Tanggung Renteng di Jalur Gotong Royong
Rabu, 31 Agustus 2022 - 17:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Pemberontahan Jayakatwang, Hancurkan Singasari dan Bunuh Kertanegara saat Pesta Penuh Nafsu
"Saat kita outreach, keluarganya memang tidak ada. Jadi beliau tinggal seorang diri. Beliaunya juga sekarang agak susah untuk diajak berbicara, sudah ada BPJS juga yang nanti bisa mencover semua perawatannya," jelasnya.
Bahkan, pihaknya juga menawarkan kepada Nenek Kartiyem untuk dirawat dan tinggal Griya Werdha. Ia bersyukur, nenek tersebut bersedia untuk dirawat di sana serta mendapatkan perawatan yang layak. "Sebelum kita antar Nenek Kartiyem ke Griya Werdha, langsung dapat BPJS juga. Dan Puskesmas telah memeriksa kesehatannya dan alhamdulilah terus membaik. Sekarang ini beliau sudah tinggal di Griya Werdha," sambungnya.
Setali tiga uang, seorang balita di Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto Kota Surabaya, didiagnosis mengalami masalah dengan pendengaran. Hasil pemeriksaan di rumah sakit (RS), balita bernama Muhammad Alfarizi (2), harus menggunakan alat bantu dengar.
Namun, karena harga alat bantu dengar yang mahal, pihak keluarga tidak sanggup untuk membeli. Apalagi, sang balita kini harus diasuh oleh sang nenek, karena ibundanya sudah meninggal beberapa waktu lalu.
Gotong royong dalam membantu antar sesama terlihat jelas. Balita dari keluarga miskin itu langsung mendapatkan intervensi. Pemeriksaan langsung dilakukan serta didaftarkan BPJS.
Baca juga: Kisah Aji Muhammad Idris, Sultan Kutai Kartanegara yang Gigih Melawan Penjajah Belanda hingga Titik Darah Penghabisan
Camat Simokerto Kota Surabaya, Deddy Sjahrial Kusuma menuturkan, bahwa pihaknya sudah melihat langsung balita itu. Bahkan, ia bersama jajaran kelurahan dan Puskesmas juga turut serta mengantar balita dan neneknya ke RSUD dr Soewandhie agar dilakukan pemeriksaan lebih intensif.
"Jadi sudah ditangani RSUD dr Soewandhie dan hasil pemeriksaan memang ada gangguan dengan pendengaran. Besok kembali lagi ke rumah sakit untuk dilakukan pengukuran alat bantu dengar. Nanti, setelah itu tiga minggu alatnya datang, karena harus pesan dulu dari Jakarta," kata Deddy.
Balita tersebut, katanya, tercatat ke dalam Kartu Keluarga (KK) Sulikah atau sang nenek di alamat RT 12 RW 05, Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto. Sedangkan alamat ayah dari balita itu, masih berada di Perak. "Nah, balita ini sudah masuk ke KK neneknya. Ini dulu memang rencana mau dipindah ke alamat Simolawang, tapi kemudian belum sampai ibunda si balita meninggal," katanya.
Makanya kemudian, pihaknya juga melakukan intervensi terkait administrasi kependudukan balita tersebut. Ini dilakukan supaya intervensi ke depannya dapat lebih mudah dilakukan pemkot. "Kita juga bantu urus KK-nya, saya minta ayahnya agar pindah alamat dari Perak ke Simolawang. Karena kalau di Simolawang rumah sendiri, peninggalan orang tua, jadi bisa langsung terbantu dengan adanya BPJS," jelasnya.
"Saat kita outreach, keluarganya memang tidak ada. Jadi beliau tinggal seorang diri. Beliaunya juga sekarang agak susah untuk diajak berbicara, sudah ada BPJS juga yang nanti bisa mencover semua perawatannya," jelasnya.
Bahkan, pihaknya juga menawarkan kepada Nenek Kartiyem untuk dirawat dan tinggal Griya Werdha. Ia bersyukur, nenek tersebut bersedia untuk dirawat di sana serta mendapatkan perawatan yang layak. "Sebelum kita antar Nenek Kartiyem ke Griya Werdha, langsung dapat BPJS juga. Dan Puskesmas telah memeriksa kesehatannya dan alhamdulilah terus membaik. Sekarang ini beliau sudah tinggal di Griya Werdha," sambungnya.
Setali tiga uang, seorang balita di Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto Kota Surabaya, didiagnosis mengalami masalah dengan pendengaran. Hasil pemeriksaan di rumah sakit (RS), balita bernama Muhammad Alfarizi (2), harus menggunakan alat bantu dengar.
Namun, karena harga alat bantu dengar yang mahal, pihak keluarga tidak sanggup untuk membeli. Apalagi, sang balita kini harus diasuh oleh sang nenek, karena ibundanya sudah meninggal beberapa waktu lalu.
Gotong royong dalam membantu antar sesama terlihat jelas. Balita dari keluarga miskin itu langsung mendapatkan intervensi. Pemeriksaan langsung dilakukan serta didaftarkan BPJS.
Baca juga: Kisah Aji Muhammad Idris, Sultan Kutai Kartanegara yang Gigih Melawan Penjajah Belanda hingga Titik Darah Penghabisan
Camat Simokerto Kota Surabaya, Deddy Sjahrial Kusuma menuturkan, bahwa pihaknya sudah melihat langsung balita itu. Bahkan, ia bersama jajaran kelurahan dan Puskesmas juga turut serta mengantar balita dan neneknya ke RSUD dr Soewandhie agar dilakukan pemeriksaan lebih intensif.
"Jadi sudah ditangani RSUD dr Soewandhie dan hasil pemeriksaan memang ada gangguan dengan pendengaran. Besok kembali lagi ke rumah sakit untuk dilakukan pengukuran alat bantu dengar. Nanti, setelah itu tiga minggu alatnya datang, karena harus pesan dulu dari Jakarta," kata Deddy.
Balita tersebut, katanya, tercatat ke dalam Kartu Keluarga (KK) Sulikah atau sang nenek di alamat RT 12 RW 05, Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto. Sedangkan alamat ayah dari balita itu, masih berada di Perak. "Nah, balita ini sudah masuk ke KK neneknya. Ini dulu memang rencana mau dipindah ke alamat Simolawang, tapi kemudian belum sampai ibunda si balita meninggal," katanya.
Makanya kemudian, pihaknya juga melakukan intervensi terkait administrasi kependudukan balita tersebut. Ini dilakukan supaya intervensi ke depannya dapat lebih mudah dilakukan pemkot. "Kita juga bantu urus KK-nya, saya minta ayahnya agar pindah alamat dari Perak ke Simolawang. Karena kalau di Simolawang rumah sendiri, peninggalan orang tua, jadi bisa langsung terbantu dengan adanya BPJS," jelasnya.
Lihat Juga :