Tongkat Sakti Sunan Bonang Ubah Pohon Jadi Emas dan Keluarkan Mata Air
Kamis, 27 Januari 2022 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi Sunan Bonang tidak punya uang. Dia hanya membawa tongkat sakti yang selalu dibawa kemana dia pergi.
Baca: Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani
Dengan tongkatnya, dia lalu menunjuk sebuah pohon Aren yang berada tidak jauh di depannya. Dengan kesaktiannya, buah pohon Aren itu diubah menjadi emas. Melihat karomah itu, Raden Said langsung bersimpuh di kaki Sunan Bonang.
Dia bahkan meminta agar dijadikan murid Sunan Bonang. Permintaan itu dikabulkan, dengan syarat Raden Said harus menjaga tongkatnya, sampai dia kembali ke tempat itu. Raden Said pun menyanggupinya syarat Sunan Bonang.
Tongkat pun ditancapkan di pinggir kali. Raden Said lalu duduk bersila di atas batu menunggui tongkat itu. Sedangkan Sunan Bonang pergi melanjutnya syiar Islam. Setelah bertahun-tahun kemudian, dia kembali ke tempat itu.
Baca: Gus Jazil Napak Tilas ke Makam 2 Tokoh Penyebar Islam di Jawa Barat
Ternyata benar, Raden Said masih bertapa menunggui tongkat itu. Seluruh tubuh Raden Said sudah dipenuhi oleh semak belukar. Raden Said pun dibangunkan dan diajak ke pondok pesantren untuk mendalami ilmu agama Islam.
Setelah berhasil menguasai ilmu agama tingkat tinggi, Raden Said pun diberi gelar dan menjadi Sunan Kalijaga.
Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagi hari ini ditutup, semoga memberikan manfaat. Kritik dan saran atas ulasan ini sangat diharapkan penulis.
Sumber tulisan:
1. Asti Musman, Sunan Bonang Wali Keramat, Araska, 2021.
2. Edy Santosa, Cerita Rakyat Tuban, Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), 2004.
Baca: Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani
Dengan tongkatnya, dia lalu menunjuk sebuah pohon Aren yang berada tidak jauh di depannya. Dengan kesaktiannya, buah pohon Aren itu diubah menjadi emas. Melihat karomah itu, Raden Said langsung bersimpuh di kaki Sunan Bonang.
Dia bahkan meminta agar dijadikan murid Sunan Bonang. Permintaan itu dikabulkan, dengan syarat Raden Said harus menjaga tongkatnya, sampai dia kembali ke tempat itu. Raden Said pun menyanggupinya syarat Sunan Bonang.
Tongkat pun ditancapkan di pinggir kali. Raden Said lalu duduk bersila di atas batu menunggui tongkat itu. Sedangkan Sunan Bonang pergi melanjutnya syiar Islam. Setelah bertahun-tahun kemudian, dia kembali ke tempat itu.
Baca: Gus Jazil Napak Tilas ke Makam 2 Tokoh Penyebar Islam di Jawa Barat
Ternyata benar, Raden Said masih bertapa menunggui tongkat itu. Seluruh tubuh Raden Said sudah dipenuhi oleh semak belukar. Raden Said pun dibangunkan dan diajak ke pondok pesantren untuk mendalami ilmu agama Islam.
Setelah berhasil menguasai ilmu agama tingkat tinggi, Raden Said pun diberi gelar dan menjadi Sunan Kalijaga.
Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagi hari ini ditutup, semoga memberikan manfaat. Kritik dan saran atas ulasan ini sangat diharapkan penulis.
Sumber tulisan:
1. Asti Musman, Sunan Bonang Wali Keramat, Araska, 2021.
2. Edy Santosa, Cerita Rakyat Tuban, Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), 2004.
(hsk)
Lihat Juga :