Kisah Perang Saudara Kerajaan Majapahit, Kepala Bhre Wirabhumi Dipenggal oleh Prajurit Raja Suhita
Rabu, 09 Februari 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Dalam buku "700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai" keluarga Wikramawardhana disebut sebagai kelompok Keraton Kulon (Barat). Sementara keluarga Bhre Wirabhumi disebut sebagai kelompok Keraton Etan (Timur). Dalam perang Paregreg, Keraton Barat mendapat bantuan dari Bhre Tumapel, Bhre Hyang Parameswara.
Bhre Wirabhumi sendiri akhirnya berhasil ditangkap oleh pemimpin pasukan Keraton Kulon, yakni Raden Gajah. Dan akhirnya kepala Bhre Wirabhumi dipenggal oleh Raden Gajah. Baca juga: Negosiasi Mantan Diplomat Berhasil Bebaskan Wartawan AS dari Penjara Myanmar
Terbunuhnya Bhre Wirabhumi dengan cara dipenggal, ternyata tidak serta-merta pertentangan dua keluarga tersebut berakhir. Bahkan, Raden Gajah yang memenggal kepala Bhre Wirabhumi pun akhir terbunuh. Suhita akhirnya mangkat pada tahun 1447 masehi.
Karena Suhita belum memiliki anak, akhirnya takhta Raja Majapahit digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Setelah Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya mangkat, posisinya sebagai raja digantikan oleh Bhre Pamotan, dengan gelar Sri Rajasawardhana, dan lebih dikenal dengan nama Sang Sinagara.
Dalam Kitab Pararaton, Sri Rajasawardhana menjadi raja Majapahit yang berkedudukan di Keling-Kahuripan. Dalam tulisannya, Riboet Darmosoetopo menyebutkan, ada dugaan pada masa kepemimpinan Sri Rajasawardhana, terjadi pemindahan pusat kerajaan ke Keling-Kahuripan.
Kondisi ini diperkirakan akibat masih terjadinya pertentangan dua keluarga di pusat kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit, sempat mengalami kekosongan kepemimpinan selama tiga tahun. Tepatnya, saat Sri Rajasawardhana mangkat pada tahun 1453 masehi.
Hingga akhirnya, pada tahun 1456 masehi Dyah Suryyawikrama Girindrawardhana, anak dari Dyah Kertawijaya, naik takhta. Selama 10 tahun lamanya Dyah Suryyawikrama Girindrawardhana mengisi tampuk kepemimpinan Majapahit, hingga akhirnya mangkat, dan digantikan oleh Bhre Pandan Salas, yang bergelar Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana.
Bhre Wirabhumi sendiri akhirnya berhasil ditangkap oleh pemimpin pasukan Keraton Kulon, yakni Raden Gajah. Dan akhirnya kepala Bhre Wirabhumi dipenggal oleh Raden Gajah. Baca juga: Negosiasi Mantan Diplomat Berhasil Bebaskan Wartawan AS dari Penjara Myanmar
Terbunuhnya Bhre Wirabhumi dengan cara dipenggal, ternyata tidak serta-merta pertentangan dua keluarga tersebut berakhir. Bahkan, Raden Gajah yang memenggal kepala Bhre Wirabhumi pun akhir terbunuh. Suhita akhirnya mangkat pada tahun 1447 masehi.
Karena Suhita belum memiliki anak, akhirnya takhta Raja Majapahit digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Setelah Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya mangkat, posisinya sebagai raja digantikan oleh Bhre Pamotan, dengan gelar Sri Rajasawardhana, dan lebih dikenal dengan nama Sang Sinagara.
Dalam Kitab Pararaton, Sri Rajasawardhana menjadi raja Majapahit yang berkedudukan di Keling-Kahuripan. Dalam tulisannya, Riboet Darmosoetopo menyebutkan, ada dugaan pada masa kepemimpinan Sri Rajasawardhana, terjadi pemindahan pusat kerajaan ke Keling-Kahuripan.
Kondisi ini diperkirakan akibat masih terjadinya pertentangan dua keluarga di pusat kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit, sempat mengalami kekosongan kepemimpinan selama tiga tahun. Tepatnya, saat Sri Rajasawardhana mangkat pada tahun 1453 masehi.
Hingga akhirnya, pada tahun 1456 masehi Dyah Suryyawikrama Girindrawardhana, anak dari Dyah Kertawijaya, naik takhta. Selama 10 tahun lamanya Dyah Suryyawikrama Girindrawardhana mengisi tampuk kepemimpinan Majapahit, hingga akhirnya mangkat, dan digantikan oleh Bhre Pandan Salas, yang bergelar Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana.
Lihat Juga :