuk tembang (macapat) dan gancaran (prosa) serta aforisma-aforisma singkat dan padat sehingga mudah dihafalkan. Di dalam ramalan Jayabaya, Pulau Jawa terbagi atas tiga zaman besar. Yakni jaman Kali Swara atau zaman permulaan yang lamanya 700 tahun matahari atau 721 berdasarkan hitungan tahun bulan.

Baca juga: Memilukan! Tak Ada Akses Jalan, Ibu Hamil di Pinrang Ditandu 7 km

Kemudian zaman Kaliyoga atau zaman pertengahan yang lamanya juga 700 tahun dan jaman Kali Sangsara atau zaman akhir yang lamanya juga 700 tahun terhitung sejak 1401 hingga 2100.

Peneliti asing George Quinn dalam Wali Berandal Tanah Jawa menuliskan, dalam Jangka Jayabaya terdapat dua bait ikonik yang dianggap menjadi bukti bahwa Raja Jayabaya dapat meramalkan masa depan. "Tersembunyi dalam kedua bait itu, Soekarno pun tampil sekilas," tulisnya.

Teks ramalan yang terkait Soekarno diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berbunyi: Lalu Garuda Ngwangga akan berkuasa. Ibunya putri dari Bali. Ia akan berkuasa di tanah Jawa, bala tentaranya setan dan demit. Garuda ditafsirkan sebagai burung garuda, lambang negara Republik Indonesia. Kemudian Ngwangga dianggap merujuk kepada Soekarno. Ngwangga merupakan nama lain dari Adipati Karna, tokoh pewayangan saudara Pandawa satu ibu beda ayah.

Seperti diketahui, penggantian nama Kusno menjadi Soekarno karena ayah Bung Karno terpikat dengan ketokohan Adipati Karna atau Karno. Penggantian nama itu berlangsung di Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates Kabupaten Kediri, saat Soekarno kecil sakit-sakitan. Sementara sesuai teks ramalan, ibu Bung Karno juga berasal dari Bali.

"Tentara setan dan dedemit mengacu pada tentara gerilyawan rakyat jelata Indonesia yang mengobarkan perjuangan sengit dan sukses untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945 dan 1949," tulis George Quinn.

Baca juga: Kisah Kecantikan Putri Sunda yang Membuat 2 Pimpinan Tertinggi Majapahit Berselisih

Entah karena terpengaruh ramalan itu atau tidak, sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dikabarkan menziarahi Pamuksan Sri Aji Jayabaya Kediri. Bahkan ziarah itu dilakukan sebanyak tiga kali. Menurut saksi mata saat itu, kunjungan terakhir Soekarno dilakukan hanya beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan.

"Aku datang ke sini untuk minta restu Raja Jayabaya," demikian Soekarno menjelaskan kepada rombongannya. "Aku ingin kalian semua membantuku," tambahnya. Di situs Pamuksan Jayabaya, Bung Karno berdiam diri selama tujuh menit. Sebelum beranjak, Bung Karno kemudian berkata: "Sudah direstui. Sekarang kita bisa pergi," demikian dikutip dari Wali Berandal Tanah Jawa.

Entah kebetulan atau memang Jangka Jayabaya memperlihatkan kebenarannya. Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Soekarno dan Mohammad Hatta kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sejak itu Bung Karno adalah Presiden Pertama Republik Indonesia.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Guru Besar Universitas...
Guru Besar Universitas Jayabaya Tekankan Pentingnya Pergeseran Paradigma dalam Hukum Kepailitan
Universitas Jayabaya...
Universitas Jayabaya Kukuhkan Ary Ginanjar Sebagai Profesor Kehormatan
Universitas Jayabaya...
Universitas Jayabaya Gelar Seminar Internasional, Wamenkum Bicara Hukum dan Perkembangan Zaman
Rekomendasi
Kejagung Pelajari Alat...
Kejagung Pelajari Alat Bukti Kasus Febrie Adriansyah dari Polri
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
Berita Terkini
Usai Jadi Tersangka,...
Usai Jadi Tersangka, Rumah Dinas Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sepi Tanpa Aktivitas
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
2 Pencuri Kabel Rp143...
2 Pencuri Kabel Rp143 Juta di Cikarang Selatan Ditangkap saat Beraksi
Jangan Lewatkan Bebas...
Jangan Lewatkan Bebas Denda Pajak Kendaraan, Gerai Samsat Hadir di PRJ
MUI Kecam Keras 27 Pelaku...
MUI Kecam Keras 27 Pelaku Rudapaksa Remaja di Madura: Hukuman Berat Harus Diberlakukan
Infografis
Daftar Top Skor Sementara...
Daftar Top Skor Sementara Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved