Di Tengah Pandemi, Tetap Waspadai Radikalisme dan Terorisme
Rabu, 22 April 2020 - 22:56 WIB
loading...
A
A
A
“Masyarakat mesti semakin bijaksana dan fokus atas penanganan Covid-19 dan jangan terjebak pada isu yang mematik sikap intoleransi, karena sikap intoleransi ini adalah awal munculnya radikalisme. Biasanya sikap intoleransi ini akan diarahkan pada sikap anti pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Ken Setiawan dan Abdul Jamil Wahab serta Aisha Kusumasomantri saat menjadi narasumber Talkshow Interaktif "Mencegah Radikalisme Berkembang di Tengah Wabah Pandemi Covid-19" yang disiarkan Stasiun Radio Pikiran Rakyat (PRFM) 107,5 FM Bandung, mengungkapkan hal sama.
Menurut Abdul Jamil Wahab, motif gerakan terorisme kebanyakan bermotif keagamaan dan balas dendam. Dia menyatakan gerakan radikalisme ini juga mengikuti perkembangan jaman termasuk dalam kontek komunikasi, meski juga ada yang tetap memilih jalur komunikasi tradisional.
“Era modern jangan dikira para pelaku tidak mengikuti perkembangan jaman termasuk era medsos guna melakukan transformasi faham radikalisme. Kewaspadaan harus dilanjutkan dalam masa pandemi ini. Narasi-narasi yang sifatnya mencerahkan dan membantu masyarakat, harus terus dilakukan,” tegasnya.
Sedangkan Ken Setiawan berkeyakinan pelaku radikalisme tetap melakukan aktivitas di tengah pandemi Covid-19. “Mereka jangankan dengan agama lain, dengan satu agama saja mereka ada pada tahap mengkafirkan. Dalam hal pandemi ini, mereka memojokkan Pemerintah bahwa Pemerintah gagal dalam memberikan rasa aman,” ungkapnya.
Ken Setiawan menyatakan tujuannya agar warga negara tidak percaya lagi kepada pemerintah dengan dalih penanganan covid ini salah. Dia menambahkan, ada data yang menyebutkan saat ini hampir 80% kelompok radikal menguasai medsos.
Sementara itu, Ken Setiawan dan Abdul Jamil Wahab serta Aisha Kusumasomantri saat menjadi narasumber Talkshow Interaktif "Mencegah Radikalisme Berkembang di Tengah Wabah Pandemi Covid-19" yang disiarkan Stasiun Radio Pikiran Rakyat (PRFM) 107,5 FM Bandung, mengungkapkan hal sama.
Menurut Abdul Jamil Wahab, motif gerakan terorisme kebanyakan bermotif keagamaan dan balas dendam. Dia menyatakan gerakan radikalisme ini juga mengikuti perkembangan jaman termasuk dalam kontek komunikasi, meski juga ada yang tetap memilih jalur komunikasi tradisional.
“Era modern jangan dikira para pelaku tidak mengikuti perkembangan jaman termasuk era medsos guna melakukan transformasi faham radikalisme. Kewaspadaan harus dilanjutkan dalam masa pandemi ini. Narasi-narasi yang sifatnya mencerahkan dan membantu masyarakat, harus terus dilakukan,” tegasnya.
Sedangkan Ken Setiawan berkeyakinan pelaku radikalisme tetap melakukan aktivitas di tengah pandemi Covid-19. “Mereka jangankan dengan agama lain, dengan satu agama saja mereka ada pada tahap mengkafirkan. Dalam hal pandemi ini, mereka memojokkan Pemerintah bahwa Pemerintah gagal dalam memberikan rasa aman,” ungkapnya.
Ken Setiawan menyatakan tujuannya agar warga negara tidak percaya lagi kepada pemerintah dengan dalih penanganan covid ini salah. Dia menambahkan, ada data yang menyebutkan saat ini hampir 80% kelompok radikal menguasai medsos.
Lihat Juga :