Diduga Korban Rasisme, Tiga Pengusaha China Dibunuh dan Dibakar di Zambia

Senin, 08 Juni 2020 - 08:59 WIB
loading...
Diduga Korban Rasisme,...
Gudang tekstil di Lusaka, Zambia, tempat tiga pengusaha China dibunuh dan dibakar oleh sekelompok penyerang lokal. Foto/Weibo/CNN
A A A
LUSAKA - Tiga pengusaha asal China dibunuh dan dibakar oleh tiga penyerang di Zambia. Pembunuhan brutal ini diduga dimotivasi sentimen rasial telah memicu ketegangan kedua negara.

Rekaman video pengawasan atau CCTV yang disita oleh polisi dan dilihat oleh CNN mengungkapkan pembunuhan brutal pada Minggu (24/5/2020) sore.

Pada hari itu, tiga penyerang di Zambia yang dipersenjatai dengan jeruji besi memasuki tanah dari gudang tekstil milik pengusaha China di Lusaka. Polisi mengatakan ketiga penyerang awalnya mengaku sebagai pelanggan potensial. Tetapi ketiganya tidak melakukan bisnis.

Selama 17 menit berikutnya, rekaman CCTV menunjukkan bahwa mereka memukuli dua pria dan seorang wanita hingga tewas di halaman bangunan, sebelum menyeret tubuh ketiga korban ke gudang terdekat. (BACA JUGA: Jagoannya Kalah Voting, Ketua Parlemen Kota di Taiwan Bunuh Diri)

Di gudang itulah jejak pembunuhan berakhir. Polisi mengatakan para penyerang kemudian memutilasi tubuh ketiga korban dan menggunakan bahan-bahan yang mudah terbakar dari perusahaan pakaian Blue Star untuk membakar tubuh dan bangunan mereka. Para penyerang membakar mereka dengan sangat buruk sehingga otoritas berwenang butuh tiga hari untuk memulihkan jenazah ketiga korban yang hangus dan terpotong-potong.

Sebelum melarikan diri, para penyerang menyerang properti untuk mengambil barang-barang berharga. Sebuah parang bernoda darah ditemukan oleh polisi.

Pembunuhan mengerikan terhadap Cao Guifang, 52, istri pemilik gudang tekstil—yang berada di provinsi asal mereka, Jiangsu, di China timur, pada saat serangan—dan dua penguasaha lainya yang merupakan karyawan Cao, Bao Junbin, 58 , dan Fan Minjie, 33, terjadi setelah seminggu sentimen anti-China memanas di Ibu Kota Zambia.

Pada hari-hari menjelang pembunuhan itu, Wali Kota Lusaka, Miles Sampa, menuduh bos China di ibu kota melakukan "perbudakan isi ulang" dengan menggunakan istilah "Chinaman" yang bagia komunitas China merupakan hinaan dan membangkitkan perpecahan rasial. Dia mengingatkan publik dalam sebuah video yang di-posting di Facebook yang berbunyi; "Orang Zambia berkulit hitam bukanlah sumber virus virus corona. Itu dari China."

Diperkirakan 22.000 warga negara China tinggal di Zambia, mengoperasikan 280 perusahaan, terutama didistribusikan antara Lusaka dan sabuk tembaga di wilayah utara. Beijing memegang sekitar 44 persen dari utang Zambia, yang telah menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa warga Zambia bahwa China memiliki terlalu banyak kendali atas negara itu.
Meskipun polisi tidak secara langsung mengaitkan pembunuhan ketiga pengusaha itu dengan sentimen anti-China, kejahatan itu mengingatkan akan ledakan kekerasan yang dihadapi beberapa orang China saat tinggal di Zambia, mitra kunci proyek "Belt and Road" yang didambakan China. (BACA JUGA: Dokter China Hu Weifeng Kulitnya Menghitam akibat Covid-19 Kini Meninggal)

"Bahkan beberapa orang yang telah tinggal di sini selama lebih dari 20 tahun, mereka juga dikejutkan oleh tindakan kriminal semacam ini," kata Eric Shen, seorang pengusaha China yang telah tinggal di Zambia selama lebih dari satu dekade, seperti dikutip dari CNN, Minggu (7/6/2020).

Karantina Paksa

Zambia melaporkan kasus pertama virus corona baru (Covid-19) pada 18 Maret. Seperti di sebagian besar Afrika, infeksi awal tidak datang dari China, tetapi dari Eropa, setelah pasangan baru-baru ini kembali dari perjalanan ke Prancis "mengimpor" virus.

Negara Afrika Tengah ini telah menerapkan lockdown atau penguncian parsial dengan menutup perbatasan, bisnis, dan menerapkan aturan jarak sosial.

Ketika pandemi itu mendatangkan malapetaka pada ekonomi Zambia, laporan-laporan mulai bermunculan bahwa beberapa perusahaan China menentang penguncian, baik dengan terus melayani pelanggan China atau dengan mengarantina pekerja Zambia di tempat mereka.

Wali Kota Sampa telah memulai kampanye untuk melaporkan kasus-kasus seperti itu.

Pada 18 Mei, Sampa menutup sebuah restoran China, yang menurut laporan menolak pelanggan Zambia untuk menjual produk berlabel dalam bahasa China dan bukan bahasa Inggris, seperti yang disyaratkan oleh hukum setempat. Beberapa hari kemudian, dia mencabut izin salon rambut China dengan alasan melakukan "diskriminasi terhadap orang kulit hitam".

Setelah penggerebekan, Sampa mem-posting video dirinya menggerebek manajer China makan malam di pabrik perakitan truk, di mana para pekerja seharusnya tinggal di lokasi selama pandemi dan tidak kembali ke keluarga mereka, sehingga mereka dapat terus bekerja tanpa risiko menyebabkan infeksi di masyarakat.

"Kami menemukan pekerja Zambia dipaksa tidur di sebuah ruang kecil (enam orang di sebuah ruang) dengan kasur di lantai," tulis Sampa di Facebook. (BACA JUGA: Sekuriti SD di China Mengamuk, 39 Anak-anak dan Staf Sekolah Terluka)

Dalam video itu, seorang manajer China menjawab, “Kami tidak mengizinkan mereka pulang karena masalah corona."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Pabrik Narkoba Liquid...
Pabrik Narkoba Liquid Vape dan Happy Water di Apartemen Ancol Jaringan China-Malaysia
Momen Raden Wijaya Pimpin...
Momen Raden Wijaya Pimpin Prajurit Majapahit Pukul Mundur Pasukan Tartar China
Kisah Kaisar Khubilai...
Kisah Kaisar Khubilai Khan Gagal Kuasai Selat Malaka Akibat Singasari Tancapkan Kekuasaan
Kisah Karamah Sunan...
Kisah Karamah Sunan Gunung Jati Sembuhkan Penyakit Putri Raja China
Transaksi Mata Uang...
Transaksi Mata Uang China Gantikan Uang Lokal Masa Kerajaan Majapahit
Jurus China Singkirkan...
Jurus China Singkirkan Mobil PHEV Eropa dari Pasar Otomotif
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
Kursi Tanpa Gravitasi...
Kursi Tanpa Gravitasi Mobil Listrik China Picu Masalah Baru
Rekomendasi
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima 8 Duta Besar Negara Sahabat di Istana Merdeka
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Berita Terkini
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
Liburan ke China Makin...
Liburan ke China Makin Praktis, Kini Bisa Tinggal Scan Pakai QRIS Cross-Border BRImo!
Ribuan Masyarakat Antusias...
Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Breakfast Jakarta Bersih di Kemendikdasmen
Mulai Roadshow Konsolidasi...
Mulai Roadshow Konsolidasi dari Klungkung, Perindo Bali Bidik Lolos Verifikasi 100%
Suhud Alynudin Dilantik...
Suhud Alynudin Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Jakarta
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved