Kilau Sinar Betis Indah Ratu Laut Selatan yang Membuat Penguasa Mataram Terhenyak
Senin, 28 Februari 2022 - 05:52 WIB
loading...
Lukisan Nyi Roro Kidul karya Gunawan Kartapranata. Foto/Wikipedia/Gunawan Kartapranata
A
A
A
Tempat-tempat sunyi yang sakral, acap kali disinggahi Danang Sutawijaya. Kebiasaan menyinggahi tempat-tempat sunyi dan sakral ini, dilakukan Raja Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senopati tersebut, untuk bersemedi dan laku tirakat.
Baca juga: Awal Mula Panembahan Senopati Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Di hutan yang bernama Alas Mentaok yang kelak menjadi Kerajaan Mataram Islam, Sutawijaya bertempat tinggal. Ia hidup bersama ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, dan pamannya, Ki Juru Mertani.
Alas Mentaok merupakan hadiah Sultan Pajang Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, atas jasa Sutawijaya yang berhasil membunuh Adipati Jipang, Aryo Penangsang. Di saat yang sama Jaka Tingkir juga memberi hadiah wilayah Kademangan Pati kepada Ki Panjawi, adik Ki Ageng Pemanahan.
Baca juga: Asyik Berkeringat Tanpa Baju di Kamar Hotel, 3 Pasangan Ini Kaget Digedor Polisi
Di tangan Sutawijaya, Alas Mentaok yang sebelumnya berupa kawasan hutan berubah menjadi permukiman warga. Dari semula wilayah pedesaan menjelma menjadi Kademangan Mentaok atau Kademangan Mataram yang secara pemerintahan di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang.
Suatu ketika Sutawijaya kena marah Ki Ageng Pemanahan yang telah ditegur Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam buku "Di Antara Kali Progo Dan Kali Opak" disebutkan, persoalan itu dipicu ulah Sutawijaya yang membangun benteng mengelilingi Kademangan Mataram.
Sutawijaya juga menanam beringin kurung di alun-alun, dan tiga kali tidak hadir dalam acara Perapatan Agung yang digelar Sultan Hadiwijaya. Apa yang dilakukan Danang Sutawijaya ditafsirkan sebagai upaya pembangkangan terhadap Pajang.
Usai ditegur Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan langsung datang ke Kademangan Mataram untuk menemui Danang Sutawijaya. Ki Ageng Pemanahan sontak memarahi putra lelakinya.
"Apa maksudmu membangun benteng tinggi yang mengitari kademangan?, apa maksudmu memelihara beringin kurung?, apa maksudmu memperkuat prajuritmu? Lekas jelaskan!," bentak Ki Ageng Pemanahan seperti ditulis Krishna Mihardja dalam buku "Di Antara Kali Progo Dan Kali Opak".
Baca juga: 3 Mitos Mengerikan di Pantai Selatan Jawa, Ternyata Ini Fakta Sainsnya
Melihat murka ayahnya, di pendopo Kademangan Mataram tersebut, Sutawijaya kaget dan seketika terdiam. Sejurus kemudian ia baru berani membuka suara. Sutawijaya beralasan, apa yang dilakukan semata untuk mendapatkan keindahan dan ketentraman di Kademangan Mataram.
Baca juga: Awal Mula Panembahan Senopati Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Di hutan yang bernama Alas Mentaok yang kelak menjadi Kerajaan Mataram Islam, Sutawijaya bertempat tinggal. Ia hidup bersama ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, dan pamannya, Ki Juru Mertani.
Alas Mentaok merupakan hadiah Sultan Pajang Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, atas jasa Sutawijaya yang berhasil membunuh Adipati Jipang, Aryo Penangsang. Di saat yang sama Jaka Tingkir juga memberi hadiah wilayah Kademangan Pati kepada Ki Panjawi, adik Ki Ageng Pemanahan.
Baca juga: Asyik Berkeringat Tanpa Baju di Kamar Hotel, 3 Pasangan Ini Kaget Digedor Polisi
Di tangan Sutawijaya, Alas Mentaok yang sebelumnya berupa kawasan hutan berubah menjadi permukiman warga. Dari semula wilayah pedesaan menjelma menjadi Kademangan Mentaok atau Kademangan Mataram yang secara pemerintahan di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang.
Suatu ketika Sutawijaya kena marah Ki Ageng Pemanahan yang telah ditegur Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam buku "Di Antara Kali Progo Dan Kali Opak" disebutkan, persoalan itu dipicu ulah Sutawijaya yang membangun benteng mengelilingi Kademangan Mataram.
Sutawijaya juga menanam beringin kurung di alun-alun, dan tiga kali tidak hadir dalam acara Perapatan Agung yang digelar Sultan Hadiwijaya. Apa yang dilakukan Danang Sutawijaya ditafsirkan sebagai upaya pembangkangan terhadap Pajang.
Usai ditegur Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan langsung datang ke Kademangan Mataram untuk menemui Danang Sutawijaya. Ki Ageng Pemanahan sontak memarahi putra lelakinya.
"Apa maksudmu membangun benteng tinggi yang mengitari kademangan?, apa maksudmu memelihara beringin kurung?, apa maksudmu memperkuat prajuritmu? Lekas jelaskan!," bentak Ki Ageng Pemanahan seperti ditulis Krishna Mihardja dalam buku "Di Antara Kali Progo Dan Kali Opak".
Baca juga: 3 Mitos Mengerikan di Pantai Selatan Jawa, Ternyata Ini Fakta Sainsnya
Melihat murka ayahnya, di pendopo Kademangan Mataram tersebut, Sutawijaya kaget dan seketika terdiam. Sejurus kemudian ia baru berani membuka suara. Sutawijaya beralasan, apa yang dilakukan semata untuk mendapatkan keindahan dan ketentraman di Kademangan Mataram.
Lihat Juga :