Ribuan Calon Siswa di Bogor Belum Terdaftar di Masa PPDB
Jum'at, 26 Juni 2020 - 14:28 WIB
loading...
A
A
A
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bogor. Seperti yang terjadi di SMP Negeri 02 Babakan Madang di Jalan Bukit Aladin, Desa Bojongkoneng, Babakan Madang. Sekolah ini berlokasi di area perbukitan yang terpantau jauh dari kepadatan permukiman penduduk. (Baca juga: Ini Penjelasan Dinas Pendidikan DKI soal Syarat Usia PPDB)
Bangunan sekolah ini dikelilingi lahan kosong dan perkebunan, bahkan akses jalan yang ada sama sekali tak dilintasi moda transportasi umum. "PPDB untuk siswa SD yang ingin daftar di kami pakai sistem luring (luar jaringan/offline) karena kalau daring (online) di sini tidak ada sinyal," ujar Kepala SMPN 02 Babakan Madang Siti Khodijah.
Kendala yang dialami pihak sekolah bukan hanya masalah geografis dan sinyal, tapi juga pola pikir masyarakat yang mayoritas sebagai buruh tani. "Dalam PPDB ini seminggu kemarin itu sampai 16 sekolah SD saya keliling. Saya menjaring sekolah-sekolah SD yang dekat dengan SMP dan semuanya masih berpikir apakah masuk SMP atau tidak. Ini akses yang sangat sulit dijangkau anak-anak dan banyak warga tidak memiliki transportasi," ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah tetap berkeliling melakukan sosialisasi agar warga melanjutkan jenjang pendidikan anak-anaknya ke SMP. Kemudian pendaftaran PPDB dilakukan secara kolektif. Di sekolah ini tak ada penolakan pendaftar PPDB yang ramai seperti di daerah lain karena pihak sekolah justru kekurangan siswa.
"Target saya hanya 7 kelas. Mudah-mudahan itu terealisasi sekarang sudah mau 5 kelas nih, semoga perjuangan ini membuahkan hasil," ucapnya.
Bangunan sekolah ini dikelilingi lahan kosong dan perkebunan, bahkan akses jalan yang ada sama sekali tak dilintasi moda transportasi umum. "PPDB untuk siswa SD yang ingin daftar di kami pakai sistem luring (luar jaringan/offline) karena kalau daring (online) di sini tidak ada sinyal," ujar Kepala SMPN 02 Babakan Madang Siti Khodijah.
Kendala yang dialami pihak sekolah bukan hanya masalah geografis dan sinyal, tapi juga pola pikir masyarakat yang mayoritas sebagai buruh tani. "Dalam PPDB ini seminggu kemarin itu sampai 16 sekolah SD saya keliling. Saya menjaring sekolah-sekolah SD yang dekat dengan SMP dan semuanya masih berpikir apakah masuk SMP atau tidak. Ini akses yang sangat sulit dijangkau anak-anak dan banyak warga tidak memiliki transportasi," ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah tetap berkeliling melakukan sosialisasi agar warga melanjutkan jenjang pendidikan anak-anaknya ke SMP. Kemudian pendaftaran PPDB dilakukan secara kolektif. Di sekolah ini tak ada penolakan pendaftar PPDB yang ramai seperti di daerah lain karena pihak sekolah justru kekurangan siswa.
"Target saya hanya 7 kelas. Mudah-mudahan itu terealisasi sekarang sudah mau 5 kelas nih, semoga perjuangan ini membuahkan hasil," ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :