Dr Oen, Dokter Pejuang Kemerdekaan, Penolong Wong Cilik hingga Jenderal Sudirman
Jum'at, 15 April 2022 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Dokter Oen orang yang amat sederhana, seluruh daya hidupnya digunakan untuk menolong orang lain. Ia membuka praktek di rumahnya di wilayah Pasar Legi Solo, uniknya Dokter Oen selalu membuka Praktek jam 3 pagi, Dokter Oen senang dengan angka 3, ia lahir 3 Maret 1903 artinya : 333, angka 3 dalam mitologi angka Cina adalah "berlari" atau ada arti lain "mengubah" Dokter Oen berprinsip mengubah dari yang sakit menjadi sehat.
Baca Juga: Kisah Laskar Wanita BKR Beranggotakan Gadis dan Janda yang Penggal Komandan Gurkha
Orang-orang susah seperti tukang becak, pedagang kecil, tukang sapu jalanan, kuli pasar semuanya berobat ke Dokter Oen, di pojok ruang praktek ada kotak uang, bagi pasien semampunya memasukkan uang di kotak uang itu, hal ini ia lakukan sama dengan kakeknya.
Tidak jarang Dokter Oen malah nombok, pernah suatu saat ada orang terkena penyakit lever parah, dokter Oen dengan tekun mengobati, bila tahu pasiennya adalah orang miskin, ia selalu bertanya "naik apa ke sini" bila dijawabnya naik becak, ia sendiri yang membayari ongkos becak si sakit. Dokter Oen ikhlas membantu pasien siapapun orangnya, pintu rumahnya selalu terbuka.
Orang Solo menganggap Dokter Oen adalah Pahlawan mereka, ketika Dokter Oen meninggal dunia pada tahun 1982, ribuan rakyat jelata Solo, seperti tukang becak, pedagang pasar, tukang parkir, bakul batik menyambangi dokter Oen, berbaris-baris rakyat melambaikan tangan saat jenasah dokter Oen melewati jalanan Slamet Riyadi, ribuan orang menangis menyaksikan Pahlawannya pergi dan meninggalkan kenangan akan kemurahan hatinya sebagai manusia, seorang 'dokter yang menghargai kemanusiaan'. Dr Oen dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Toemenggoeng Hario Obi Darmohoesodo oleh Puro Mangkunegaran pada 11 September 1975.
Baca Juga: Kisah Laskar Wanita BKR Beranggotakan Gadis dan Janda yang Penggal Komandan Gurkha
Orang-orang susah seperti tukang becak, pedagang kecil, tukang sapu jalanan, kuli pasar semuanya berobat ke Dokter Oen, di pojok ruang praktek ada kotak uang, bagi pasien semampunya memasukkan uang di kotak uang itu, hal ini ia lakukan sama dengan kakeknya.
Tidak jarang Dokter Oen malah nombok, pernah suatu saat ada orang terkena penyakit lever parah, dokter Oen dengan tekun mengobati, bila tahu pasiennya adalah orang miskin, ia selalu bertanya "naik apa ke sini" bila dijawabnya naik becak, ia sendiri yang membayari ongkos becak si sakit. Dokter Oen ikhlas membantu pasien siapapun orangnya, pintu rumahnya selalu terbuka.
Orang Solo menganggap Dokter Oen adalah Pahlawan mereka, ketika Dokter Oen meninggal dunia pada tahun 1982, ribuan rakyat jelata Solo, seperti tukang becak, pedagang pasar, tukang parkir, bakul batik menyambangi dokter Oen, berbaris-baris rakyat melambaikan tangan saat jenasah dokter Oen melewati jalanan Slamet Riyadi, ribuan orang menangis menyaksikan Pahlawannya pergi dan meninggalkan kenangan akan kemurahan hatinya sebagai manusia, seorang 'dokter yang menghargai kemanusiaan'. Dr Oen dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Toemenggoeng Hario Obi Darmohoesodo oleh Puro Mangkunegaran pada 11 September 1975.
(aww)
Lihat Juga :