Tanggung Renteng di Jalur Gotong Royong
Rabu, 31 Agustus 2022 - 17:15 WIB
loading...
Kartiyem langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit setelah diketahui menderita stroke ringan. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A
A
A
Tradisi gotong royong menjadi warisan yang terus dirawat di Indonesia. Bibit kebaikan untuk bisa saling membantu dalam kebaikan, memancarkan harapan untuk menjaga asa dan menjalani kehidupan dengan nyaman dan aman.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Beri Perlindungan 22.000 Pekerja Rentan Bank Jatim
Termasuk langkah tanggung renteng, mereka berbagi pada yang membutuhkan dan memberikan manfaat. Para warga yang ikut BPJS di jalur mandiri, bisa memberikan kesempatan bagi warga dari Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Suara batuk dari balik dinding terdengar riuh. Dinding berwarna coklat kehitaman yang sudah mengelupas dan beberapa pilar retak. Di Jalan Teluk Nibung Barat 8/37, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, harus dilalui melalui gang sempit yang membujur sampai ke tepian jalan.
Baca juga: Kisah Serangan Berdarah Raden Wijaya, Hancurkan 18.000 Pasukan Mongol
Kartiyem (63), duduk di peraduannya. Mengenakan batik berwarna merah dengan peluh yang tersirat dari dagunya. Kompornya masih menyala, di balik tirai kecil untuk menutupi sebagian rumah yang sudah tak memiliki atap. Sebagian dinding rumah juga sudah berwarna hitam akibat kebulan asap di dapur yang memang tak memiliki ruang dan jalan keluar. "Mau buat teh hangat," katanya, Rabu (31/8/2022).
Dengan lirih ia mencoba untuk memulai pembicaraan, sesekali mengeser tempat duduknya. Cuaca Surabaya yang panas membuat rumahnya semakin mendidih, beberapa kali ia harus menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.
Ia hidup sebatang kara. Sebab, suaminya telah meninggal dunia. Kartiyem tinggal sendiri di rumah. Tanpa ada sanak saudara atau keluarga. Bahkan sejak tiga tahun yang lalu, Kartiyem didiagnosa dokter memiliki penyakit stroke ringan. Usianya yang sudah melebihi setengah abad, Kartiyem tak lagi mampu bekerja.
Sementara untuk makan sehari-harinya, perempuan kelahiran Kediri tahun 1959 itu mendapatkan perhatian dari para tetangga kanan dan kirinya. Dengan sisa tenaga, Kartiyem terus menahan rasa sakit. Ia sempat menahan diri untuk tidak ke rumah sakit, takut biaya yang mahal dan dia tak bisa membayar biaya perawatan.
Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal mendapatkan laporan tentang kondisi Kartiyem, dari hasil outreach ke rumah. Dengan melihat kondisinya, Nenek Kartiyem langsung mendapatkan intervensi bantuan kesehatan dari pemerintah berupa BPJS PBI. Juga, Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2021. Namun demikian, karena melihat usianya yang sudah lansia, tentu saja harus ada orang yang setiap hari merawatnya.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Beri Perlindungan 22.000 Pekerja Rentan Bank Jatim
Termasuk langkah tanggung renteng, mereka berbagi pada yang membutuhkan dan memberikan manfaat. Para warga yang ikut BPJS di jalur mandiri, bisa memberikan kesempatan bagi warga dari Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Suara batuk dari balik dinding terdengar riuh. Dinding berwarna coklat kehitaman yang sudah mengelupas dan beberapa pilar retak. Di Jalan Teluk Nibung Barat 8/37, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, harus dilalui melalui gang sempit yang membujur sampai ke tepian jalan.
Baca juga: Kisah Serangan Berdarah Raden Wijaya, Hancurkan 18.000 Pasukan Mongol
Kartiyem (63), duduk di peraduannya. Mengenakan batik berwarna merah dengan peluh yang tersirat dari dagunya. Kompornya masih menyala, di balik tirai kecil untuk menutupi sebagian rumah yang sudah tak memiliki atap. Sebagian dinding rumah juga sudah berwarna hitam akibat kebulan asap di dapur yang memang tak memiliki ruang dan jalan keluar. "Mau buat teh hangat," katanya, Rabu (31/8/2022).
Dengan lirih ia mencoba untuk memulai pembicaraan, sesekali mengeser tempat duduknya. Cuaca Surabaya yang panas membuat rumahnya semakin mendidih, beberapa kali ia harus menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.
Ia hidup sebatang kara. Sebab, suaminya telah meninggal dunia. Kartiyem tinggal sendiri di rumah. Tanpa ada sanak saudara atau keluarga. Bahkan sejak tiga tahun yang lalu, Kartiyem didiagnosa dokter memiliki penyakit stroke ringan. Usianya yang sudah melebihi setengah abad, Kartiyem tak lagi mampu bekerja.
Sementara untuk makan sehari-harinya, perempuan kelahiran Kediri tahun 1959 itu mendapatkan perhatian dari para tetangga kanan dan kirinya. Dengan sisa tenaga, Kartiyem terus menahan rasa sakit. Ia sempat menahan diri untuk tidak ke rumah sakit, takut biaya yang mahal dan dia tak bisa membayar biaya perawatan.
Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal mendapatkan laporan tentang kondisi Kartiyem, dari hasil outreach ke rumah. Dengan melihat kondisinya, Nenek Kartiyem langsung mendapatkan intervensi bantuan kesehatan dari pemerintah berupa BPJS PBI. Juga, Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2021. Namun demikian, karena melihat usianya yang sudah lansia, tentu saja harus ada orang yang setiap hari merawatnya.
Lihat Juga :