Rakai Pikatan, Kisah Cinta Sejati Penguasa Mataram Kuno Pemersatu 2 Wangsa
Minggu, 02 Januari 2022 - 05:13 WIB
loading...
A
A
A
Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialahPramodawardhanidariWangsa Sailendrayang beragamaBuddhaMahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agamaHinduSiwa. Pramodawardhaniadalah putriSamaratunggayang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun824.
Kala itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Ketika itu, Pramodawardhanibelum menjadi istri Mpu Manuku. Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama denganMaharajaRakai Garungdan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggotaWangsa Sanjayayang berhasil menjalin hubungan perkawinan denganWangsa Sailendra.
Teori ini ditolak olehSlamet Muljanakarena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dariPulau Sumateradan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.
Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun807, sedangkanPramodawardhanimasih menjadi gadis pada tahun824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh.
Bisa jadi, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaituSamaratungga. Pramodawardhanibukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer.
Di masa tersebut gelarmpubelum identik dengan kaum laki-laki. Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istriDyah Balitung, yaitu raja yang mengeluarkanprasasti Mantyasih(907).
Prasasti Wantil disebut jugaPrasasti Siwagrhayang dikeluarkan pada tanggal12 November856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagrha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplekCandi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.
Kala itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Ketika itu, Pramodawardhanibelum menjadi istri Mpu Manuku. Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama denganMaharajaRakai Garungdan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggotaWangsa Sanjayayang berhasil menjalin hubungan perkawinan denganWangsa Sailendra.
Teori ini ditolak olehSlamet Muljanakarena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dariPulau Sumateradan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.
Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun807, sedangkanPramodawardhanimasih menjadi gadis pada tahun824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh.
Bisa jadi, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaituSamaratungga. Pramodawardhanibukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer.
Di masa tersebut gelarmpubelum identik dengan kaum laki-laki. Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istriDyah Balitung, yaitu raja yang mengeluarkanprasasti Mantyasih(907).
Prasasti Wantil disebut jugaPrasasti Siwagrhayang dikeluarkan pada tanggal12 November856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagrha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplekCandi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.
Lihat Juga :