Jauh Lebih Murah, Mesin Kopi dan Cokelat dari Jember Tak Kalah dengan Produk Eropa
Selasa, 06 Desember 2022 - 10:21 WIB
loading...
A
A
A
“Kami berbisnis riset, jasa dan barang. Kami menjadi konsultan dan membuat riset dan inovasi untuk banyak perusahaan pangan dan pemda-pemda. Puslitkoka membuatkan formulasi bagaimana supaya biji kopi dan kakao lebih enak juga memberi banyak pendampingan mulai dari pembelian bibit hingga pengembangan,” ungkap Kepala Bagian Usaha Puslitkoka Indonesia, Ucu Sumirat.
Salah satu keberhasilan pendampingan Puslitkoka adalah kopi kintamani. Pada 2004, tidak banyak yang tahu keistimewaan kopi dari Kintamani. Kopi arabika di sana dihargai sangat murah. Setelah ada pendampingan hingga dipertemukan dengan pembeli dari Perancis, kini pendapatan petani serta pengusaha kopi di Kintamani meningkat berlipat ganda.
Luas lahan Puslitkoka Indonesia di Jember mencapai 160 hektare. Ada sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang tinggal dan mencari nafkah di sini mulai peneliti hingga pekerja perkebunan.
“Kami hidup dari hasil jasa dan menjual produk inovasi mulai bibit sampai mesin pengolahan skala kecil-menengah. Skala kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Kami fokus ke sana karena 95 persen luas areal kopi dan kakao di Indonesia adalah perkebunan milik rakyat. Berbeda dengan lahan sawit yang sebagian besar dimiliki perusahaan,” terang Ucu.
Dibanding mesin pengolahan biji kakao dari Eropa, harga mesin produksi Puslitkoka jauh lebih murah namun sama manfaatnya dan lebih tepat guna. Harga mesin dari mancanegara di kisaran miliaran rupiah sementara mesin produksi Jember ini hanya puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Puslitkoka juga menjadikan lahan perkebunan kakao dan kopinya sebagai area eduwisata bernama Coco Park dengan berbagai fasilitas. Pengunjung dapat berkeliling area ini dengan mengendarai kereta kayu mirip kendaraan di film kartun Flinstones.
Salah satu keberhasilan pendampingan Puslitkoka adalah kopi kintamani. Pada 2004, tidak banyak yang tahu keistimewaan kopi dari Kintamani. Kopi arabika di sana dihargai sangat murah. Setelah ada pendampingan hingga dipertemukan dengan pembeli dari Perancis, kini pendapatan petani serta pengusaha kopi di Kintamani meningkat berlipat ganda.
Luas lahan Puslitkoka Indonesia di Jember mencapai 160 hektare. Ada sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang tinggal dan mencari nafkah di sini mulai peneliti hingga pekerja perkebunan.
“Kami hidup dari hasil jasa dan menjual produk inovasi mulai bibit sampai mesin pengolahan skala kecil-menengah. Skala kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Kami fokus ke sana karena 95 persen luas areal kopi dan kakao di Indonesia adalah perkebunan milik rakyat. Berbeda dengan lahan sawit yang sebagian besar dimiliki perusahaan,” terang Ucu.
Dibanding mesin pengolahan biji kakao dari Eropa, harga mesin produksi Puslitkoka jauh lebih murah namun sama manfaatnya dan lebih tepat guna. Harga mesin dari mancanegara di kisaran miliaran rupiah sementara mesin produksi Jember ini hanya puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Puslitkoka juga menjadikan lahan perkebunan kakao dan kopinya sebagai area eduwisata bernama Coco Park dengan berbagai fasilitas. Pengunjung dapat berkeliling area ini dengan mengendarai kereta kayu mirip kendaraan di film kartun Flinstones.
Lihat Juga :