Kisah Pangeran Diponegoro, Dilawan Rakyat yang Lapar Akibat Ulah Pejabat Culas

Senin, 06 Juni 2022 - 05:41 WIB
loading...
Kisah Pangeran Diponegoro,...
Pangeran Diponegoro. Foto/Ist.
A A A
Cerita tentang korupsi dan pejabat yang culas, ternyata sudah terjadi di masa perjuangan Pangeran Diponegoro. Bahkan, pangeran dari Goa Selarong ini, beberapa kali harus dihadapkan dengan kemarahan rakyat akibat ulah pejabat korup dan culas.

Baca juga: Kisah Asmara Pangeran Diponegoro, Pria Romantis Dipaksa Menikah Kedua Kali untuk Kepentingan Politis

Jalan terjal harus ditempuh Pangeran Diponegoro, ketika melawan penjajahan Belanda. Ada kalanya perjuangan itu berbalik menyulitkan sang pangeran sendiri. Suatu ketika, hal itu dialami Pangeran Diponegoro ketika rakyat yang seharusnya mengikuti perjuangannya, justru balik melawannya.



Dikisahkan Peter Carey dalam bukumnya yang berjudul "Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855". Dalam buku itu, disebutkan ada pejabat yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, dihukum cambuk di muka umum karena memungut pajak lebih banyak dari ketentuan.

Baca juga: Kisah Ken Umang, Cinta Pertama Ken Arok dan Pejuang Singasari yang Hanya Menjadi Selir

Pada saat yang sama, pasokan makanan semakin menipis. Pejabat-pejabat lokal yang semula mendukung Pangeran Diponegoro, berbalik menentangnya. Banyak yang mengungsi ke wilayah yang berada kendali benteng Belanda, karena dirasa lebih terjamin dan kesempatan ekonomi lebih baik.

Bahkan, saat masa terakhir perang, ada kasus-kasus warga di daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro, berbalik melawan pejabat-pejabat culas pendukung Pangeran Diponegoro, dan menghabisi mereka karena begitu besar hasrat penduduk akan perdamaian.

Kebijakan para komandan benteng Belanda, barangkali ikut berpengaruh. Mereka berhasil merebut hati penduduk setempat, dengan menjanjikan pemberian pajak gratis, hewan penghela, dan benih gratis jika mereka mau pindah ke wilayah Belanda.

Baca juga: Memalukan! 2 Kubu Mahasiswa PMII Bentrok di Kantor Bupati Bulukumba

Termasuk kebijakan Belanda juga adalah menurunkan pajak, mengurangi kewajiban kerja bakti, serta menaikkan upah buruh harian di sekitar benteng untuk mendorong para petani dan keluarga mereka tetap betah tinggal di dekat benteng.

Hasilnya, akhir September 1829 di tahun keempat perang, perlawanan terorganisasi terhadap Belanda di daerah-daerah yang subur pangan di Jawa Tengah, bagian selatan berakhir. Ikatan rasa saling percaya dan kerja sama antara pasukan Pangeran Diponegoro, dan penduduk desa setempat sudah rusak.

Tanpa ada dukungan rakyat, tidak mungkin dilancarkan perang gerilya yang berhasil. Pada waktu itu, Sentot sudah menyerah kepada Belanda. Di saat itulah nasib Pangeran Diponegoro, sudah berada di titik nadir.

Baca juga: Suami Istri di Madina Bertengkar, 2 Anak Dibuang di Sawah

Pada 21 September 1829 Pangeran Ngabehi, panglima senior yang tersisa, bersama dua putranya, terbunuh dalam pertempuran sengit di Pegunungan Kelir, yang ada di perbatasan Bagelen-Mataram.

Tak berselang lama, pada 11 November 1829 Pangeran Diponegoro, nyaris tertangkap di Pegunungan Gowong, oleh pasukan gerak cepat ke-11 yang dikomandoi oleh Mayor A.V. Michiels.

Pangeran Diponegoro akhirnya memutuskan untuk masuk ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen, dengan hanya ditemani dua punakawan atau pengiring terdekat, yakni Bantengwareng dan Roto, yang melayani segala kebutuhan Pangeran Diponegoro dan bertindak sebagai penunjuk jalan serta penasihatnya.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Kapal Perang Belanda...
Kapal Perang Belanda dan China Terlibat Konfrontasi di Laut China Selatan
Prabowo Cerita Kepala...
Prabowo Cerita Kepala BPKP Gemetar Lapor Orang Terdekat Presiden Menyeleweng
Kapten Kapal Pesiar...
Kapten Kapal Pesiar Terjangkit Hantavirus Bilang pada Penumpang: Pria yang Tewas Itu Tak Menular
Rekomendasi
Korea Selatan vs Republik...
Korea Selatan vs Republik Ceko: Konsistensi Kontra Jago Bola Mati
Finnet dan Kemenhub...
Finnet dan Kemenhub Kolaborasi Percepat Digitalisasi Pembayaran Layanan Maritim
Ketum Rampai Nusantara:...
Ketum Rampai Nusantara: Kami Yakin Roy Suryo Akan Segera Ditahan
Berita Terkini
BEM UI Gelar Aksi di...
BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI, Pengendara Diimbau Cari Rute Alternatif
Mahasiswa Turun ke Jalan...
Mahasiswa Turun ke Jalan Hari Ini, 4.151 Personel Gabungan Dikerahkan
China Bakal Bangun Pusat...
China Bakal Bangun Pusat Padi dan Sekolah Vokasi di Papua
GTV Targetkan Ribuan...
GTV Targetkan Ribuan Peserta Liga Bintang Juara, Siapkan Babak Nasional di Jakarta
Kadisdik Tangerang:...
Kadisdik Tangerang: Liga Bintang Juara Jadi Ajang Pemerataan dan Kreativitas Siswa
Wali Kota Tangerang...
Wali Kota Tangerang Apresiasi Liga Bintang Juara, Dorong Generasi Berpikir Cepat dan Tepat
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved