Bocah di Muara Enim Lumpuh dan Buta Pasca Operasi, 6 Tahun Bertahan Tanpa Bantuan
Sabtu, 02 April 2022 - 14:38 WIB
loading...
A
A
A
"Awalnya kami rutin membawanya untuk terapi, setidaknya dalam satu tahun pertama. Tapi lama-lama semakin jarang lantaran ekonomi kami tak mampu lagi pak," jelas pria yang kesehariannya hanya bekerja serabutan tersebut.
Akibat kesulitan ekonomi tersebut, alhasil dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tidak ada tindakan medis yang berarti yang dapat dilakukan untuk proses kesembuhan Aditya.
Dengan kondisi tersebut, tak ayal membuat Hendri dan sang istri terpaksa harus menahan kesedihan yang cukup mendalam, lantaran melihat kondisi Aditya yang terkulai lemah dalam kesehariannya akibat kelumpuhan dan kebutaan yang di derita sang anak.
"Pekerjaan saya serabutan pak, tanpa penghasilan tetap. Sementara istri di rumah harus menjaga dan merawat Aditya. Jangankan untuk biaya terapi, untuk biaya kontrakan rumah dan hidup sehari-hari terkadang hanya pas-pasan," sambung Hendri.
Ketika ditanya terkait adakah bantuan dari pihak pemerintah, Hendri mengatakan, dulu saat anaknya menjalani operasi sempat ada bantuan dari pihak Pemprov Sumsel. Namun setelahnya, untuk biaya berobat dan terapi praktis seluruh biaya ditanggung pribadi. Baca juga: Alami Kelumpuhan Sejak Usia 2 Bulan, Fitri Impikan Miliki Kursi Roda
Hendri mengaku, lantaran kesulitan ekonomi, ia bersama sang istri sempat beberapa kali menghadap ke Pemerintah Desa (Pemdes) setempat untuk dibantu dalam pembuatan BPJS kesehatan gratis, maupun bantuan serupa lainnya, namun permintaan mereka tak juga mendapat respon.
Namun lanjut Hendri, beruntungnya saat ini pihak Pemdes Segayam melalui Kepala Desa (Kades) yang baru, cukup responsif dalam mambantu usaha pengobatan Aditya.
Akibat kesulitan ekonomi tersebut, alhasil dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tidak ada tindakan medis yang berarti yang dapat dilakukan untuk proses kesembuhan Aditya.
Dengan kondisi tersebut, tak ayal membuat Hendri dan sang istri terpaksa harus menahan kesedihan yang cukup mendalam, lantaran melihat kondisi Aditya yang terkulai lemah dalam kesehariannya akibat kelumpuhan dan kebutaan yang di derita sang anak.
"Pekerjaan saya serabutan pak, tanpa penghasilan tetap. Sementara istri di rumah harus menjaga dan merawat Aditya. Jangankan untuk biaya terapi, untuk biaya kontrakan rumah dan hidup sehari-hari terkadang hanya pas-pasan," sambung Hendri.
Ketika ditanya terkait adakah bantuan dari pihak pemerintah, Hendri mengatakan, dulu saat anaknya menjalani operasi sempat ada bantuan dari pihak Pemprov Sumsel. Namun setelahnya, untuk biaya berobat dan terapi praktis seluruh biaya ditanggung pribadi. Baca juga: Alami Kelumpuhan Sejak Usia 2 Bulan, Fitri Impikan Miliki Kursi Roda
Hendri mengaku, lantaran kesulitan ekonomi, ia bersama sang istri sempat beberapa kali menghadap ke Pemerintah Desa (Pemdes) setempat untuk dibantu dalam pembuatan BPJS kesehatan gratis, maupun bantuan serupa lainnya, namun permintaan mereka tak juga mendapat respon.
Namun lanjut Hendri, beruntungnya saat ini pihak Pemdes Segayam melalui Kepala Desa (Kades) yang baru, cukup responsif dalam mambantu usaha pengobatan Aditya.
Lihat Juga :