Bertenaga Mesin GE Aviation, Proyek Jet Tempur Korsel-Indonesia Makin Mulus
Selasa, 09 Juni 2020 - 09:14 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun Sistem Elbit Israel akan memasok sistem following/avoidance medan untuk radar array yang dipindai secara elektronik aktif yang sedang dikembangkan oleh Hanwha. Perusahaan Israel mengumumkan kontrak USD43 juta pada awal Februari. (Baca juga: Dikembangkan Indonesia-Korsel, Ini Mock-up Jet Tempur KF-X/IF-X )
KF-X juga kompatibel dengan rudal air-to-air Eropa. Korea Selatan menandatangani kontrak dengan pembuat rudal Eropa MBDA pada November 2019 untuk mengintegrasikan misil Meteor, sementara Diehl-BGT juga dilaporkan akan menandatangani kontrak serupa untuk IRIS-T-nya.
Dilaporkan juga bahwa bom yang dipandu laser American Paveway, Joint Direct Attack Munition yang dipandu oleh satelit dan CBU-105 Wind Corrected Munitions Dispenser milik Textron akan diintegrasikan pada KF-X, yang pengembangannya didanai bersama Indonesia.
Indonesia menandatangani program ini pada 2010, dengan setuju untuk membayar 20% dari biaya pengembangan dengan imbalan satu pesawat prototipe, partisipasi desain, data teknis dan pembagian produksi. (Baca juga; 20 Pesawat N219 Buatan PTDI Dipesan PT Aviastar Mandiri )
Namun, sejak saat itu, Indonesia telah melewatkan sejumlah pembayaran di tengah krisis anggaran. Surat kabar The Korea Herald melaporkan pada akhir Mei bahwa pada April 2020, Indonesia berutang USD415 juta dalam pembayaran yang terlambat untuk program tersebut.
KF-X juga kompatibel dengan rudal air-to-air Eropa. Korea Selatan menandatangani kontrak dengan pembuat rudal Eropa MBDA pada November 2019 untuk mengintegrasikan misil Meteor, sementara Diehl-BGT juga dilaporkan akan menandatangani kontrak serupa untuk IRIS-T-nya.
Dilaporkan juga bahwa bom yang dipandu laser American Paveway, Joint Direct Attack Munition yang dipandu oleh satelit dan CBU-105 Wind Corrected Munitions Dispenser milik Textron akan diintegrasikan pada KF-X, yang pengembangannya didanai bersama Indonesia.
Indonesia menandatangani program ini pada 2010, dengan setuju untuk membayar 20% dari biaya pengembangan dengan imbalan satu pesawat prototipe, partisipasi desain, data teknis dan pembagian produksi. (Baca juga; 20 Pesawat N219 Buatan PTDI Dipesan PT Aviastar Mandiri )
Namun, sejak saat itu, Indonesia telah melewatkan sejumlah pembayaran di tengah krisis anggaran. Surat kabar The Korea Herald melaporkan pada akhir Mei bahwa pada April 2020, Indonesia berutang USD415 juta dalam pembayaran yang terlambat untuk program tersebut.
(wib)
Lihat Juga :