Misteri Kesaktian dan Keberadaan Keris Nagasara Sabuk Inten
Selasa, 06 September 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Konon, apabila Nagasasra berjalan atau merayap, maka langkahnya menggetarkan permukaan bumi dan mengakibatkan banyak gunung terancam meletus. Suayu hari Nagasasra hendak mencari ayahnya dan bertanya kepada ibunya, "lbu, tunjukkan di mana gerangan ayahku berada? Mengapa aku tidak seperti manusia biasa. Aku akan mencari ayah dan meminta padanya agar tubuhku dirubah seperti manusia biasa, " katanya.
Ibunya tidak menjawab, karena dia sendiri tak dapat menjelaskan di mana keberadaan ayah dari anaknya. Karena tidak mendapat jawaban, Nagasasra sangat sedih. Ia lemudian pergi mencari ayahnya. Setelah sekian lama mencari, dia akhir menemukan ayahnya di sebuah gunung berapi yang berada di tepi pantai.
Melihat sosok anaknya, Manggir terkejut. Ayahnya merasa sangat malu dan enggan mengakui Nogososro sebagai anaknya. Meski demikian, dia tidak secara terang-terangan menyatakan hal itu. Ia kemudian bersiasat dengan menyuruh Nagasasra melilitkan tubuhnya ke sekeliling gunung tempatnya bertapa.
Manggi mentakan, dirinya akan mengakui Nagasasra sebagai anaknya jika ekornya bisa menyentuh kepalanya. Ujian itu berat bagi Nagasasra, karena kenyataannya, kepala dan ekornya tidak bisa saling menyentuh. Meski demikian, Nagasasra terus berusaha agar kepalanya bisa menyentuh ekor. Nagasasra lalu menjulurkan lidahnya agar dapat mencapai ekor. Setelah sudah payah, usahanya Nagasasra berhasil.
Namun, Manggir tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia menilai apa yang dicapai Nagasasra tidak sah alias curang. Tidak hanya itu. Manggir lalu mencabut kerisnya, membabat lidah Nagasasra. Lidah anaknya terputus. Namun yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Lidah Nagasasra yang terputus mengeluarkan api seperti petir yang sangat dahsyat. Seluruh Pulau Jawa bergoncang. Lidah Nagasasra kekudian menjadi keris berbentuk lidah naga.
Keris ini menjadi keris pusaka. Saat Majapahit runtuh, keris itu dibawa ke Keraton Demak oleh Raden Patah. Lalu saat Demak Demak runtuh, keris pusaka itu dibawa Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Raja Pajang. Kemudian keris dipakai Penembahan Senopati dan seterusnya keris tersebut berada di bawah penguasaan raja-raja Mataram dan keturunannya sampai sekarang.
Ibunya tidak menjawab, karena dia sendiri tak dapat menjelaskan di mana keberadaan ayah dari anaknya. Karena tidak mendapat jawaban, Nagasasra sangat sedih. Ia lemudian pergi mencari ayahnya. Setelah sekian lama mencari, dia akhir menemukan ayahnya di sebuah gunung berapi yang berada di tepi pantai.
Melihat sosok anaknya, Manggir terkejut. Ayahnya merasa sangat malu dan enggan mengakui Nogososro sebagai anaknya. Meski demikian, dia tidak secara terang-terangan menyatakan hal itu. Ia kemudian bersiasat dengan menyuruh Nagasasra melilitkan tubuhnya ke sekeliling gunung tempatnya bertapa.
Manggi mentakan, dirinya akan mengakui Nagasasra sebagai anaknya jika ekornya bisa menyentuh kepalanya. Ujian itu berat bagi Nagasasra, karena kenyataannya, kepala dan ekornya tidak bisa saling menyentuh. Meski demikian, Nagasasra terus berusaha agar kepalanya bisa menyentuh ekor. Nagasasra lalu menjulurkan lidahnya agar dapat mencapai ekor. Setelah sudah payah, usahanya Nagasasra berhasil.
Namun, Manggir tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia menilai apa yang dicapai Nagasasra tidak sah alias curang. Tidak hanya itu. Manggir lalu mencabut kerisnya, membabat lidah Nagasasra. Lidah anaknya terputus. Namun yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Lidah Nagasasra yang terputus mengeluarkan api seperti petir yang sangat dahsyat. Seluruh Pulau Jawa bergoncang. Lidah Nagasasra kekudian menjadi keris berbentuk lidah naga.
Keris ini menjadi keris pusaka. Saat Majapahit runtuh, keris itu dibawa ke Keraton Demak oleh Raden Patah. Lalu saat Demak Demak runtuh, keris pusaka itu dibawa Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Raja Pajang. Kemudian keris dipakai Penembahan Senopati dan seterusnya keris tersebut berada di bawah penguasaan raja-raja Mataram dan keturunannya sampai sekarang.
(don)
Lihat Juga :