Harga Ikan di Kabupaten Sinjai Naik Imbas Ombak Tinggi
Rabu, 20 Juli 2022 - 19:28 WIB
loading...
Ilustrasi. Foto: SINDOnews/Dok
A
A
A
SINJAI - Harga ikan di Kabupaten Sinjai naik drastis. Kenaikan tersebut imbas dari kurangnya nelayan yang melaut akibat tingginya ombak .
"Harga ikan memang mahal karena kurang nelayan yang melaut. Mungkin pengaruh ombak dan angin kencang," kata Ocha, tokoh pemuda Lingkungan Larea-rea, Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara, Rabu (20/7/2022).
Baca juga:Terseret Ombak Pantai Drini Jogjakarta, 1 Wisatawan Tewas dan 1 Hilang
Berdasarkan peringatan yang dikeluarkan Pusat Meteorologi Maritim BMKG , gelombang tinggi diperkirakan terjadi selama tujuh hari, mulai Rabu 20 Juli sampai Selasa 26 Juli 2022.
Dari peta prakiraan yang dikeluarkan BMKG, area perairan dengan gelombang sedang (1.25-2.50 m) terjadi di Selat Malaka bagian Utara, Selat Sumba bagian Timur, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar bagian Selatan, Perairan Kepulauan Selayar, dan Teluk Bone bagian Selatan.
Sementara area perairan dengan gelombang tinggi (2.50-4.0 m) terjadi di Selat Sumba bagian Barat, Perairan Selatan Pulau Jawa, serta Selat Bali-Lombok-Alas bagian Selatan. Perairan-perairan tersebut sebagian besar adalah wilayah penangkapan ikan para nelayan Sinjai.
Baca juga:Waspada Gelombang Tinggi hingga 6 Meter di Samudra Hindia Selatan, Jabar hingga Jateng
Di beberapa Pasar Sinjai, harga ikan naik bahkan sampai 100 persen. Contohnya, baby tuna yang biasanya diperoleh seharga Rp40 ribu per ekor, kini naik jadi Rp80 ribu.
Kondisi itu dibenarkan Risda, pemilik usaha Abon Ikan Ceria di Sentra IKM Lappa. Ia menggunakan ikan tuna sebagai bahan dasar pembuatan abon ikan.
"Harga ikan tuna sekarang ini mencapai Rp80 ribu per ekor. Padahal dulunya masih seharga Rp40 ribu," ungkap Risda.
Beruntung kata Risda, dirinya sudah menyimpan stok ikan di pendingin. "Saya belajar pengalaman sebelumnya di mana ikan sangat mahal. Makanya sebelum bulan puasa saya simpan stok sebanyak dua ton Tuna di freezer. Itu bisa digunakan selama lima bulan," jelasnya.
Baca juga:BMKG Imbau Waspada Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Dua Perairan Ini
Risda yang produknya sudah dipasarkan di toko retail beberapa kabupaten ini mengaku terbantu dengan adanya pendingin berukuran besar di Sentra IKM Lappa.
"Ikan memang sekarang jadi kendala. Harganya melambung, ditambah nelayan banyak yang keluar daerah melaut jadi ikan yang masuk di TPI kurang," jelas.
"Harga ikan memang mahal karena kurang nelayan yang melaut. Mungkin pengaruh ombak dan angin kencang," kata Ocha, tokoh pemuda Lingkungan Larea-rea, Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara, Rabu (20/7/2022).
Baca juga:Terseret Ombak Pantai Drini Jogjakarta, 1 Wisatawan Tewas dan 1 Hilang
Berdasarkan peringatan yang dikeluarkan Pusat Meteorologi Maritim BMKG , gelombang tinggi diperkirakan terjadi selama tujuh hari, mulai Rabu 20 Juli sampai Selasa 26 Juli 2022.
Dari peta prakiraan yang dikeluarkan BMKG, area perairan dengan gelombang sedang (1.25-2.50 m) terjadi di Selat Malaka bagian Utara, Selat Sumba bagian Timur, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar bagian Selatan, Perairan Kepulauan Selayar, dan Teluk Bone bagian Selatan.
Sementara area perairan dengan gelombang tinggi (2.50-4.0 m) terjadi di Selat Sumba bagian Barat, Perairan Selatan Pulau Jawa, serta Selat Bali-Lombok-Alas bagian Selatan. Perairan-perairan tersebut sebagian besar adalah wilayah penangkapan ikan para nelayan Sinjai.
Baca juga:Waspada Gelombang Tinggi hingga 6 Meter di Samudra Hindia Selatan, Jabar hingga Jateng
Di beberapa Pasar Sinjai, harga ikan naik bahkan sampai 100 persen. Contohnya, baby tuna yang biasanya diperoleh seharga Rp40 ribu per ekor, kini naik jadi Rp80 ribu.
Kondisi itu dibenarkan Risda, pemilik usaha Abon Ikan Ceria di Sentra IKM Lappa. Ia menggunakan ikan tuna sebagai bahan dasar pembuatan abon ikan.
"Harga ikan tuna sekarang ini mencapai Rp80 ribu per ekor. Padahal dulunya masih seharga Rp40 ribu," ungkap Risda.
Beruntung kata Risda, dirinya sudah menyimpan stok ikan di pendingin. "Saya belajar pengalaman sebelumnya di mana ikan sangat mahal. Makanya sebelum bulan puasa saya simpan stok sebanyak dua ton Tuna di freezer. Itu bisa digunakan selama lima bulan," jelasnya.
Baca juga:BMKG Imbau Waspada Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Dua Perairan Ini
Risda yang produknya sudah dipasarkan di toko retail beberapa kabupaten ini mengaku terbantu dengan adanya pendingin berukuran besar di Sentra IKM Lappa.
"Ikan memang sekarang jadi kendala. Harganya melambung, ditambah nelayan banyak yang keluar daerah melaut jadi ikan yang masuk di TPI kurang," jelas.
(luq)
Lihat Juga :