Prabu Jayabaya Menggoreskan Sejarah Kejayaan Kerajaan Kediri di Masanya
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 08:14 WIB
loading...
Prabu Jayabaya menjadi raja termasyhur di Kerajaan Kediri. Foto ilustrasi
A
A
A
Prabu Jayabaya menjadi raja termasyhur di Kerajaan Kediri . Ia yang naik takhta pada 1135 M akhirnya menyatukan dua kerajaan yang dulunya dibagi dua oleh Airlangga. Maka tak ayal, Jayabaya pun memutuskan menyerang Janggala dan menyatukan dua wilayah yang dibagi oleh Mpu Bharada.
Usai menyatukan kedua kerajaan, Prabu Jayabaya akhirnya memerintahkan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menggubah Kakawin Bharatayudha. Karya sastra yang mengisahkan tentang kejayaan Pandawa terhadap Kurawa dalam Perang Bharatayuda. Baca juga: Syekh Syamsuddin al-Wasil: Pembimbing Rohani Prabu Jayabaya, Penyebar Islam Pertama di Kediri
Karya itu diubah untuk melukiskan kejayaan Kadiri atas Janggala dalam perang saudara atau trah Airlangga. Sri Wintala Achmad dari buku "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa" menyampaikan bahwa perubahan itu sebagai langkah politis dari Prabu Jayabaya untuk memutarbalikkan fakta.
Prabu Jayabaya yang merebut wilayah Janggala dilambangkan sebagai Yudistira (raja Amarta yang berjiwa mulia). Sementara raja Janggala dilambangkan sebagai Doryudana atau raja Hastina yang berwatak jahat.
Jayabaya juga memiliki kesadaran dalam menggoreskan catatan sejarahnya. Ia pun mengeluarkan tiga prasasti penting yang menjadi warisan Jayabaya, ketiganya yakni Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang, Prasasti Talan, dan Prasasti Jepun.
Di Prasasti Hantang yang berangka tahun 1135 M, ditemukan di Ngantang, Kabupaten Malang. Karena ditemukan di Desa Ngantang, maka prasasti ini dinamakan Prasasti Ngantang. Prasasti ini dituliskan dengan huruf kuadrat besar dan berbunyi Panjalu Jayati. Ini untuk memperingati pemberian anugerah Prabu Jayabaya pada penduduk Desa Hantang.
Usai menyatukan kedua kerajaan, Prabu Jayabaya akhirnya memerintahkan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menggubah Kakawin Bharatayudha. Karya sastra yang mengisahkan tentang kejayaan Pandawa terhadap Kurawa dalam Perang Bharatayuda. Baca juga: Syekh Syamsuddin al-Wasil: Pembimbing Rohani Prabu Jayabaya, Penyebar Islam Pertama di Kediri
Karya itu diubah untuk melukiskan kejayaan Kadiri atas Janggala dalam perang saudara atau trah Airlangga. Sri Wintala Achmad dari buku "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa" menyampaikan bahwa perubahan itu sebagai langkah politis dari Prabu Jayabaya untuk memutarbalikkan fakta.
Prabu Jayabaya yang merebut wilayah Janggala dilambangkan sebagai Yudistira (raja Amarta yang berjiwa mulia). Sementara raja Janggala dilambangkan sebagai Doryudana atau raja Hastina yang berwatak jahat.
Jayabaya juga memiliki kesadaran dalam menggoreskan catatan sejarahnya. Ia pun mengeluarkan tiga prasasti penting yang menjadi warisan Jayabaya, ketiganya yakni Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang, Prasasti Talan, dan Prasasti Jepun.
Di Prasasti Hantang yang berangka tahun 1135 M, ditemukan di Ngantang, Kabupaten Malang. Karena ditemukan di Desa Ngantang, maka prasasti ini dinamakan Prasasti Ngantang. Prasasti ini dituliskan dengan huruf kuadrat besar dan berbunyi Panjalu Jayati. Ini untuk memperingati pemberian anugerah Prabu Jayabaya pada penduduk Desa Hantang.
Lihat Juga :