Kisah Gajah Mada Diminta Pensiun Dini dari Jabatan Mahapatih Kerajaan Majapahit
Minggu, 04 Desember 2022 - 08:05 WIB
loading...
A
A
A
"Seperti yang kita sama-sama ketahui. Gajah Mada luar biasa cakap, pragmatis, dan patriotik, namun ia pun cenderung tak sabaran, keras kepala, dan agresif. Aku dan Mahapatih dapat bermitra dengan baik dalam membimbing negeri ini selama bertahun-tahun. Kekurangan dan kelebihan kami saling melengkapi. Apabila sikap tidak sabarannya muncul, aku selalu berhati-hati. Saat aku terlalu pasif, dia menjadi agresif, dan seterusnya," demikian Tribhuwana Tunggadewi berbicara dengan Gayatri, ibunya.
"Para prajurit dan pejabat sipil setia padanya, tetapi aku pun memiliki otoritas suci kerajaan dalam darahku. Waktu ia diangkat menjadi pejabat, aku sudah malang-melintang sebagai ratu, sehingga aku selalu mampu mengimbangi kekuasaannya," demikian kata Tribhuwana kembali.
Hal ini tentu direspon oleh sang ibu Gayatri yang menyatakan dirinya ada masanya. Bahkan Gayatri sempat menyebut ajalnya kian dekat. Dirinya meyakinkan Tribhuwana putrinya bisa menjadi seseorang yang cerdas dan mulia. Namun diakui Gayatri, ada keraguan pada sifat anaknya itu.
Gayatri juga memahami pula bila suatu saat nanti Tribhuwana ingin menyerahkan tampuk kekuasaan ke cucunya sekaligus putra Tribhuwana Tunggadewi bernama Hayam Wuruk. Tribhuwana sudah merencanakan ketika Hayam Wuruk berusia 16 tahun tampuk kekuasaan itu akan diserahkan.
Gayatri pun mendukung keputusan anaknya itu. Namun ada tantangan tersendiri ketika sang raja muda Hayam Wuruk akhirnya naik tahta. Pengalamannya yang masih minim karena baru menginjak 16 tahun bisa menjadi persoalan baru bagi negeri Majapahit.
Gayatri pun memberi saran ke Tribhuwana Tunggadewi untuk mendirikan dewan penasehat baru untuk Hayam Wuruk yang naik tahta kelak. Gayatri juga mengusulkan ke Tribhuwana membentuk dewan keluarga yang membantu dan membimbing Hayam Wuruk.
"Para prajurit dan pejabat sipil setia padanya, tetapi aku pun memiliki otoritas suci kerajaan dalam darahku. Waktu ia diangkat menjadi pejabat, aku sudah malang-melintang sebagai ratu, sehingga aku selalu mampu mengimbangi kekuasaannya," demikian kata Tribhuwana kembali.
Hal ini tentu direspon oleh sang ibu Gayatri yang menyatakan dirinya ada masanya. Bahkan Gayatri sempat menyebut ajalnya kian dekat. Dirinya meyakinkan Tribhuwana putrinya bisa menjadi seseorang yang cerdas dan mulia. Namun diakui Gayatri, ada keraguan pada sifat anaknya itu.
Gayatri juga memahami pula bila suatu saat nanti Tribhuwana ingin menyerahkan tampuk kekuasaan ke cucunya sekaligus putra Tribhuwana Tunggadewi bernama Hayam Wuruk. Tribhuwana sudah merencanakan ketika Hayam Wuruk berusia 16 tahun tampuk kekuasaan itu akan diserahkan.
Gayatri pun mendukung keputusan anaknya itu. Namun ada tantangan tersendiri ketika sang raja muda Hayam Wuruk akhirnya naik tahta. Pengalamannya yang masih minim karena baru menginjak 16 tahun bisa menjadi persoalan baru bagi negeri Majapahit.
Gayatri pun memberi saran ke Tribhuwana Tunggadewi untuk mendirikan dewan penasehat baru untuk Hayam Wuruk yang naik tahta kelak. Gayatri juga mengusulkan ke Tribhuwana membentuk dewan keluarga yang membantu dan membimbing Hayam Wuruk.
Lihat Juga :