Dilema Tenaga Kesehatan di Tengah Pandemi

Sabtu, 25 April 2020 - 21:01 WIB
loading...
A A A
Kejujuran dan keterbukaan pasien dan keluarga dalam memberikan informasi kepada tenaga kesehatan merupakan faktor penting untuk mencegah penyebaran COVID-19. Informasi yang lengkap, baik terkait gejala dan tanda yang dirasakan maupun riwayat perjalanan atau interaksi dengan orang lain merupakan data yang penting bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah pasien tersebut termasuk OTG (Orang tanpa gejala), ODP (Orang dalam pemantauan), maupun PDP (Pasien dengan pengawasan). Selain membantu petugas kesehatan dalam menentukan status kesehatannya, informasi yang lengkap dan terbuka juga membantu petugas untuk melakukan telusur (Tracing) dan rencana tindakan pengobatan yang tepat.

Ketidakjujuran dalam memberikan informasi akan berdampak pada resiko penyebaran COVID-19 yang semakin tidak terkendali. Sebagai contoh, ada 57 orang tenaga medis dan tenaga kesehatan lain di RS dr Kariyadi Semarang terinfeksi COVID-19 karena pasien yang dirawat tidak jujur. Sementara di DKI Jakarta ada 161 tenaga medis yang positif COVID-19 yang tersebar di 41 rumah sakit, empat puskesmas, dan satu klinik.

Sedangkan tenaga medis yang meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19 berjumlah 44 orang yang terdiri dari 32 dokter dan 12 perawat. Data tersebut hanyalah sebagian wilayah yang belum menunjukan data yang sebenarnya, namun kejadian tersebut telah menimbulkan dampak yang sangat menggangu baik kuantitas maupun kualitas pelayanan khususnya pada pasien COVID-19. Masalah ketidakjujuran pasien menjadi ancaman serius bagi tenaga kesehatan untuk tertular atau terinfeksi COVID-19.

Hilangkan Stigma dan Diskriminasi

Adanya stigma terhadap pasien COVID-19, keluarga atau bahkan kepada petugas kesehatan akan berdampak negatif baik secara fisik, psikologis maupun sosial. Seseorang yang mengalami Stigma umumnya akan melakukan mekanime pertahanan diri (coping mechanism) dalam bentuk memanipulasi tindakan seperti berbohong, menghindar atau menyembunyikan diri sebagai bentuk rasa malu dan takut yang dialami. Apa yang dilakukan oleh pasien terinfeksi COVID-19 dengan tidak memberikan informasi secara jujur, lengkap dan terbuka adalah bentuk ketakukan akan dikucilkan oleh masyarakat sebagai akibat dari adanya stigma sosial tersebut.

Fase lanjut dari dampak adanya stigma adalah adanya perlakukan diskriminatif baik kepada pasien, keluarga pasien maupun petugas kesehatan yang merawat pasien COVID-19. Perlakuan tersebut hampir sama dialami pasien HIV AIDS, dimana pasien dikucilkan karena dianggap aib dan dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Apalagi penanganan pasien COVID-19 juga relatif sama seperti pelayanan kepada pasien HIV AIDS misalnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) yang lengkap, tempat perawatan khusus (ruang isolasi), dan tata laksana pemulasaran jenazah. Hal tersebut diperparah dengan adanya penolakan jenazah pasien COVID-19 di beberapa daerah.

Upaya yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stigma sosial adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masayarakat tentang sifat, karakteristik, cara penularan, dan tindakan pencegahan penyebaran COVID-19. Upaya tersebut harus dilakukan secara terencana, terus menerus dan masif kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan tidak adanya stigma dan diskriminatif dari masyarakat, maka pasien dan keluarga tidak akan malu untuk memeriksakan diri, akan bersikap jujur dan terbuka dalam memberikan informasi kepada tenaga medis sehingga tidak membahayakan orang lain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ratusan Tenaga Kesehatan...
Ratusan Tenaga Kesehatan Bersinergi, Dorong Kepercayaan Publik terhadap Imunisasi
Kolaborasi Tenaga Kesehatan...
Kolaborasi Tenaga Kesehatan dan Edukasi Publik di Hari Prematur Sedunia 2025
Nama Hilang di Kepegawaian,...
Nama Hilang di Kepegawaian, Ratusan Nakes Ngamuk di BKPSDM Muna
Rekomendasi
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
Imigrasi Nonaktifkan...
Imigrasi Nonaktifkan Pejabat yang Diperiksa KPK, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Berjalan
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved