Kisah di Balik Monumen Soekarno Rancangan Ridwan Kamil di Aljazair
Rabu, 17 Juni 2020 - 12:03 WIB
loading...
A
A
A
Gubernur Aljir pun kemudian menyediakan lahan di pusat kota tempat dimana Monumen Soekarno dibangun. Monumen dirancang setengah lingkaran berbentuk bulan sabit dengan lima lingkaran dan di bagian tengahnya berdiri patung Soekarno yang menghadap ke dua sisi. (Baca juga: Sembilan Pejuang Kemerdekaan Terbesar, Ada Soekarno dan William Wallace )
"Ada bulan sabit sebagai lambang Aljazair, ada lima lingkaran sebagai simbol Pancasila, simbol falsafahnya orang Indonesia, dan di tengahnya itulah sosok Bung Karno kita bangun," terang Kang Emil.
Dalam pembangunan monumen tersebut, Kang Emil berkolaborasi dengan seniman Dolorosa Sinaga. Menurutnya, gaya seni Dolorosa sangat tepat karena menunjukkan tampilan patung Soekarno yang sama di kedua sisi, sehingga tampak menyapa pengguna jalan dari kedua arah.
"Setelah itu saya menghubungi Ibu Dolo (Dolorosa Sinaga) untuk merancang bentuk patungnya. Saya pikir gaya seni Ibu Dolo yang baru dua dimensi, tapi tiga dimensi, dari depan sama, dari belakang sama. Dengan pilihan ibu Dolo itu, menurut saya pilihan yang paling jenius. Inilah yang menjadi (rancangan) final," tuturnya.
Kang Emil mengatakan, Monumen Soekarno kini sudah selesai dibangun. Meski begitu, dia mengakui, dalam prosesnya terdapat sejumlah hambatan, salah satunya biaya pembangunan. Namun, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah PT Pertamina mendanai penuh pembangunan monumen.
"Dengan izin Allah SWT, akhirnya berdirilah patung Bung Karno dengan posisi yang sangat heroik dengan teknik seni yang juga baru dan secara urban ini jenius karena tampak depan dan belakang tetap menyapa. Biaya pembangunannya disponsori penuh Pertamina, dikerjakan oleh kontraktor orang-orang Indonesia di Afrika, dan difasilitasi luar biasa perjuangan ini oleh ibu Dubes," paparnya seraya mengatakan, kisah ini menandakan bahwa sesulit apapun persoalan akan selesai jika diiringi kekompakan dan kepedulian.
"Ada bulan sabit sebagai lambang Aljazair, ada lima lingkaran sebagai simbol Pancasila, simbol falsafahnya orang Indonesia, dan di tengahnya itulah sosok Bung Karno kita bangun," terang Kang Emil.
Dalam pembangunan monumen tersebut, Kang Emil berkolaborasi dengan seniman Dolorosa Sinaga. Menurutnya, gaya seni Dolorosa sangat tepat karena menunjukkan tampilan patung Soekarno yang sama di kedua sisi, sehingga tampak menyapa pengguna jalan dari kedua arah.
"Setelah itu saya menghubungi Ibu Dolo (Dolorosa Sinaga) untuk merancang bentuk patungnya. Saya pikir gaya seni Ibu Dolo yang baru dua dimensi, tapi tiga dimensi, dari depan sama, dari belakang sama. Dengan pilihan ibu Dolo itu, menurut saya pilihan yang paling jenius. Inilah yang menjadi (rancangan) final," tuturnya.
Kang Emil mengatakan, Monumen Soekarno kini sudah selesai dibangun. Meski begitu, dia mengakui, dalam prosesnya terdapat sejumlah hambatan, salah satunya biaya pembangunan. Namun, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah PT Pertamina mendanai penuh pembangunan monumen.
"Dengan izin Allah SWT, akhirnya berdirilah patung Bung Karno dengan posisi yang sangat heroik dengan teknik seni yang juga baru dan secara urban ini jenius karena tampak depan dan belakang tetap menyapa. Biaya pembangunannya disponsori penuh Pertamina, dikerjakan oleh kontraktor orang-orang Indonesia di Afrika, dan difasilitasi luar biasa perjuangan ini oleh ibu Dubes," paparnya seraya mengatakan, kisah ini menandakan bahwa sesulit apapun persoalan akan selesai jika diiringi kekompakan dan kepedulian.
Lihat Juga :