Muslihat Snouck Hurgronje Melemahkan Islam di Aceh
Kamis, 07 April 2022 - 05:35 WIB
loading...
A
A
A
Dalam buku "Snouck Hurgronje, Seorang Agnostik & Munafik Tulen (bag 1)" yang terbit 19 Mei 2013, dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang dijelaskannya dalam surat yang dia kirim kepada teman kuliah, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan diPerpustakaan Universitas Heidelberg.
Hurgronje menjadi profesor Melayu pada 1889 diUniversitas Leidendan penasihat resmi pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi diAcehdan posisiIslamdiHindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.
Baca Juga: Malaysia Klaim Reog sebagai Warisan Budaya ke UNESCO, Seniman Ponorogo Meradang
Dalam perang Aceh(1873-1913), Hurgronje memainkan peran merancang strategi untuk menghancurkan perlawanan penduduk Aceh, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka. Kesuksesannya dalamPerang Acehmemberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial.
Ketika koloniHindia Belanda(sekarang: Indonesia) didirikan pada 1800, agama monoteistik dominan bagi sebagian besar masyarakat adat di Hindia Belanda adalahIslam. Karena sinkretisme agama yang kuat, bentuk Islam dicampur dengan unsur-unsur dari agama yang lebih tua.
Hurgronje menjadi profesor Melayu pada 1889 diUniversitas Leidendan penasihat resmi pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi diAcehdan posisiIslamdiHindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.
Baca Juga: Malaysia Klaim Reog sebagai Warisan Budaya ke UNESCO, Seniman Ponorogo Meradang
Dalam perang Aceh(1873-1913), Hurgronje memainkan peran merancang strategi untuk menghancurkan perlawanan penduduk Aceh, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka. Kesuksesannya dalamPerang Acehmemberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial.
Ketika koloniHindia Belanda(sekarang: Indonesia) didirikan pada 1800, agama monoteistik dominan bagi sebagian besar masyarakat adat di Hindia Belanda adalahIslam. Karena sinkretisme agama yang kuat, bentuk Islam dicampur dengan unsur-unsur dari agama yang lebih tua.
(aww)
Lihat Juga :