Legenda Selat Sunda yang Terbentuk dari Air Kendi Pusaka Prabu Rakata

Selasa, 09 Agustus 2022 - 05:01 WIB
loading...
Legenda Selat Sunda...
Foto Geologinesia.com
A A A
JAKARTA - Selat Sunda yang memisahkan daratan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, sejak dulu kala sudah dikenal warga dunia. Para pelaut dan pedagang dari berbagai belahan dunia tidak hanya mengenal Selat Malaka, tapi juga Selat Sunda.



Bahkan, ketenaran Selat Sunda lebih dari Selat Malaka. Sebab, di tengah Selat Sunda bertengger Gunung Krakatau, gunung berapi aktif yang dikenal dunia karena erupsinya. Namun, yang mungkin tidak dikenal warga dunia adalah cerita legenda tentang asal-muasal selat yang menghubungkan Laut Hindia dan Laut Jawa itu. Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi selama 41 Detik, Semburkan Abu Vulkanik

Dihimpun dari berbagai sumber, asal usul Selat Sunda berasal dari kerajaan kuno. Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu kala hiduplah seorang raja dengan wilayah kekuasaan sebuah daratan luas. Pada masa itu, Pulau Jawa dan Pulau Sumatera masih satu daratan, belum ada selat yang memisahkan kedua pulau tersebut.

Disebutkan bahwa kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Rakata. Raja yang adil dan bijaksana itu memiliki dua orang putra, yaitu Raden Sundana (sulung) dan Raden Tapabaruna adiknya. Merasa usianya semakin tua dan saatnya kerjaan diwariskan kepada anaknya, Prabu Rakata lantas mambagi kerajaan itu kepada kedua putranya.

Wilayah ke arah timur diberikan kepasa Raden Sundana. Sedangkan Raden Tapabaruna mendapat wilayah kekuasaan ke arah barat. Kedua kakak beradik itu pun menerima keputusan ayah mereka, Prabu Rakata. Setelah pembagian itu, sang ayah merasa lega karena tugasnya selesai.

Selanjutnya, Prabu Rakata mengisi sisa hidupnya dengan bertapa. Ia menyepi di tempat-tempat hening, jauh dari keramaian.
Tak ada perbekalan yang dibawa, selain hanya membawa sebuah kendi atau guci pusaka. Bertahun-tahun ia bertapa di gunung yang sepi.

Namun, suatu waktu keheningannya terusik langkah kaki yang mendekatinya. Ternyata yang mendekati dia adalah seorang abdi kerajaan. Bukan kabar baik yang dibawa abdi kerajaan tapi kabar duka. Sebab tengah berlangsung peperangan saudara, antara kedua anaknya.

Raden Sundana telah menyerang kerajaan adiknya, yaitu Raden Tapabaruna. Pemicunya, Raden Sundana tidak puas dengan keputusan yang diberikan ayahandanya. Tentu Prabu Rakata terkejut mendengar berita itu. Ia pun kembali dengan penuh amarah.

Mengetahui ayah mereka datang, kedua putranya segera menghentikan peperangan. Di hadapan kedua putranya, Prabu Rakata tampak sangat marah. Namun, untuk mencegah terjadi lagi peperangan, ia melakukan sesuatu untuk kedua putranya.

Dengan kesaktian yang dia miliki, sekali menghentakkan kaki ke bumi, Prabu sudah berada di pantai, lalu mengisi kendi pusaka dengan air laut. Lalu, ia kembali ke tempat di mana kedua putranya berdiri terpaku.

Prabu Rakata lalu menyiramkan air laut dalam guci ke permukaan bumi di antara kedua putranya yang berdiri berhadapan, mengarah ke utara dan selatan. Setelah air laut habis dituang, ditaruhnya gucinya di tengah-tengah tempat yang disiram dengan air laut tersebut.

Apa yang terjadi setelah itu? Dimulai dari guci itu, daratan mulai retak dan terbelah. Bumi bergetar dengan hebatnya, terus bergetar hingga membentuk sebuah celah dalam dan lebar. Baca juga: Gelombang Tinggi, Pengguna Jasa Penyeberangan Merak-Bakauheni Diminta Waspada

Retakan bumi terus menjalar ke arah selatan hingga menemui Lautan Hindia dan ke utara hingga menemui Laut Jawa. Retakan itu kemudian diisi kedua air laut Hindia dan Jawa. Maka sejak itu terjadilah Selat Sunda. Sementara kendi pusaka milik Prabu Rakata berubah jadi gunung dengan nama Rakata yang kini lebih dikenal Gunung Krakatau.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Status Gunung Anak Krakatau...
Status Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, Masyarakat Dilarang Mendekat Radius 3 Km
Aktivitas Gunung Anak...
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada
1,6 Ton Garam Ditebar...
1,6 Ton Garam Ditebar di Langit Selat Sunda untuk Modifikasi Cuaca di Jakarta
Sasar Timur Jakarta...
Sasar Timur Jakarta dan Trans Jawa, Perusahaan Logistik Ini Tangani Ekspedisi 150 Ton per Hari
Profil Karaeng Galesong,...
Profil Karaeng Galesong, Putra Sultan Hasanuddin yang Membantu Perlawanan Rakyat Jawa Terhadap Belanda
Asal Muasal Penemuan...
Asal Muasal Penemuan Nagarakretagama yang Gambarkan Tiga Kerajaan Besar di Jawa
Mengapa Orang Jawa Menyebut...
Mengapa Orang Jawa Menyebut Bulan Syaban dengan Kata Ruwah?
BRIN Siap Selamatkan...
BRIN Siap Selamatkan Pantura Jawa lewat Giant Sea Wall
Pevita Pearce Pamer...
Pevita Pearce Pamer Foto Bareng Ji Chang Wook di Prambanan, Kompak Berbusana Adat Jawa
Rekomendasi
Bolehkah Mengejar Jabatan...
Bolehkah Mengejar Jabatan dalam Islam? Ini Penjelasan Hadis dan Kisah Nabi Yusuf AS
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
Jadi Tersangka Korupsi...
Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU, Febrie Adriansyah Belum Ditahan
Berita Terkini
Jawab Kebutuhan Industri,...
Jawab Kebutuhan Industri, UMB Kenalkan Profesi Insinyur pada Siswa SMK
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan...
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan Sangihe, Simak Hasil Analisis BMKG
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Perindo Apresiasi Inisiatif...
Perindo Apresiasi Inisiatif Danantara Bangun Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Denpasar Raya
Peningkatan Kualitas...
Peningkatan Kualitas SDM Jadi Syarat Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global
Terowongan Arah Utara...
Terowongan Arah Utara MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Rampung Digali, Tembus hingga Kedalaman 28 Meter
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved