Nyai Ageng Pinatih, Syahbandar Perempuan Gresik yang Juga Ibu Angkat Sunan Giri
Jum'at, 27 Mei 2022 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Karena semakin banyaknya kapal singgah di pelabuhan, maka seorang syahbandar diperlukan untuk mengatur pelabuhan. Dalam pengangkatannya, seorang syahbandar harus menguasai berbagai bahasa, memahami ilmu perdagangan, dan memiliki relasi yang luas. Nyai Ageng Pinatih dianggap memenuhi syarat tersebut.
Pada 1458 M, ia diangkat menjadi syahbandar oleh Raja Majapahit Brawijaya V untuk menggantikan Ali Hutomo yang wafat pada 1449. Pusat Pelabuhan Gresik lalu berpindah dari Desa Bandaran ke Desa Kelingan (sekarang Kebungson atau Pakelingan).
Pada masa ia menjabat, pelabuhan Gresik mencapai kejayaannya. Ia dikisahkan membangun tempat pembuatan kapal dan peti kemasan yang disebut blandongan, menyediakan tempat perbaikan peti yang digunakan untuk menyimpan barang yang diangkut ke dalam kapal, serta menyediakan kuda sebagai alat transportasi untuk mengangkut barang dari pedalaman menuju pelabuhan atau sebaliknya.
Dalam cerita rakyat lain, Dinasti Ming dikisahkan mengangkat Nyai Ageng Pinatih sebagai syahbandar Gresik menggantikan Cheng Ho yang bertugas mengontrol keamanan wilayah Jawa dan Sumatra dari aksi perampokan kapal-kapal dagang yang melalui wilayah tersebut.
Di Palembang, Cheng Ho mendirikan Kantor Perdamaian yang mengurus dan bertanggung jawab dan menjaga keamanan. Shi Jinqing atau Shi Daniang kemudian diangkat sebagai Syahbandar Gresik dan dijuluki Nyai Ageng Pinatih.
Menurut Chen Yu Sung, ayah Nyai Ageng Pinatih adalah utusan utama yang diangkat oleh penguasa Majapahit di Palembang untuk mengurus soal keadamaan dan administrasi kenegaraan di Palembang setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Baca Juga: Gua Selarong, Markas Gaib Tempat Atur Strategi Pangeran Diponegoro Lawan Belanda.
Pada 1458 M, ia diangkat menjadi syahbandar oleh Raja Majapahit Brawijaya V untuk menggantikan Ali Hutomo yang wafat pada 1449. Pusat Pelabuhan Gresik lalu berpindah dari Desa Bandaran ke Desa Kelingan (sekarang Kebungson atau Pakelingan).
Pada masa ia menjabat, pelabuhan Gresik mencapai kejayaannya. Ia dikisahkan membangun tempat pembuatan kapal dan peti kemasan yang disebut blandongan, menyediakan tempat perbaikan peti yang digunakan untuk menyimpan barang yang diangkut ke dalam kapal, serta menyediakan kuda sebagai alat transportasi untuk mengangkut barang dari pedalaman menuju pelabuhan atau sebaliknya.
Dalam cerita rakyat lain, Dinasti Ming dikisahkan mengangkat Nyai Ageng Pinatih sebagai syahbandar Gresik menggantikan Cheng Ho yang bertugas mengontrol keamanan wilayah Jawa dan Sumatra dari aksi perampokan kapal-kapal dagang yang melalui wilayah tersebut.
Di Palembang, Cheng Ho mendirikan Kantor Perdamaian yang mengurus dan bertanggung jawab dan menjaga keamanan. Shi Jinqing atau Shi Daniang kemudian diangkat sebagai Syahbandar Gresik dan dijuluki Nyai Ageng Pinatih.
Menurut Chen Yu Sung, ayah Nyai Ageng Pinatih adalah utusan utama yang diangkat oleh penguasa Majapahit di Palembang untuk mengurus soal keadamaan dan administrasi kenegaraan di Palembang setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Baca Juga: Gua Selarong, Markas Gaib Tempat Atur Strategi Pangeran Diponegoro Lawan Belanda.
Lihat Juga :