Webinar 'Krisis Iklim', Efek Rumah Kaca Turun Drastis Selama COVID-19
Sabtu, 04 Juli 2020 - 17:10 WIB
loading...
A
A
A
Posisi Indonesia di dunia internasional terkait isu climate change sangat strategis karena Indonesia punya potensi untuk menekan krisis iklim.
"Indonesia sangat unik karena kita punya hutan tropis yang besar dan garis pantai yang panjang. Keduanya mampu menyerap karbon sangat tinggi sehingga bisa menekan krisis iklim," ujar Tri.
Ratnasari Wargahadibrata dari Kemen LHK menuturkan, negara-negara di Asia Pasifik menyumbang hingga 40 persen emisi gas rumah kaca. Namun negara-negara maju paling besar menyumbang emisi gas kaca hingga 60 persen.
Krisis iklim ini, tutur Ratnasari, dampaknya sudah terasa seperti musim panas berkepanjangan sehingga berdampak pada kekeringan. Musim hujan lebih panjang sehingga memicu banjir dan tanah longsor.
"Dampak lain, air tanah terkontaminasi air laut (intrusi air laut) karena permukaan laut meningkat. Itu dampak krisis iklim yang sudah dan sedang kira rasakan. Jadi, climate change itu bukan hoax (kabar bohong)," tutur Ratnasari.
Ratnasari mengungkapkan, salah satu kontributor terbesar peningkatan emisi gas rumah kaca di dunia adalah penggunaan fosil fuel atau bahan bakar fosil yang jadi bahan bakar kendaraan. Di masa pandemi, emisi gas rumah kaca akibat kendaraan bemotor berkurang.
"Saat pandemi COVID-19, emisi gas rumah kaca ini berkurang signifikan terutama di sektor transportasi karena orang-orang di rumah, tidak di luar. Penurunannya mencapai 13-16 persen. Hanya memang, konsumsi energi tidak turun signifikan karena orang di rumah menggunakan listrik untuk kebutuhan masing-masing," ungkap dia.
"Indonesia sangat unik karena kita punya hutan tropis yang besar dan garis pantai yang panjang. Keduanya mampu menyerap karbon sangat tinggi sehingga bisa menekan krisis iklim," ujar Tri.
Ratnasari Wargahadibrata dari Kemen LHK menuturkan, negara-negara di Asia Pasifik menyumbang hingga 40 persen emisi gas rumah kaca. Namun negara-negara maju paling besar menyumbang emisi gas kaca hingga 60 persen.
Krisis iklim ini, tutur Ratnasari, dampaknya sudah terasa seperti musim panas berkepanjangan sehingga berdampak pada kekeringan. Musim hujan lebih panjang sehingga memicu banjir dan tanah longsor.
"Dampak lain, air tanah terkontaminasi air laut (intrusi air laut) karena permukaan laut meningkat. Itu dampak krisis iklim yang sudah dan sedang kira rasakan. Jadi, climate change itu bukan hoax (kabar bohong)," tutur Ratnasari.
Ratnasari mengungkapkan, salah satu kontributor terbesar peningkatan emisi gas rumah kaca di dunia adalah penggunaan fosil fuel atau bahan bakar fosil yang jadi bahan bakar kendaraan. Di masa pandemi, emisi gas rumah kaca akibat kendaraan bemotor berkurang.
"Saat pandemi COVID-19, emisi gas rumah kaca ini berkurang signifikan terutama di sektor transportasi karena orang-orang di rumah, tidak di luar. Penurunannya mencapai 13-16 persen. Hanya memang, konsumsi energi tidak turun signifikan karena orang di rumah menggunakan listrik untuk kebutuhan masing-masing," ungkap dia.
Lihat Juga :