Misteri Gunung Penanggungan, Tanah Suci di Era Kerajaan Majapahit
Selasa, 03 Januari 2023 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Cerita yang diwariskan turun-temurun, konon gunung keramat itu merupakan jelmaan Mahameru, gunungnya para dewa di zaman. Bahkan tidak hanya cerita lisan, dalam kitab Tantu Panggelaran Saka 1.557 atau 1.635 M, konon, para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia boleh berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu tidak stabil, selalu diguncang diterpa ombak lautan.
Agar kondisi Pulau Jawa stabil, para dewa sepakat memindahkan Gunung Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. Namun, dalam perjalanan kepindahan tersebut, sebagian Mahameru ada yang rontok berjatuhan.
Akibat material yang jatuh itu, muncul gunung-gemunung di Pulau Jawa dari barat ke timur. Bagian terbesarnya jatuh menjelma menjadi Gunung Semeru, sedang puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa menjadi Pawitra yang sekarang disebut Gunung Penanggungan. Baca juga: Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit
Berada tidak jauh dari pusat keraton Majapahit di Trowulan, gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut tersebut seakan menjadi pusat spiritual kerajaan. Di setiap jengkal kaki melangkah, pecahan terakota berserakan di tanah. Ratusan situs purbakala berupa candi-candi yang dibangun pada abad 15 mengelilingi puncak Pawitra.
Gunung Penanggungan sendiri dikelilingi empat bukit di bawahnya yaitu Gajah Mungkur (1.087 m), Bekel (1.238 m), Kemuncup (1.227m) dan Sarah Klopo (1.275 m). Setiap bukit terdapat situs purbakala dengan ragam cerita yang melegenda di masyarakat.
Dari lereng Gunung Penanggungan, Candi Jedong berdiri megah dan kokoh. Candi ini punya dua bangunan gapura yaitu Candi Jedong 1 dan Jedong 2. Menurut para peneliti, di Desa Jedong terdapat tiga gapura, namun kini hanya tersisa dua gapura.
Candi Jedong pertama bernama Candi Lanang (laki-laki), letaknya dekat pintu masuk. Sedangkan Candi Jedong kedua disebut Candi Wadon (perempuan).
Agar kondisi Pulau Jawa stabil, para dewa sepakat memindahkan Gunung Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. Namun, dalam perjalanan kepindahan tersebut, sebagian Mahameru ada yang rontok berjatuhan.
Akibat material yang jatuh itu, muncul gunung-gemunung di Pulau Jawa dari barat ke timur. Bagian terbesarnya jatuh menjelma menjadi Gunung Semeru, sedang puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa menjadi Pawitra yang sekarang disebut Gunung Penanggungan. Baca juga: Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit
Berada tidak jauh dari pusat keraton Majapahit di Trowulan, gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut tersebut seakan menjadi pusat spiritual kerajaan. Di setiap jengkal kaki melangkah, pecahan terakota berserakan di tanah. Ratusan situs purbakala berupa candi-candi yang dibangun pada abad 15 mengelilingi puncak Pawitra.
Gunung Penanggungan sendiri dikelilingi empat bukit di bawahnya yaitu Gajah Mungkur (1.087 m), Bekel (1.238 m), Kemuncup (1.227m) dan Sarah Klopo (1.275 m). Setiap bukit terdapat situs purbakala dengan ragam cerita yang melegenda di masyarakat.
Dari lereng Gunung Penanggungan, Candi Jedong berdiri megah dan kokoh. Candi ini punya dua bangunan gapura yaitu Candi Jedong 1 dan Jedong 2. Menurut para peneliti, di Desa Jedong terdapat tiga gapura, namun kini hanya tersisa dua gapura.
Candi Jedong pertama bernama Candi Lanang (laki-laki), letaknya dekat pintu masuk. Sedangkan Candi Jedong kedua disebut Candi Wadon (perempuan).
Lihat Juga :