Timbulkan Korban Jiwa, Petilasan Keramat Empu Supo Ditutup Sementara
Kamis, 24 Maret 2022 - 03:34 WIB
loading...
Evakuasi korban ritual tolak hujan. Foto: Pipiet/SINDOnews
A
A
A
TUBAN - Lokasi Perapen atau Petilasan Empu Supo di Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, ditutup sementara waktu. Hal ini menyusul tewasnya dua orang warga saat ritual tolak hujan di kawasan itu.
Kapolsek Grabagan Iptu Darmanto mengatakan, penutupan dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban kembali.
"Kegiatan ritual di tempat itu juga dilarang, karena pada pagi hari racun yang ditimbulkan akibat belerang masih menggumpal di lokasi. Ditambah pagi masih berembun dan belum ada matahari," katanya, Rabu (23/3/2022).
Baca juga: Ritual Tolak Hujan di Kolam Keramat Mpu Supo Berujung Maut, Ibu dan Anak Tewas Hirup Gas Beracun
Dijelaskan dia, kedua korban tewas dalam peristiwa itu masih keluarga, yakni ibu dan anak. Terdiri dari Marsih dan Mariyanto. Keduanya meninggal saat melakukan ritual agar tidak turun hujan.
Petilasan Empu Supo dikenal keramat. Empu Supo sendiri dikenal sakti, pembuat keris pada masa Kerajaan Majapahit.
"Keduanya melakukan ritual tidak turun hujan, karena mau panen padi. Awalnya, Marsih yang melakukan ritual. Tetapi karena tidak kunjung pulang, anaknya Mariyanto menyusul ke lokasi kejadian," sambungnya.
Kapolsek Grabagan Iptu Darmanto mengatakan, penutupan dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban kembali.
"Kegiatan ritual di tempat itu juga dilarang, karena pada pagi hari racun yang ditimbulkan akibat belerang masih menggumpal di lokasi. Ditambah pagi masih berembun dan belum ada matahari," katanya, Rabu (23/3/2022).
Baca juga: Ritual Tolak Hujan di Kolam Keramat Mpu Supo Berujung Maut, Ibu dan Anak Tewas Hirup Gas Beracun
Dijelaskan dia, kedua korban tewas dalam peristiwa itu masih keluarga, yakni ibu dan anak. Terdiri dari Marsih dan Mariyanto. Keduanya meninggal saat melakukan ritual agar tidak turun hujan.
Petilasan Empu Supo dikenal keramat. Empu Supo sendiri dikenal sakti, pembuat keris pada masa Kerajaan Majapahit.
"Keduanya melakukan ritual tidak turun hujan, karena mau panen padi. Awalnya, Marsih yang melakukan ritual. Tetapi karena tidak kunjung pulang, anaknya Mariyanto menyusul ke lokasi kejadian," sambungnya.
Lihat Juga :