Tingkatkan Ketahanan Pangan, Gerakan Petani Milenial Dimulai dari Papua

Rabu, 16 November 2022 - 04:48 WIB
loading...
Tingkatkan Ketahanan Pangan, Gerakan Petani Milenial Dimulai dari Papua
Kepala Pusat Pendidikan Kementan, Idha Widi Arsanti, Presiden IFAD Alvaro Lario, dan Stafsus Presiden Bidang Pendidikan dan Inovasi, Billy Mambrasar. Foto/Ist
A A A
SUBANG - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian bekerja sama dengan IFAD dan Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar terus mendorong pengembangan petani muda. Hal ini dilakukan dengan membentuk Gerakan Petani Milenial untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Pendanaan program ini dibantu Badan Khusus PBB yang bekerja membantu sektor pertanian di daerah-daerah rural, yakni International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program ini dibiayai oleh IFAD sebesar kurang lebih USD55,3 juta untuk program selama 6 tahun berjalan (2019-2025).

Baca juga: Mentan Ajak Petani Milenial Perkuat Kedaulatan Pangan

Billy Mambrasar menjelaskan, Gerakan Petani Milenial dilaksanakan melalui Program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) bertujuan melahirkan wirausaha milenial dari sektor pertanian.

“Saya mendengar kabar bahagia bahwa program ini akan diluncurkan juga di Indonesia Timur,” ujar Billy saat mendampingi Presiden IFAD, Alvaro Lario,dan Kepala Pusat Pendidikan Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti di Subang, dikutip Rabu (16/11/2022).

Target yang akan dicapai selama 6 tahun program ini adalah mencetak 320.000 generasi petani muda di pedesaan hingga tahun 2025. Sejak 2020 hingga 2022 sudah menyerap sebesar 35.288 peserta.

Penerima hibah kompetitif adalah sebanyak 1,015 dan jumlah peserta pemagangan di berbagai institusi adalah sebanyak 755 petani.

Baca juga: Kementan Dukung Pengembangan Petani Milenial Kalteng

“Tentunya termasuk Papua dan Papua Barat dengan target 5000 petani muda. Kementan akan mulai dari Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong, lalu bergeser ke provinsi lain. Ini akan saya sampaikan ke Presiden,” sambung Billy.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat kesenjangan usia di di sektor pertanian. Jumlah petani per 2019 mencapai 33,4 juta orang. Adapun dari jumlah tersebut, petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya 8 persen atau setara dengan 2,7 juta orang.

Billy menerangkan fator tersebut yang membuat Presiden Jokowi menaruh perhatian penuh kepada peningkatan jumlah anak muda Indonesia di sektor Pertanian. Sekaligus meningkatkan kemampuan dan keterampilannya.

Hal ini dilakukan untuk mewujudkan regenerasi petani dalam rangka memperkuat ketahanan pangan Indonesia dalam jangka panjang.

“Program ini akan sangat membawa perubahan bagi generasi muda Indonesia, khususnya di daerah terluar. Kerjasama ini menjadi sangat penting dan potensial memperkuat ketahanan pangan Indonesia yang berkelanjutan,” pungkasnya.
(shf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1571 seconds (10.177#12.26)