Hari ini Ultah Penyair Legendaris Chairil Anwar ke-100, Ini Kisah Hidupnya yang Penuh Cerita
Selasa, 26 Juli 2022 - 13:02 WIB
loading...
A
A
A
Pada saat itu Chairil Anwar mengidap beberapa penyakit dalam tubuhnya. Sementara dia terus hidup secara tidak teratur. Chairil seolah mengisyaratkan kematiannya sudah dekat.
“HB Jassin bercerita bagaimana tiba-tiba Chairil jadi senang dipotret. Juga kepada teman-teman pelukisnya, dia sering minta dibuatkan gambar dirinya,” kata Arief Budiman.
Di tengah kondisinya yang miskin dan sakit-sakitan, Chairil Anwar memiliki semangat yang tak pernah padam, terutama dalam berkesenian sekaligus mengobarkan semangat perjuangan.
Di masa revolusi kemerdekaan ia memiliki andil besar dalam mengobarkan semangat perjuangan.
Peristiwa itu terjadi pasca Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, yang mana pasukan Belanda yang membonceng NICA hendak menjajah Indonesia kembali.
Chairil hadir di studio pelukis, di mana pelukis Affandi baru saja menuntaskan poster perjuangan. Chairil berdiri telanjang dada dengan celana setengah digulung.
Pada permukaan poster yang masih basah itu, ia tiba-tiba mencoretkan sebaris kata-kata: Bung Ayo Bung!. “Ha, lihat, begini mustinya kata-katanya!,” seloroh Chairil Anwar seperti dikutip dari buku Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar.
Sepanjang tahun 1942-1949, penyair Chairil Anwar telah menghasilkan 94 karya tulis, dengan 70 di antaranya sajak asli. Chairil Anwar menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada 6 September 1946 dan dikarunia seorang putri bernama Evawani.
Chairil yang pernah mengungkapkan dalam puisinya, ingin hidup seribu tahun lagi dan kalau berumur panjang akan menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang diderita.
Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, di usia 27 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Pada nisannya yang berdiri tegak tertulis : Di sini Berbaring Penyair Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45.
“HB Jassin bercerita bagaimana tiba-tiba Chairil jadi senang dipotret. Juga kepada teman-teman pelukisnya, dia sering minta dibuatkan gambar dirinya,” kata Arief Budiman.
Di tengah kondisinya yang miskin dan sakit-sakitan, Chairil Anwar memiliki semangat yang tak pernah padam, terutama dalam berkesenian sekaligus mengobarkan semangat perjuangan.
Di masa revolusi kemerdekaan ia memiliki andil besar dalam mengobarkan semangat perjuangan.
Peristiwa itu terjadi pasca Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, yang mana pasukan Belanda yang membonceng NICA hendak menjajah Indonesia kembali.
Chairil hadir di studio pelukis, di mana pelukis Affandi baru saja menuntaskan poster perjuangan. Chairil berdiri telanjang dada dengan celana setengah digulung.
Pada permukaan poster yang masih basah itu, ia tiba-tiba mencoretkan sebaris kata-kata: Bung Ayo Bung!. “Ha, lihat, begini mustinya kata-katanya!,” seloroh Chairil Anwar seperti dikutip dari buku Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar.
Sepanjang tahun 1942-1949, penyair Chairil Anwar telah menghasilkan 94 karya tulis, dengan 70 di antaranya sajak asli. Chairil Anwar menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada 6 September 1946 dan dikarunia seorang putri bernama Evawani.
Chairil yang pernah mengungkapkan dalam puisinya, ingin hidup seribu tahun lagi dan kalau berumur panjang akan menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang diderita.
Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, di usia 27 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Pada nisannya yang berdiri tegak tertulis : Di sini Berbaring Penyair Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45.
(shf)
Lihat Juga :