Sembako Busuk Jadi Aib di Tengah Corona, DPRD KBB Harus Minta Penjelasan Bupati
Sabtu, 25 April 2020 - 20:08 WIB
loading...
Direktur Eksekutif Sundanedia Digdaya Institute, Moch Galuh Fauzi. Foto/Dok/Pribadi
A
A
A
BANDUNG BARAT - DPRD Kabupaten Bandung Barat harus berani meminta penjelaskan terhadap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkait bantuan sembako untuk masyarakat terdampak virus Corona atau COVID-19 yang menjadi polemik. Sebab, dalam bantuan sembako tersebut terdapat produk ayam potong yang sudah tidak segar bahkan menimbulkan bau busuk sehingga tak layak konsumsi.
"Jangan sampai kejadian ini terus bergulir yang mencoreng wajah Pemda KBB. Sejauh ini bupati dan jajarannya telah bekerja maksimal memerangi COVID-19, namun akibat aib tersebut seakan-akan apa yang sudah dikerjakan menjadi sia-sia dan terlupakan," kata Direktur Eksekutif Sundanedia Digdaya Institute, Moch Galuh Fauzi kepada SINDOnews, Sabtu (25/4/2020).
Mahasiswa S2 Kebijakan Publik Unpad ini menilai, adanya sembako busuk menjadi heboh karena saat ini program bantuan sosial ke masyarakat terdampak COVID-19 sedang berjalan. Pemda KBB sendiri telah mendistribusikan sebanyak 8.000 paket sembako dari total 30.000 paket yang didistribusikan pada tahap pertama. (Baca juga; Sudah Busuk, Bansos Daging Ayam Pemkab Bandung Barat Tak Layak Konsumsi )
Tidak diketahui pasti apakah kasus sembako busuk hanya muncul di Desa Citapen, Cihampelas, atau juga ada di desa lainnya. Belum juga isu itu mereda, kata Galuh, kini muncul persoalan terkait darimana anggaran yang dipakai untuk belanja paket sembako tersebut.
Siapa yang ditunjuk sebagai pelaksana penyedia sembako, dan bagaimana mekanisme penunjukkannya. Sontak hal ini menjadi senjata bagi pihak-pihak yang tidak suka dengan Bupati untuk 'menyerang' atas blunder yang sudah dilakukannya.
"Jangan sampai kejadian ini terus bergulir yang mencoreng wajah Pemda KBB. Sejauh ini bupati dan jajarannya telah bekerja maksimal memerangi COVID-19, namun akibat aib tersebut seakan-akan apa yang sudah dikerjakan menjadi sia-sia dan terlupakan," kata Direktur Eksekutif Sundanedia Digdaya Institute, Moch Galuh Fauzi kepada SINDOnews, Sabtu (25/4/2020).
Mahasiswa S2 Kebijakan Publik Unpad ini menilai, adanya sembako busuk menjadi heboh karena saat ini program bantuan sosial ke masyarakat terdampak COVID-19 sedang berjalan. Pemda KBB sendiri telah mendistribusikan sebanyak 8.000 paket sembako dari total 30.000 paket yang didistribusikan pada tahap pertama. (Baca juga; Sudah Busuk, Bansos Daging Ayam Pemkab Bandung Barat Tak Layak Konsumsi )
Tidak diketahui pasti apakah kasus sembako busuk hanya muncul di Desa Citapen, Cihampelas, atau juga ada di desa lainnya. Belum juga isu itu mereda, kata Galuh, kini muncul persoalan terkait darimana anggaran yang dipakai untuk belanja paket sembako tersebut.
Siapa yang ditunjuk sebagai pelaksana penyedia sembako, dan bagaimana mekanisme penunjukkannya. Sontak hal ini menjadi senjata bagi pihak-pihak yang tidak suka dengan Bupati untuk 'menyerang' atas blunder yang sudah dilakukannya.
Lihat Juga :