TGB Zainul Majdi Sebut Kekayaan Terbesar Indonesia adalah Persatuan
Sabtu, 10 September 2022 - 14:55 WIB
loading...
Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo, TGB Muhammad Zainul Majdi saat Dialog Kebangsaan Lintas Tokoh yang digelar di Hotel JW Marriott, Medan, Sumut, Jumat (9/9/2022) malam. Foto/Ist
A
A
A
MEDAN - Kekayaan Indonesia sebagai sebuah bangsa adalah persatuan dan kebersamaan. Bukan sumber daya alam yang meski melimpah namun pasti akan habis pada waktunya.
Demikian dikatakan Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo, Tuan Guru Bajar (TGB) Muhammad Zainul Majdi saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Lintas Tokoh yang digelar di Hotel JW Marriott, Medan, Jumat (9/9/2022) malam.
Hadir dalam dialog itu sejumlah tokoh pergerakan mahasiswa, tokoh pemuda dan para aktivis yang ada di Kota Medan.
TGB menyebutkan, Indonesia dibangun oleh para bapak bangsa (founding father) yang berasal dari beragam latar belakang. Baik suku, agama, kelompok maupun ideologi. Namun mereka dipersatukan dalam rasa senasib sepenanggungan, masa lalu kolektif sebagai suatu bangsa yang pernah dijajah.
"Ada Sutan Syarif di Kalimantan, Cut Nyak Dhien di Aceh. Kemudian Supomo di Jawa dan Agus Salim yang ada di Sumatera. Mereka ini mazhab pikirannya berbeda-beda. Namun kesamaan nasib dan masa lalu kolektif itu yang membuat mereka bersatu," kata TGB.
Kemudian persatuan Indonesia, kata TGB, dibangun atas keterikatan dengan perasaan kehendak yang sama untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Lalu keinginan untuk meretas jalan guna membangun masyarakat bersama.
Demikian dikatakan Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo, Tuan Guru Bajar (TGB) Muhammad Zainul Majdi saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Lintas Tokoh yang digelar di Hotel JW Marriott, Medan, Jumat (9/9/2022) malam.
Hadir dalam dialog itu sejumlah tokoh pergerakan mahasiswa, tokoh pemuda dan para aktivis yang ada di Kota Medan.
TGB menyebutkan, Indonesia dibangun oleh para bapak bangsa (founding father) yang berasal dari beragam latar belakang. Baik suku, agama, kelompok maupun ideologi. Namun mereka dipersatukan dalam rasa senasib sepenanggungan, masa lalu kolektif sebagai suatu bangsa yang pernah dijajah.
"Ada Sutan Syarif di Kalimantan, Cut Nyak Dhien di Aceh. Kemudian Supomo di Jawa dan Agus Salim yang ada di Sumatera. Mereka ini mazhab pikirannya berbeda-beda. Namun kesamaan nasib dan masa lalu kolektif itu yang membuat mereka bersatu," kata TGB.
Kemudian persatuan Indonesia, kata TGB, dibangun atas keterikatan dengan perasaan kehendak yang sama untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Lalu keinginan untuk meretas jalan guna membangun masyarakat bersama.
Lihat Juga :