Awal Mula Panembahan Senopati Bercinta dengan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan
Minggu, 19 Desember 2021 - 07:19 WIB
loading...
Ilustrasi Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul dan Laut Selatan. Foto Dokumentasi SINDOnews
A
A
A
Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, raja pertama Mataram , membuat gempar segoro kidul (Laut Selatan). Saat putra Ki Ageng Pamanahan itu berdiri di tepi samudera, mendadak muncul angin puting beliung bercampur hujan deras. Badai itu mendatangkan suara mengerikan.
Gelombang setinggi gunung bergulung-gulung membuat pohon-pohon di pantai seketika ambruk. Air laut menjadi panas mendidih. Tak ayal, ikan-ikan mati menggelepar. Banyak juga ikan yang meloncat ke daratan, namun tetap juga menemui ajal lantaran menghantam batu karang.
Baca : Meurah Pupok, Putra Mahkota yang Dipenggal Sultan Iskandar Muda untuk Tegakkan Syariat Islam
Mengapa huru-hara ini terjadi? Tak lain itu dampak dari kekuatan doa yang dipanjatkan Panembahan Senopati kepada Yang Maha Kuasa. Prahara itu tak urung mengejutkan penguasa kerajaan laut selatan, seorang ratu cantik jelita, Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul. Dia pun membatin.
“Selama hidupku, belum pernah aku menyaksikan laut seperti ini. Kenapa ini? Apa kena gara-gara, apa karena matahari jatuh, atau apa mau kiamat,” kata Roro Kidul, disarikan dari buku ‘Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647’ yang ditulis sejarawan Belanda WL Olthof, dikutip, Sabtu (18/12/2021).
Olthof menerjemahkan, mahakarya sastra Jawa berupa tembang macapat ‘Babad Tanah Jawi’ yang mengisahkan tentang Mataram dan isinya serta silsilah raja-raja Jawa. Induk Babad Tanah Jawi mula-mula ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno atas perintah Pakubowono III dan telah beredar pada 1788.
Johannes Jacobus Meinsma lantas menerbitkan versi prosa dari induk tersebut pada pada 1874 yang dikerjakan Ngabehi Kertapraja. Karya Meinsma direproduksi oleh W L Olthof pada 1941. Namun menurut Merle Calvin Ricklefs, versi Meinsma dianggap bukan sumber utama untuk riset sejarah.
Gelombang setinggi gunung bergulung-gulung membuat pohon-pohon di pantai seketika ambruk. Air laut menjadi panas mendidih. Tak ayal, ikan-ikan mati menggelepar. Banyak juga ikan yang meloncat ke daratan, namun tetap juga menemui ajal lantaran menghantam batu karang.
Baca : Meurah Pupok, Putra Mahkota yang Dipenggal Sultan Iskandar Muda untuk Tegakkan Syariat Islam
Mengapa huru-hara ini terjadi? Tak lain itu dampak dari kekuatan doa yang dipanjatkan Panembahan Senopati kepada Yang Maha Kuasa. Prahara itu tak urung mengejutkan penguasa kerajaan laut selatan, seorang ratu cantik jelita, Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul. Dia pun membatin.
“Selama hidupku, belum pernah aku menyaksikan laut seperti ini. Kenapa ini? Apa kena gara-gara, apa karena matahari jatuh, atau apa mau kiamat,” kata Roro Kidul, disarikan dari buku ‘Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647’ yang ditulis sejarawan Belanda WL Olthof, dikutip, Sabtu (18/12/2021).
Olthof menerjemahkan, mahakarya sastra Jawa berupa tembang macapat ‘Babad Tanah Jawi’ yang mengisahkan tentang Mataram dan isinya serta silsilah raja-raja Jawa. Induk Babad Tanah Jawi mula-mula ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno atas perintah Pakubowono III dan telah beredar pada 1788.
Johannes Jacobus Meinsma lantas menerbitkan versi prosa dari induk tersebut pada pada 1874 yang dikerjakan Ngabehi Kertapraja. Karya Meinsma direproduksi oleh W L Olthof pada 1941. Namun menurut Merle Calvin Ricklefs, versi Meinsma dianggap bukan sumber utama untuk riset sejarah.
Lihat Juga :