Kemendikbudristek Usul Jalur Rempah Jadi Warisan Budaya Dunia
Senin, 06 Juni 2022 - 23:23 WIB
loading...
A
A
A
Dengan fokus warisan budaya tak benda, lanjut dia, program Jalur Rempah bergerak lebih terarah untuk merevitalisasi Jalur Rempah. Dengan cara ini, diharapkan spirit Jalur Rempah menjadi nilai dan gaya hidup masyarakat, mulai pendidikan, kesehatan, ekonomi, sastra, seni dan lainnya.
Termasuk dalam pemberdayaan komunitas rempah, pengembangan eduwisata Jalur Rempah, hingga pertunjukan seni, pengetahuan, dan teknologi, tradisional pengobatan, workshop dan lain sebagainya.
Diajukannya Jalur Rempah ke UNESCO menunjukkan itikad Indonesia untuk mengambil peran dalam menjaga amanah yang diberikan dunia untuk menjaga warisan peradaban manusia. Jalur Rempah bukan lagi warisan milik Indonesia, melainkan warisan milik dunia yang kelestarian dan keberlangsungannya diamanahkan kepada semua pihak.
"Program pelayaran muhibah Jalur Rempah diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan sebagai wadah pertemuan pelaku lintas daerah serta sebagai sarana diplomasi dan kampanye untuk mengangkat spirit kejayaan rempah, serta mengantarkan Jalur Rempah sebagai the world heritage yang diakui UNESCO ," pungkasnya.
KRI Dewaruci Bertolak ke Bau-bau
Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah telah menghabiskan waktu kurang lebih 3 hari menyusuri kebudayaan Sulsel serta menapak tilas jejak perdagangan rempah masa lampau yang terjadi di Makassar.
Para peserta mengunjungi sejumlah situs warisan budaya, di antaranya Museum Karaeng Pattingalloang, Museum Balla Lompoa, Makam Sultan Hasanuddin, Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Kelenteng Thian Ho Kong, Museum Kota Makassar, dan Museum La Galigo.
Pada Senin (6/6/2022), rombongan akhirnya bertolak ke titik persinggahan Jalur Rempah ketiga, yakni Bau-bau dan Buton. Mereka bertolak menggunakan KRI Dewaruci, kapal latih untuk para Kadet Angkatan Laut Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Muh. Jufri, menuturkan Sulawesi Selatan dan Makassar pada khususnya dipilih sebagai salah satu titik persinggahan, sebab Makassar secara historis menjadi salah satu poros perdagangan rempah dunia di masa lampau.
Termasuk dalam pemberdayaan komunitas rempah, pengembangan eduwisata Jalur Rempah, hingga pertunjukan seni, pengetahuan, dan teknologi, tradisional pengobatan, workshop dan lain sebagainya.
Diajukannya Jalur Rempah ke UNESCO menunjukkan itikad Indonesia untuk mengambil peran dalam menjaga amanah yang diberikan dunia untuk menjaga warisan peradaban manusia. Jalur Rempah bukan lagi warisan milik Indonesia, melainkan warisan milik dunia yang kelestarian dan keberlangsungannya diamanahkan kepada semua pihak.
"Program pelayaran muhibah Jalur Rempah diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan sebagai wadah pertemuan pelaku lintas daerah serta sebagai sarana diplomasi dan kampanye untuk mengangkat spirit kejayaan rempah, serta mengantarkan Jalur Rempah sebagai the world heritage yang diakui UNESCO ," pungkasnya.
KRI Dewaruci Bertolak ke Bau-bau
Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah telah menghabiskan waktu kurang lebih 3 hari menyusuri kebudayaan Sulsel serta menapak tilas jejak perdagangan rempah masa lampau yang terjadi di Makassar.
Para peserta mengunjungi sejumlah situs warisan budaya, di antaranya Museum Karaeng Pattingalloang, Museum Balla Lompoa, Makam Sultan Hasanuddin, Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Kelenteng Thian Ho Kong, Museum Kota Makassar, dan Museum La Galigo.
Pada Senin (6/6/2022), rombongan akhirnya bertolak ke titik persinggahan Jalur Rempah ketiga, yakni Bau-bau dan Buton. Mereka bertolak menggunakan KRI Dewaruci, kapal latih untuk para Kadet Angkatan Laut Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Muh. Jufri, menuturkan Sulawesi Selatan dan Makassar pada khususnya dipilih sebagai salah satu titik persinggahan, sebab Makassar secara historis menjadi salah satu poros perdagangan rempah dunia di masa lampau.
Lihat Juga :