Kisah Cinta Sultan Syarif Kasim II dan Ratu Wilhelmina Bersemi di Antara Kolonialisme dan Kecamuk Perang

Senin, 09 Mei 2022 - 05:02 WIB
loading...
A A A
Upaya menekan Sultan Syarif Kasim II, terus dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil, di mana struktur pemerintahan di daerah-daerah diubah oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni dari bentuk provinsi menjadi district dan onder district.

Akibat perubahan itu, Kerajaan Siak akhirnya memiliki lima distrik, yakni Distrik Siak, Distrik Selatpanjang, Distrik Bagansiapi-api, Distrik Bukit Batu, dan Distrik Pekanbaru. Hal ini juga membuat Datuk Empat Suku tidak berfungsi lagi. Dan penghasilan hutan tanah yang disebut "pancung alas" diambil alih oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Keserakahan pemerintah kolonial Hindia Belanda ini, membuat rakyat di Kerajaan Siak resah. Sultan Syarif Kasim II tak tinggal diam, dia semakin keras menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan, Sultan Syarif Kasim II memutuskan untuk membangun kekuatan fisik, karena ancaman pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Kekuatan militer dibangun oleh Sultan Syarif Kasim II, yang berawal dari barisan kehormatan pemuda-pemuda. Mereka akhirnya dilatih untuk membangkitkan semangat perlawanan, dan mempertahankan diri serta membela nasib rakyat.

Sultan Syarif Kasim II juga dengan tegas menolak campur tangan peraturan pengadilan pemerintahan kolonial Hindia Belanda terhadap rakyatnya. Dia tetap mempertahankan keberadaan Kerapatan Tinggi Kerajaan Siak, yang diatur dan disusun oleh Kerajaan Siak sendiri.

Baca juga: Kronologi Polwan Digerebek Brimob saat Asyik Ngamar dengan Pendeta Beristri

Bukan hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga dengan tegas menolak mengakui Kesultanan Siak sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, meskipun sebelumnya para sultan di Kerajaan Siak telah terikat perjanjian dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, termasuk Perjanjian London 1824.

Mendapatkan perlawanan dari Sultan Syarif Kasim II, pemerintah kolonial Hindia Belanda akhirnya mendatangkan bala bantuan Marsose dari Medan, di bawah pimpinan Letnan Leiner. Pasukan bersenjata yang dikenal bengis ini, dikerahkan untuk meredam kekuatan di Kerajaan Siak.

Kepedulian Sultan Syarif Kasim II terhadap rakyatnya sangat kuat. Bahkan, untuk melawan penjajahan yang dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dia juga mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat, dan memberikan beasiswa bagi anak-anak dari Kerajaan Siak untuk menempuh pendidikan tinggi.

Perlawanan Sultan Syarif Kasim II, juga terjadi di masa pendudukan Jepang. Pasukan Jepang, sempat menangkapi raja-raja di Riau, namun belum berani menangkap Sultan Syarif Kasim II, karena takut terjadi pemberontakan dari rakyat Kerajaan Siak. Sultan Syarif Kasim II juga menentang pengiriman romusha. Dia tetap melindungi rakyatnya, meskipun kekuasaannya dilucuti.

Kekalahan Jepang dari Sekutu pada 15 Agustus 1945, dan disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, tersiar hingga di Kerajaan Siak. Kabar ini membuat Sultan Syarif Kasim II langsung mengibarkan bendera merah putih di Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Pada tahun 1946, Sultan Syarif Kasih II berangkat ke Jawa, untuk menemui Bung Karno. Dalam pertemuan tersebut, Sultan Syarif Kasim II, dengan tegas menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
15 Ribu Hektare Lahan...
15 Ribu Hektare Lahan Hangus Akibat Karhutla di Aceh dan Riau
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Museum ITB Diresmikan,...
Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Prabowo: Indonesia Berada...
Prabowo: Indonesia Berada pada Persimpangan Sejarah, di Tengah Konflik Dunia
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Rekomendasi
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Dikabulkan Hakim, Pakar: Bukan Berarti Perkara Selesai
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
Berita Terkini
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
MNC Peduli dan Yayasan...
MNC Peduli dan Yayasan Jalinan Kasih Sudah Operasi Lebih dari 5.000 Pasien Bibir Sumbing Sejak 2004
Gelar Operasi Sumbing...
Gelar Operasi Sumbing Gratis, MNC Peduli dan Smiletrain Indonesia Gandeng RS Azra Bogor
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
Pemberdayaan Masyarakat...
Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved