2 Kapal Vietnam Ditangkap di Laut Natuna Utara, 16 ABK dan 10 Ton Ikan Diamankan
Senin, 25 Juli 2022 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
Dia melanjutkan, KIA asal Vietnam yang memiliki nomor lambung BV 5329 TS dan BV 4889 TS mencuri ikan sekitar 40 mile dari Pulau Laut, Kabupaten Natuna atau di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Sebanyak 10 ton ikan dan 16 ABK berhasil diamankan oleh personel TNI AL.
"Kalau kita lihat, KIA ini menggunakan Trawl dan itu sangat dilarang karena merusak ekosistem laut," katanya.
Baca juga: Cabjari Natuna Kibarkan Bendera Merah Putih dan Panji Adhiyaksa di Bawah Laut
Laksamana Pertama TNI Hudiarto Krisno Utomo menuturkan, pihaknya tidak hanya menegakkan kedaulatan negara saja, namun juga menegakkan hukum untuk melindungi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia.
“Penangkapan ini merupakan suatu bentuk kepedulian dan kinerja TNI AL yang selalu menegakkan kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” katanya.
Selain itu, TNI AL juga bekerjasama dengan Bakamla dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengamankan Laut Natuna Utara. Pihaknya terus bersinergi dan berharap pelanggaran ini tidak ada lagi karena SDA di Laut Natuna Utara berpotensi dan dibutuhkan masyarakat Indonesia serta menghasilkan devisa bagi negara.
"Kalau kita lihat, KIA ini menggunakan Trawl dan itu sangat dilarang karena merusak ekosistem laut," katanya.
Baca juga: Cabjari Natuna Kibarkan Bendera Merah Putih dan Panji Adhiyaksa di Bawah Laut
Laksamana Pertama TNI Hudiarto Krisno Utomo menuturkan, pihaknya tidak hanya menegakkan kedaulatan negara saja, namun juga menegakkan hukum untuk melindungi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia.
“Penangkapan ini merupakan suatu bentuk kepedulian dan kinerja TNI AL yang selalu menegakkan kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” katanya.
Selain itu, TNI AL juga bekerjasama dengan Bakamla dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengamankan Laut Natuna Utara. Pihaknya terus bersinergi dan berharap pelanggaran ini tidak ada lagi karena SDA di Laut Natuna Utara berpotensi dan dibutuhkan masyarakat Indonesia serta menghasilkan devisa bagi negara.
Lihat Juga :