Penampakan Rumah Kelahiran Mohammad Natsir, Pahlawan Nasional asal Solok
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 16:38 WIB
loading...
A
A
A
Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung, Jawa Barat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam.
Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai Perdana Menteri Indonesia kelima. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia.
Natsir kemudian terlibat pemberontakan PRRI, yang membuatnya sempat dipenjara. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain.
Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam.
Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal.
Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah.
Guru Besar Universitas Cornell, Amerika Serikat, Prof George McTurnan Kahin dalam buku "Mohammad Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan", yang diterbitkan Pustaka Antara Jakarta (1978) dinukil hampir tidak percaya yang ditemuinya adalah Mohammad Natsir, Menteri Penerangan RI.
Kahin berkenalan dengan Natsir saat menjabat Menteri Penerangan pada 1948 di Yogyakarta melalui Agus Salim.
Ia melihat Mohammad Natsir sangat sederhana, kemejanya bertambalan di beberapa bagian. Beberapa pekan kemudian, kata Kahin, staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas dan mereka mengatakan dengan baju itu pemimpin mereka akan kelihatan seperti menteri sesungguhnya.
Pada 5 September 1950, ia diangkat sebagai Perdana Menteri Indonesia kelima. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena berselisih paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal menyuarakan pentingnya peranan Islam di Indonesia.
Natsir kemudian terlibat pemberontakan PRRI, yang membuatnya sempat dipenjara. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, Natsir terus mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin Soeharto hingga membuatnya dicekal.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929; hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain.
Ia memandang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan perlakuan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap Islam.
Selama hidupnya, ia dianugerahi tiga gelar doktor honoris causa, satu dari Lebanon dan dua dari Malaysia. Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal.
Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah.
Guru Besar Universitas Cornell, Amerika Serikat, Prof George McTurnan Kahin dalam buku "Mohammad Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan", yang diterbitkan Pustaka Antara Jakarta (1978) dinukil hampir tidak percaya yang ditemuinya adalah Mohammad Natsir, Menteri Penerangan RI.
Kahin berkenalan dengan Natsir saat menjabat Menteri Penerangan pada 1948 di Yogyakarta melalui Agus Salim.
Ia melihat Mohammad Natsir sangat sederhana, kemejanya bertambalan di beberapa bagian. Beberapa pekan kemudian, kata Kahin, staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas dan mereka mengatakan dengan baju itu pemimpin mereka akan kelihatan seperti menteri sesungguhnya.
(shf)
Lihat Juga :