Menimba Nilai Kehidupan dari Kisah Bubukshah dan Gagang Aking
Minggu, 16 Januari 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Meski keduanya berbeda kebiasaan, namun ada kebiasaan yang sama yakni bertapa olah rasa. Dikisahkan, suatu waktu kebiasaan bertapa keduannya terdengar sampai nirwana para dewa. Keduanya lantas mendapat tantangan berpuasa. Gagang Aking berhasil karena terbiasa menahan hawa nafsu. Sedangkan sang adik Bubukshah gagal total. Liurnya meleleh saat melihat daging dan ikan di hadapannya.
Keduanya pun jatuh dalam kesombongan. Kakak merasa cara hidupnya paling benar dan diterima para dewa. Sang adik pun tak mau kalah, bahwa cara hidupnya lebih mulia karena mensyukuri pemberian yang ada.
Ego keduanya kian menguat, merasa diri sendiri paling benar dan paling hebat.
Tibalah saatnya pengadilan itu. Dewa menjelma dalam diri macan putih Kalawijaya, menjumpai keduanya untuk diuji. Pertama-tama ia datangi Gagang Aking. Macan putih meminta makanan sedikit saja, yaitu daging manusia.
Gagang Aking menolak. Dia mengaku masih menyayangi tubuhnya dan mengatakan bahwa tubuhnya terlalu kurus. Ia menyarankan kepada macan putih agar menyantap saudaranya yang gemuk.
Lalu, macan putih mendatangi Bubukshah dan menyampaikan permintaan yang sama. Bubukshah menyambut dengan sukacita dan menyiapkan nasi, daging, tuak, dan ikan. Dan ketika macan putih Kalawijaya menyatakan hanya dapat memakan daging manusia, Bubukshah dengan gembira ingin persembahkan tubuh gemuknya untuk dimakan macan putih.
Bubukshah kemudian mandi, membersihkan diri sebelum tubuhnya diserahkan menjadi santapan macan putih. Atas keikhlasan itu, sang adik lulus ujian kehidupan. Dikisahkan bahwa Bubukshah kemudian dibawa dalam keadaan jiwa dan raganya menuju nirwana suci dengan menunggang macan putih.
Namun, begitu sayangnya dia terhadap sang kakak, dia pun meminta kepada jelmaan dewa macan putih, agar kakaknya juga ikut. Permintaannya disetujui. Sang kakak pun ikut ke tujuan akhir hidup, ke nirwana suci dengan memegang ekor macan.
Diolah dari berbagai sumber
Keduanya pun jatuh dalam kesombongan. Kakak merasa cara hidupnya paling benar dan diterima para dewa. Sang adik pun tak mau kalah, bahwa cara hidupnya lebih mulia karena mensyukuri pemberian yang ada.
Ego keduanya kian menguat, merasa diri sendiri paling benar dan paling hebat.
Tibalah saatnya pengadilan itu. Dewa menjelma dalam diri macan putih Kalawijaya, menjumpai keduanya untuk diuji. Pertama-tama ia datangi Gagang Aking. Macan putih meminta makanan sedikit saja, yaitu daging manusia.
Gagang Aking menolak. Dia mengaku masih menyayangi tubuhnya dan mengatakan bahwa tubuhnya terlalu kurus. Ia menyarankan kepada macan putih agar menyantap saudaranya yang gemuk.
Lalu, macan putih mendatangi Bubukshah dan menyampaikan permintaan yang sama. Bubukshah menyambut dengan sukacita dan menyiapkan nasi, daging, tuak, dan ikan. Dan ketika macan putih Kalawijaya menyatakan hanya dapat memakan daging manusia, Bubukshah dengan gembira ingin persembahkan tubuh gemuknya untuk dimakan macan putih.
Bubukshah kemudian mandi, membersihkan diri sebelum tubuhnya diserahkan menjadi santapan macan putih. Atas keikhlasan itu, sang adik lulus ujian kehidupan. Dikisahkan bahwa Bubukshah kemudian dibawa dalam keadaan jiwa dan raganya menuju nirwana suci dengan menunggang macan putih.
Namun, begitu sayangnya dia terhadap sang kakak, dia pun meminta kepada jelmaan dewa macan putih, agar kakaknya juga ikut. Permintaannya disetujui. Sang kakak pun ikut ke tujuan akhir hidup, ke nirwana suci dengan memegang ekor macan.
Diolah dari berbagai sumber
(don)
Lihat Juga :