Kerja Sama dengan Perusahaan Farmasi Diperlukan untuk Produksi Vaksin

Kamis, 11 Juni 2020 - 11:19 WIB
loading...
Kerja Sama dengan Perusahaan...
Produksi Vaksin, Kerja Sama Jaringan Perusahaan Farmasi Jadi Prioritas Foto/Reuters
A A A
LONDON - Pada saat para peneliti melakukan uji klinis kandidat vaksin Covid-19, proyeksi tentang produksi vaksin secara massal untuk memenuhi seluruh penduduk dunia juga menjadi pertimbangan. Kerja sama jaringan perusahaan farmasi di seluruh dunia menjadi prioritas yang dilakukan untuk menyelamatkan dunia.

World Economic Forum mengusulkan mekanisme kerja sama bagi para peneliti vaksin dan perusahaan vaksin. Itu bertujuan untuk melindungi, baik peneliti maupun perusahaan farmasi yang akan memproduksi vaksin secara massal. Apalagi uji klinis secara massal juga membutuhkan kerja sama dengan perusahaan vaksin.

Kepala Shaping the Future of Health and Healthcare di World Economic Forum (WEF) Arnaud Bernaert menyarankan pemanfaatan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) untuk memproduksi vaksin. Pasalnya, DCVMN merupakan jaringan perusahaan farmasi yang mampu memproduksi dan menjangkau 65% anggota WHO. (Baca juga: Palestina Puji Saudi Tolak Rencana Israel Caplok Tepi Barat)

“DCVMN memiliki jaringan 40 perusahaan farmasi yang berlokasi di negara berkembang, seperti India, Indonesia, South Korea, Brasil, China, Afrika Selatan yang bisa diajak bekerja sama,” kata Bernaert,l dilansir Weforum. Kenapa fokus di negara berkembang? Negara maju yang tergabung G-7 sudah memiliki skenario sendiri karena mereka yang melakukan penelitian dan memiliki jaringan perusahaan farmasi.

“Saat ini hanya tersedia kurang dari 10 kandidat vaksin dalam proses uji klinis,” kata Bernaert. Sedangkan 3,5 juta vaksin Covid-19 harus diproduksi untuk mencegah penyebaran virus korona dan mengakhiri pandemi ini.

Tantangan lainnya berkaitan dengan lisensi dan persetujuan dari peneliti untuk memproduksi vaksin korona secara massal. “Selanjutnya adalah vaksinasi secara global yang seharusnya memenuhi prinsip akses universal, kesetaraan, dan prioritas kepada penduduk yang rawan,” kata Bernaert.

Sebelumnya, perusahaan farmasi raksasa Inggris-Swedia, AstraZeneca, mendekati salah satu rivalnya dari AS, Gilead Sciences, untuk potensi merger. Melansir Bloomberg, upaya pendekatan itu telah dilakukan sejak bulan lalu. (Baca juga: RI Tegaskan Rencana Aneksasi Tepi Barat oleh Israel Ilegal)

Jika terwujud, merger perusahaan transatlantik itu akan menjadi perusahaan terbesar di dunia dengan nilai aset mencapai USD200 miliar. Itu juga akan menyatukan langkah perusahaan farmasi dalam mengembangkan vaksin dan pengobatan virus corona.

AstraZeneca yang berkantor pusat di Cambridge, Inggris, baru-baru ini mengambil alih Royal Dutch Shell. Gilead kini memiliki nilai mencapai USD96 miliar dan terus melakukan ekspansi.

AstraZeneca menghubungi Gilead pada Mei lalu dan tidak memberikan informasi transaksi tersebut. “Kita tidak berkomentar mengenai rumor atau spekulasi tersebut,” kata juru bicara AstraZeneca kepada Guardian.

Namun, sumber yang dekat dengan AstraZeneca mengungkapkan, upaya pendekatan tersebut sangat rasional karena perkembangan situasi saat ini. AstraZeneca memang menjadi garda depan dalam pengembangan vaksin dengan para peneliti Universitas Oxford. Vaksin mereka berpotensi sukses besar. (Baca juga: Terbang Dekat Perbatasan, Jet F22 AS Kawal Pembon TU-95M Rusia)

Sementara itu, obat antivirus Remdesivir yang diproduksi Gilead telah disepakati sebagai obat perawatan pasien Covid-19 di seluruh dunia. Mereka juga telah sukses melaksanakan uji klinis vaksin Covid-19. Bloomberg melaporkan, Gilead telah mendiskusikan rencana merger dengan para penasihatnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Raker di Surabaya,...
Gelar Raker di Surabaya, APDFI Gandeng OBATApps Bahas Peningkatan Kualitas PT Farmasi Berbasis IKU
Distribusi Apoteker...
Distribusi Apoteker di Indonesia Tak Merata, Lulusan STFI Didorong Mengabdi di Tanah Kelahiran
Tekan Angka Stunting,...
Tekan Angka Stunting, STFI Implementasikan Hasil Riset ke Masyarakat Bandung
Dinas Kesehatan KBB...
Dinas Kesehatan KBB Temukan 300 Dosis Vaksin Covid-19 Kedaluwarsa
Jokowi Namai Vaksin...
Jokowi Namai Vaksin Merah Putih Unair Inavac, Khofifah Bangga Indonesia Produksi Sendiri
OBAT Apps dan APDFI...
OBAT Apps dan APDFI Berkolaborasi untuk Implementasi Program Merdeka Belajar Kemendikbudristek
SwipeRx Sukses Gelar...
SwipeRx Sukses Gelar IPEC 2026 ke-IV, Satukan Lebih dari 1.500 Apoteker dalam Ajang Farmasi Terbesar di Indonesia
Strategi Bayern dalam...
Strategi Bayern dalam Dorong Pertumbuhan Bisnis Farmasi dan Sains di Masa Depan
5 Jurusan ITERA Paling...
5 Jurusan ITERA Paling Diminati di SNBP 2026, Ribuan Peserta Pilih Farmasi!
Rekomendasi
1 Lagi Calon Manajer...
1 Lagi Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia saat Latsarmil, Total 3 Orang
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Pertamina Cetak Laba...
Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,2 Triliun di 2025, Setor ke Negara Rp360 Triliun
Berita Terkini
Jaga Masa Depan, Pureco...
Jaga Masa Depan, Pureco dan LindungiHutan Tanam 300 Mangrove di Wonorejo
Momen Riuh di Gorontalo,...
Momen Riuh di Gorontalo, Massa Kompak Teriakkan Nama Seskab Teddy di Depan Presiden Prabowo
Mantan Kapolres Bima...
Mantan Kapolres Bima Terima Dana dari Bandar Narkoba, Pengacara: Tuduhan Mengada-ada
DPC Rampung di 9 Kecamatan,...
DPC Rampung di 9 Kecamatan, Partai Perindo Tubaba Tancap Gas Bentuk DPRt
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Infografis
Zelensky Tuding Perusahaan...
Zelensky Tuding Perusahaan AS Korupsi Bantuan Militer untuk Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved