Misteri Lawang Bledeg Masjid Demak, Gambar Petir Tangkapan Ki Ageng Selo
Senin, 31 Oktober 2022 - 04:36 WIB
loading...
A
A
A
Raden Hasan akhirnya memerdekakan Kadipaten Demak, menjadi Kesultanan Demak Bintoro. Dia diangkat oleh wali songo, menjadi Sultan Demak Binto, yang dikenal dengan nama Raden Patah. Nama Radem Patah, diduga diambil dari Bahasa Arab al-Fatah yang artinya Sang Pembuka.
Dalam situs resmi kemendikbud.go.id, pembangunan masjid Agung Demak juga dikaitkan dengan pengangkatan Raden Patah sebagai Adipati Demak tahun 1462, dan pengangkatannya sebagai Sultan Demak Bintara tahun 1478 M, yaitu pada waktu Majapahit jatuh di tangan Prabu Girindrawardhana dari Kediri, atau tahun 1512 M.
Diceritakan juga, Raden Patah menangguhkan penyerangan yang kedua ke wilayah Majapahit, yang dikuasai Prabu Girindrawardhana, untuk melanjutkan mendirikan masjid Kadipaten Demak, bersama para walisongo yang sudah dimulai pada tahun 1477 M.
Baca juga: Kisah Misteri Makam Kyai Waqak di Kendal yang Sulit Dirobohkan
Kelanjutan pembangunan masjid dan penangguhan serangan ke Majapahit tersebut, merupakan bentuk penyesalan Raden Patah atas kekhilafannya yang terburu nafsu menyerang pasukan Girindrawadhana, sehingga banyak prajuritnya yang gugur.
Masjid yang selesai dibangun pada tahun 1479 M tersebut, ditandai dengan gambar bulus yang memiliki makna sengkala memet. Sengkala memet bergambar bulus ini, memiliki makna rasa keprihatinan Raden Patah karena kerajaan ayahnya direbut Girindrawadhana.
Sementara dalam catatan Riboet Darmosoetopo yang termuat dalam buku "700 Tahun Majapahit, Suatu Bungai Rampai" disebutkan, Babad Tanah Jawi menyebut, Majapahit runtuh akibat serangan Kerajaan Islam Demak. Hal ini ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi, bertahun 1.400 saka atau 1478 masehi.
Keberadaan kerajaan Majapahit tidak benar-benar lenyap usai adanya serangan Demak. Sejumlah prasasti menyebut, pada tahun 1486 masehi Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawardhana merupakan raja di wilayah Wilwatiktapura Janggala, dan Kadiri.
Berita China dari Dinasti Ming, menyebutkan adanya hubungan dengan raja Jawa, pada tahun 1499 masehi. Bahkan Gubernur Portugis di Malaka, Rui de Brito pada tahun 1514 masehi, menyebutkan ada dua raja "Kafir" yaitu raja Sunda, dan raja Jawa. Hal yang sama juga dituliskan oleh penulis Italia, Barbosa, yang menyebut raja 'kafir" di pedalaman Jawa, pada tahun 1518 masehi.
Baca juga: Menegangkan, Sensus Regsosek Diwarnai Aski Kejar-kejaran dengan Gelandangan
Barulah pada tahun 1522 masehi, seorang ahli Italia lainnya, Antonio Pigafeta menyebutkan bahwa penguasa di Majapahit adalah Pati Unus. Tulisan inilah yang mengisyaratkan bahwa kala itu Majapahit sudah masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak.
Penakhlukan Majapahit oleh Demak, tak terlalu gamblang diceritakan dalam Seran Kanda, dan Serat Darmogandul. Riboet Darmosoetopo menduga, kematian Bhre Kertabhumi pada tahun 1478 masehi akibat serangan Dyah Ranawijaya, dijadikan sengkalan sirna ilang kertaning bumi dalam Babad Tanah Jawi.
Dalam situs resmi kemendikbud.go.id, pembangunan masjid Agung Demak juga dikaitkan dengan pengangkatan Raden Patah sebagai Adipati Demak tahun 1462, dan pengangkatannya sebagai Sultan Demak Bintara tahun 1478 M, yaitu pada waktu Majapahit jatuh di tangan Prabu Girindrawardhana dari Kediri, atau tahun 1512 M.
Diceritakan juga, Raden Patah menangguhkan penyerangan yang kedua ke wilayah Majapahit, yang dikuasai Prabu Girindrawardhana, untuk melanjutkan mendirikan masjid Kadipaten Demak, bersama para walisongo yang sudah dimulai pada tahun 1477 M.
Baca juga: Kisah Misteri Makam Kyai Waqak di Kendal yang Sulit Dirobohkan
Kelanjutan pembangunan masjid dan penangguhan serangan ke Majapahit tersebut, merupakan bentuk penyesalan Raden Patah atas kekhilafannya yang terburu nafsu menyerang pasukan Girindrawadhana, sehingga banyak prajuritnya yang gugur.
Masjid yang selesai dibangun pada tahun 1479 M tersebut, ditandai dengan gambar bulus yang memiliki makna sengkala memet. Sengkala memet bergambar bulus ini, memiliki makna rasa keprihatinan Raden Patah karena kerajaan ayahnya direbut Girindrawadhana.
Sementara dalam catatan Riboet Darmosoetopo yang termuat dalam buku "700 Tahun Majapahit, Suatu Bungai Rampai" disebutkan, Babad Tanah Jawi menyebut, Majapahit runtuh akibat serangan Kerajaan Islam Demak. Hal ini ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi, bertahun 1.400 saka atau 1478 masehi.
Keberadaan kerajaan Majapahit tidak benar-benar lenyap usai adanya serangan Demak. Sejumlah prasasti menyebut, pada tahun 1486 masehi Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawardhana merupakan raja di wilayah Wilwatiktapura Janggala, dan Kadiri.
Berita China dari Dinasti Ming, menyebutkan adanya hubungan dengan raja Jawa, pada tahun 1499 masehi. Bahkan Gubernur Portugis di Malaka, Rui de Brito pada tahun 1514 masehi, menyebutkan ada dua raja "Kafir" yaitu raja Sunda, dan raja Jawa. Hal yang sama juga dituliskan oleh penulis Italia, Barbosa, yang menyebut raja 'kafir" di pedalaman Jawa, pada tahun 1518 masehi.
Baca juga: Menegangkan, Sensus Regsosek Diwarnai Aski Kejar-kejaran dengan Gelandangan
Barulah pada tahun 1522 masehi, seorang ahli Italia lainnya, Antonio Pigafeta menyebutkan bahwa penguasa di Majapahit adalah Pati Unus. Tulisan inilah yang mengisyaratkan bahwa kala itu Majapahit sudah masuk dalam kekuasaan kerajaan Demak.
Penakhlukan Majapahit oleh Demak, tak terlalu gamblang diceritakan dalam Seran Kanda, dan Serat Darmogandul. Riboet Darmosoetopo menduga, kematian Bhre Kertabhumi pada tahun 1478 masehi akibat serangan Dyah Ranawijaya, dijadikan sengkalan sirna ilang kertaning bumi dalam Babad Tanah Jawi.
(eyt)
Lihat Juga :