Kisah Kiai Amin, Gigih Melawan Penjajah dan Ditembak Mati Usai Kumandangkan Adzan
Rabu, 23 Maret 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Amin telah menimbah ilmu di beberapa pondok pesantren, yakni di Tebuireng, Termas, Ngeloh, Sepanjang, Kediri dan Maskumambang. Dia bahkan bermukim di Mekkah pada tahun 1936.
Dalam hal ibadah shalat, Kiai Amin amat keras berpegang kepada Sunnah. Misalnya, tidak mau menggunakan alas sajadah yang bergambar apa pun. Bahkan dalam pelaksanaan shalat Jumat Kiai Amin amat tegas dan hanya menerapkan sekali adzan dan tidak menyukai masjid yang dilengkapi bedug atau kentongan.
Sebagai komandan tentara Hizbullah wilayah pantura yang meliputi Lamongan, Tuban, dan Gresik ia bersama ribuan santri berangkat ke Surabaya untuk menggempur penjajah, turut serta beberapa kiai dalam peperangan seperti KH Abdurrahman Syamsuri, Kiai Ridlwan Syarqowi (pendiri Pondok Modern Muhammadiyah Paciran), KH Anwar Mu’rot, KH Adnan Noer (Blimbing), KH Anshory (Brondong), KH Sa’dullah (Blimbing) dan beberapa kiai lainnya.
Baca juga: Sosok Ratu Kalinyamat, Kegigihannya Membebaskan Malaka Diakui Portugis
Dalam peperangan di Surabaya, kisah Kiai Amin cukup legendaris hingga sekarang yakni tidak mempan senjata maupun peluru. Dia juga dikabarkan tidak mati, meski dilempari bom. Tapi beliau mengatakan, “Tidak mati karena bomnya meleset.”
Namun takdir berkata lain, di usianya yang masih terbilang muda yakni 39 tahun, Kiai Amin tertangkap bersama 6 orang anak buahnya dan ditembak mati usai mengumandangkan adzan, tepatnya tanggal 10 November 1945, dan dimakamkan di Desa Dagan, Kecamatan Solokuro.
Meski demikian, namanya tetap dikenang sebagai seorang ulama pemberani yang gigih memperjuangkan bangsa dan Negara dari pejajah. Bahkan, tetap bisa dijumpai di salah satu sudut jalan di Kota Lamongan. (sumber: berbagai sumber).
Dalam hal ibadah shalat, Kiai Amin amat keras berpegang kepada Sunnah. Misalnya, tidak mau menggunakan alas sajadah yang bergambar apa pun. Bahkan dalam pelaksanaan shalat Jumat Kiai Amin amat tegas dan hanya menerapkan sekali adzan dan tidak menyukai masjid yang dilengkapi bedug atau kentongan.
Sebagai komandan tentara Hizbullah wilayah pantura yang meliputi Lamongan, Tuban, dan Gresik ia bersama ribuan santri berangkat ke Surabaya untuk menggempur penjajah, turut serta beberapa kiai dalam peperangan seperti KH Abdurrahman Syamsuri, Kiai Ridlwan Syarqowi (pendiri Pondok Modern Muhammadiyah Paciran), KH Anwar Mu’rot, KH Adnan Noer (Blimbing), KH Anshory (Brondong), KH Sa’dullah (Blimbing) dan beberapa kiai lainnya.
Baca juga: Sosok Ratu Kalinyamat, Kegigihannya Membebaskan Malaka Diakui Portugis
Dalam peperangan di Surabaya, kisah Kiai Amin cukup legendaris hingga sekarang yakni tidak mempan senjata maupun peluru. Dia juga dikabarkan tidak mati, meski dilempari bom. Tapi beliau mengatakan, “Tidak mati karena bomnya meleset.”
Namun takdir berkata lain, di usianya yang masih terbilang muda yakni 39 tahun, Kiai Amin tertangkap bersama 6 orang anak buahnya dan ditembak mati usai mengumandangkan adzan, tepatnya tanggal 10 November 1945, dan dimakamkan di Desa Dagan, Kecamatan Solokuro.
Meski demikian, namanya tetap dikenang sebagai seorang ulama pemberani yang gigih memperjuangkan bangsa dan Negara dari pejajah. Bahkan, tetap bisa dijumpai di salah satu sudut jalan di Kota Lamongan. (sumber: berbagai sumber).
(nic)
Lihat Juga :