Kisah Tukah, Pembantu Rumah Tangga Menabung 20 Tahun untuk Naik Haji
Sabtu, 04 Juni 2022 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
"Tahun 2001 daftar, sebelum itu sudah ada niat mau kerja, saya mau ke rumah Allah. Rasanya trenyuh lihat di televisi-televisi itu, dengar Labaik Allahumma Labaik. Kapan saya ke sana. Semoga saya dikasih rezeki bisa kerja, bekerja sebagai pembantu rumah tangga," ucap Tukah, Sabtu (4/6/2022).
Niat Tukah berangkat haji mendapat dukungan dari majikannya. Bahkan saat pertama kali ia mendaftarkan diri untuk berhaji, majikannya pula yang membantu mengantarkannya ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Beberapa kali pula sang majikan mengantarkannya untuk mengurus segala keperluan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah.
Baca juga: Gara-gara Ngikuti Google Maps, Truk Tronton Penuh Muatan Terjun ke Jurang di Banjarnegara
"Iya, memang saya ingin berangkat haji. Kok Alhamdulillah bos saya menawari. Diantar sama majikan, diantar kemana-mana, yang ini (majikannya) juga ada niat, saya juga ada niat ya sudah," ungkap dia.
Upaya berangkat haji itu ia realisasikan di tahun 2001, dengan menjual perhiasan emas miliknya seberat 30 gram, dan dibeli oleh sang majikannya sendiri yang berada di kawasan Sawojajar, Kota Malang. Uang itu lantas digunakan Tukah untuk membayar biaya haji saat pendaftaran.
"Daftar 2001, saya daftar punya emas ada 30 gram, sudah saya jual sendiri, bayar pertama Rp25 juta," kata perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Sawojajar, Kota Malang.
Niat Tukah berangkat haji mendapat dukungan dari majikannya. Bahkan saat pertama kali ia mendaftarkan diri untuk berhaji, majikannya pula yang membantu mengantarkannya ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag). Beberapa kali pula sang majikan mengantarkannya untuk mengurus segala keperluan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah.
Baca juga: Gara-gara Ngikuti Google Maps, Truk Tronton Penuh Muatan Terjun ke Jurang di Banjarnegara
"Iya, memang saya ingin berangkat haji. Kok Alhamdulillah bos saya menawari. Diantar sama majikan, diantar kemana-mana, yang ini (majikannya) juga ada niat, saya juga ada niat ya sudah," ungkap dia.
Upaya berangkat haji itu ia realisasikan di tahun 2001, dengan menjual perhiasan emas miliknya seberat 30 gram, dan dibeli oleh sang majikannya sendiri yang berada di kawasan Sawojajar, Kota Malang. Uang itu lantas digunakan Tukah untuk membayar biaya haji saat pendaftaran.
"Daftar 2001, saya daftar punya emas ada 30 gram, sudah saya jual sendiri, bayar pertama Rp25 juta," kata perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Sawojajar, Kota Malang.

Lihat Juga :