Kisah Siasat Raja Mataram Utus Wanita Cantik untuk Taklukkan Madiun
Senin, 15 Agustus 2022 - 04:52 WIB
loading...
A
A
A
Sementara dilansir dari madiunkab.go.id, tentang sejarah Madiun, disebutkan pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya (sebelum diganti nama menjadi Madiun), namun Mataram menderita kekalahan berat.
Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya, hingga membuat Adipati Rangga Jumena kabur ke Surabaya. Sementara istana Purabaya hanya dipertahankan oleh putri, Adipati Rangga Jumena, Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kecil pengawalnya.
Perang tanding terjadi antara Panembahan Senopati, dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan di sekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun). Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Panembahan Senopati, dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Panembahan Senopati.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Raden Ayu Retno Djumilah akhirnya diboyong ke istana Mataram di Plered (Jogjakarta). Sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut, maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi nama Purbaya diganti menjadi Madiun.
Sebelum Panembahan Senopati menakhlukkan Madiun, dalam bukunya Peri Mardiono menyebutkan, Panembahan Senopati mengerahkan pasukan Kerajaan Mataram secara besar-besaran, untuk menaklukkan Jawa bagian timur.
Pasukan Kerajaan Mataram itu, bergerak menuju Surabaya, melalui Blora. Pasukan besar itu, sempat beristirahat di wilayah Jipang. Pergerakan pasukan besar dari Mataram ini, sudah diketahui oleh telik sandi Surabaya. Adipati Surabaya, dengan cekatan mempersiapkan kekuatan terbesarnya, untuk menghadapi serangan dari Kerajaan Mataram.
Adipati Surabaya mengumpulkan seluruh bupati yang ada di bawahnya, mulai Bupati Tuban, Lamongan, Gresik, Lumajang, Kertasana, Malang, Pasuruan, Kediri, Blitar, Pringgabaya, Lasem, Madura, Sumenep, Pakacangan, dan Pragunan.
Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya, hingga membuat Adipati Rangga Jumena kabur ke Surabaya. Sementara istana Purabaya hanya dipertahankan oleh putri, Adipati Rangga Jumena, Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kecil pengawalnya.
Perang tanding terjadi antara Panembahan Senopati, dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan di sekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun). Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Panembahan Senopati, dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Panembahan Senopati.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Raden Ayu Retno Djumilah akhirnya diboyong ke istana Mataram di Plered (Jogjakarta). Sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut, maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi nama Purbaya diganti menjadi Madiun.
Sebelum Panembahan Senopati menakhlukkan Madiun, dalam bukunya Peri Mardiono menyebutkan, Panembahan Senopati mengerahkan pasukan Kerajaan Mataram secara besar-besaran, untuk menaklukkan Jawa bagian timur.
Pasukan Kerajaan Mataram itu, bergerak menuju Surabaya, melalui Blora. Pasukan besar itu, sempat beristirahat di wilayah Jipang. Pergerakan pasukan besar dari Mataram ini, sudah diketahui oleh telik sandi Surabaya. Adipati Surabaya, dengan cekatan mempersiapkan kekuatan terbesarnya, untuk menghadapi serangan dari Kerajaan Mataram.
Adipati Surabaya mengumpulkan seluruh bupati yang ada di bawahnya, mulai Bupati Tuban, Lamongan, Gresik, Lumajang, Kertasana, Malang, Pasuruan, Kediri, Blitar, Pringgabaya, Lasem, Madura, Sumenep, Pakacangan, dan Pragunan.
Lihat Juga :