Rumah Kayu di Pacitan, Saksi Bisu Perang Gerilya Jenderal Sudirman

Senin, 15 Agustus 2022 - 03:19 WIB
loading...
Rumah Kayu di Pacitan, Saksi Bisu Perang Gerilya Jenderal Sudirman
Monumen Jenderal Sudirman di Kabupaten Pacitan. Foto/iNews TV/Ahmad Subekhi
A A A
PACITAN - Patung Jenderal Sudirman setinggi delapan meter, berdiri kokoh di atas hamparan luas di Dusun Sobo, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Kawasan tersebut, menjadi salah satu titik sejarah perang gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman.

Baca juga: Jenderal Sudirman, Panglima Besar yang Pimpin Perang Gerilya dengan 1 Paru-paru

Sejumlah wisatawan begitu menikmati kawasan monumen Jenderal Sudirman, yang begitu asri tersebut. Di dusun yang terpencil tersebut, menyimpan sejarah penting perjalanan bangsa Indonesia, untuk terbebas dari belenggu penjajahan.



Di dekat patung besar Jenderal Sudirman, terdapat rumah kayu sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan para gerilyawan Indonesia, menghadapi agresi militer Belanda. Di rumah kayu tersebut, Jenderal Sudirman memimpin langsung perang gerilya.

Baca juga: Jelang Peringatan Kemeredekaan, Polisi Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih di Pulau Terluar

Darah dan air mata, ditumpahkan para pejuang bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan. Jejak sejarah itu, terlihat dalam diorama yang menggambarkan perjuangan Jenderal Sudirman bersama rakyat.

Untuk mencapai patung Jenderal Sudirman setinggi delapan meter tersebut, pengunjung harus melintasi 70 anak tangga. Tangga pertama berjumlah 45 anak tangga, lalu berikutnya delapan anak tangga, dan terakhir sebanyak 17 anak tangga.

Rumah Kayu di Pacitan, Saksi Bisu Perang Gerilya Jenderal Sudirman


Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya di Dusun Sobo, selama 97 hari lamanya. Rumah kayu yang masih terjaga keasliannya tersebut, menjadi saksi bagiamana jenderal besar ini beradu strategi melawan pasukan Belanda, yang serba canggih.

Baca juga: Berteduh di Warung, 2 Warga Cisolok Sukabumi Nyaris Tersambar Petir

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta, yang menggemparkan dunia karena mampu melumpuhkan pasukan Belanda, juga tercetus saat Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya di rumah sederhana tersebut, yang terus berkomunikasi dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Rumah kayu sederhana ini, ditempati Jenderal Sudirman sejak 1 April 1949, dan baru ditinggalkan oleh Panglima TNI pertama ini, pada 7 Juli 1949. "Monumen Jenderal Sudirman ini, dibangun oleh keluarga almarhum Roto Suwarno, salah satu pengawal Jenderal Sudirman selama perang gerilya," ujar Camat Nawangan, Sukarman.

Baca juga: Belasan Rumah Warga di Pangkalan Bun Ludes Terbakar, 3 Petugas Pemadam Pingsan

Sukarman menyebutkan, monumen J enderal Sudirman ini kebali direnovasi dan diresmikan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Desember 2008. "Monumen yang menempati lahan seluas 10 hektare ini, selalu menjadi jujukan wisatawan," ungkapnya.

Salah seorang wisatawan, Zaenal Juki mengaku, sengaja datang ke monumen Jenderal Sudirman untuk bisa melihat jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia. "Monumen ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mempertahankan kemerdekaan Indonesia," tegasnya.
(eyt)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1559 seconds (10.101#12.26)