Guru Besar UNS Paparkan Informasi Jamu dalam Manuskrip Jawa Kuno
Senin, 06 Juli 2020 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karena itu, Javanologi UNS berusaha membuat kegiatan riset tentang pelacakan pengetahuan warisan serta publikasi melalui segala macam bentuk pertemuan akademik dan juga bentuk kegiatan tri dharma perguruan tinggi.
Indonesia merupakan negeri yang gemah ripah loh jinawi. Suatu idiom Jawa yang artinya negeri yang tenteram, makmur, dan subur tanahnya sehingga menjadi surga bagi tanaman obat.
Jejak rempah yang dimaksud, lanjutnya, merujuk pada data atau informasi yang terdapat dalam berbagai manuskrip Jawa kuno. "Kebiasaan meracik dan minum jamu telah ditemukan dalam relief Candi Borobudur tahun 825 M pada Kamadatu dan Rupadatu karena keduanya tingkatan 1 dan 2 yang mana kegiatannya masih duniawi. Dalam relief, menceritakan masyarakat masa lampau meracik dan minum jamu sebagai suatu kebiasaan," ujarnya.
(Baca juga: TMMD 108 Buka Jalur Mati 30 Tahun di Lampung Selatan )
Selain itu terdapat juga pada Candi Prambanan tahun 850 M, Penataran 1200 M, Sukuh 1437 M, Prasasti Tegalwangi (Masa Kerajaan Hindu dan Buddha pasca abad ke-15, dan lain sebagainya. Terdapat beberapa manuskrip Jawa kuno yang sedang dikerjakan oleh tim PUI Javanologi UNS, antara lain Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II, Serat Buk Jampi-Jampi Jawi, Kawruh Bab Jampi Jawi, Usada Keling, Tenung Saptawara, dan Serat Centhini.
Pada Serat Centhini, meskipun berisi banyak cerita sastra tetapi banyak didapatkan informasi mengenai jenis jamu dan cerita untuk memberdayakan jamu. "Saya kira optimisme muncul setelah membaca serat ini. Jamu-jamu tersebut terselip dalam cerita-cerita, contoh pada bagian pesta perkawinan itu ada sesaji dan jamu kekuatan. Kemudian pada Primbon Jampi Jawi juga terdapat banyak ciri yang menonjol yang tidak logis," urainya.
Indonesia merupakan negeri yang gemah ripah loh jinawi. Suatu idiom Jawa yang artinya negeri yang tenteram, makmur, dan subur tanahnya sehingga menjadi surga bagi tanaman obat.
Jejak rempah yang dimaksud, lanjutnya, merujuk pada data atau informasi yang terdapat dalam berbagai manuskrip Jawa kuno. "Kebiasaan meracik dan minum jamu telah ditemukan dalam relief Candi Borobudur tahun 825 M pada Kamadatu dan Rupadatu karena keduanya tingkatan 1 dan 2 yang mana kegiatannya masih duniawi. Dalam relief, menceritakan masyarakat masa lampau meracik dan minum jamu sebagai suatu kebiasaan," ujarnya.
(Baca juga: TMMD 108 Buka Jalur Mati 30 Tahun di Lampung Selatan )
Selain itu terdapat juga pada Candi Prambanan tahun 850 M, Penataran 1200 M, Sukuh 1437 M, Prasasti Tegalwangi (Masa Kerajaan Hindu dan Buddha pasca abad ke-15, dan lain sebagainya. Terdapat beberapa manuskrip Jawa kuno yang sedang dikerjakan oleh tim PUI Javanologi UNS, antara lain Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II, Serat Buk Jampi-Jampi Jawi, Kawruh Bab Jampi Jawi, Usada Keling, Tenung Saptawara, dan Serat Centhini.
Pada Serat Centhini, meskipun berisi banyak cerita sastra tetapi banyak didapatkan informasi mengenai jenis jamu dan cerita untuk memberdayakan jamu. "Saya kira optimisme muncul setelah membaca serat ini. Jamu-jamu tersebut terselip dalam cerita-cerita, contoh pada bagian pesta perkawinan itu ada sesaji dan jamu kekuatan. Kemudian pada Primbon Jampi Jawi juga terdapat banyak ciri yang menonjol yang tidak logis," urainya.
Lihat Juga :