Diduga Korban Rasisme, Tiga Pengusaha China Dibunuh dan Dibakar di Zambia
Senin, 08 Juni 2020 - 08:59 WIB
loading...
A
A
A
Sampa menjawab, “Orang China...(tidak ada) alasan untuk memperbudak mereka."
Pada hari yang sama, Sampa mengunjungi pabrik semen, di mana dia mengatakan bahwa para pekerja telah ditahan selama dua bulan.
Ketika seorang bos China menjelaskan dalam video yang di-posting Sampa di Facebook bahwa, di pabrik, semua pekerja tidak bisa keluar. Sampa menjawab; “Itu ilegal. Anda menyandera mereka. Ini adalah perbudakan."
Seorang pekerja semen Zambia mengatakan kepada CNN; “Atasan kami (warga China) telah meminta kami untuk tinggal dan bekerja dari sini sampai virus corona berakhir, karena mereka takut bahwa kami akan membuat paparan virus ke masyarakat dan bahwa kami tidak membawanya ke tempat kerja kami."
Wali Kota Lusaka Miles Sampa menanyai staf di pabrik semen Zambia tentang laporan bahwa 100 pekerja Zambia dilarang meninggalkan lokasi selama pandemi Covid-19. "Tapi mereka memberi kami makanan, jaring anti-nyamuk, dan kasur tempat kami tidur. Kami tidur seperti di kamp...tetapi beberapa rekan kami yang menolak telah diberhentikan dan mereka akan mengajukan permohonan kembali setelah perusahaan dibuka lagi," kata seorang pekerja yang tidak disebutkan namanya.
Pegawai Zambia lainnya dari perusahaan yang sama mengatakan bahwa bosnya dari China mengancam akan memukulnya jika dia menolak untuk tinggal. “Kami dipaksa oleh bos China kami dan mereka mengancam akan memukul Anda jika Anda menolak. Ini adalah bagaimana sebagian dari kita melarikan diri—saat ini, kami hanya ingin pemerintah membantu kami mengklaim upah kami yang belum dibayar," ujarnya, yang juga menolak diidentifikasi.
Ketika CNN menghubungi pabrik, seorang staf yang menolak untuk menyebutkan namanya membantah tuduhan melakukan kesalahan.
"Kami tidak mengambil mereka (sebagai) tahanan—kami hanya melindungi mereka dari penyakit corona ini," katanya. “Pekerja dibayar lebih untuk tidur di pabrik." (BACA JUGA: Warga Gaza Gembira dengan Dibukanya Lagi Masjid dan Sekolah)
Dia tidak akan mengatakan jumlah upah tambahan yang diberikan, tetapi seorang karyawan mengatakan pekerja biasanya dibayar 1.600 kwacha Zambia (USD95) per bulan.
Bara Lama yang Dihidupkan Kembali
Kehadiran China di Zambia telah menjadi kontroversi selama beberapa dekade.
Pada tahun 2005, sebuah ledakan di tambang dekat Chambeshi, sebuah kota di sabuk tembaga Zambia, telah menewaskan puluhan pekerja Zambia. Lima tahun kemudian, dua manajer China menembaki pekerja Zambia yang memprotes kondisi kerja yang buruk di tambang batubara Collum. Pada 2012, pekerja Zambia membunuh seorang supervisor China di tambang yang sama.
Insiden ini telah menarik perhatian media di seluruh dunia dan sering disajikan sebagai bukti standar tenaga kerja China yang buruk—tidak hanya di Zambia tetapi di seluruh benua Afrika.
"Jadi ketika masalah mengarantina pekerja Zambia oleh bos China muncul selama pandemi Covid-19, itu menghidupkan kembali beberapa luka lama orang-orang terhadap majikan China," kata Kanenga Haggai, dosen senior di Department of Development Studies di University of Zambia dan kandidat PhD di Southeast University di China.
"Jika tidak dikelola dengan baik, itu berisiko merusak hubungan China dengan Zambia di tingkat rakyat," katanya lagi.
Hari ini, China melakukan lebih banyak perdagangan dengan Zambia daripada negara lain di Afrika kecuali Kenya. Pada 2018, perdagangan bilateral melebihi USD5 miliar.
Namun, ketika ekspor Zambia ke China cukup besar, berkat produksi tembaga, apa yang dilihat banyak orang Zambia di lapangan adalah penetrasi China dan bisnis di negara mereka. Proyek infrastruktur besar, termasuk bandara, jalan raya, dan bendungan di Zambia, telah dibangun oleh perusahaan milik negara atau terkait China.
China juga beroperasi di sektor penambangan yang penting, seperti halnya perusahaan di negara-negara asing lainnya, dan perusahaan yang didukung Beijing. Media lokal sering menerbitkan tajuk utama yang meradang, seperti judul "Bagaimana China secara perlahan menjajah ekonomi Zambia." (BACA JUGA: Dikepung Militer, Area Gedung Putih Bak Zona Perang)
“Orang-orang Zambia merasa bahwa China perlahan-lahan mengambil kendali atas tanah dan urusan mereka, dan bahwa China sekarang menerima perlakuan istimewa dari para pejabat pemerintah,” kata Haggai. “Kami telah melihat banyak orang China memperoleh tanah yang luas."
Pada hari yang sama, Sampa mengunjungi pabrik semen, di mana dia mengatakan bahwa para pekerja telah ditahan selama dua bulan.
Ketika seorang bos China menjelaskan dalam video yang di-posting Sampa di Facebook bahwa, di pabrik, semua pekerja tidak bisa keluar. Sampa menjawab; “Itu ilegal. Anda menyandera mereka. Ini adalah perbudakan."
Seorang pekerja semen Zambia mengatakan kepada CNN; “Atasan kami (warga China) telah meminta kami untuk tinggal dan bekerja dari sini sampai virus corona berakhir, karena mereka takut bahwa kami akan membuat paparan virus ke masyarakat dan bahwa kami tidak membawanya ke tempat kerja kami."
Wali Kota Lusaka Miles Sampa menanyai staf di pabrik semen Zambia tentang laporan bahwa 100 pekerja Zambia dilarang meninggalkan lokasi selama pandemi Covid-19. "Tapi mereka memberi kami makanan, jaring anti-nyamuk, dan kasur tempat kami tidur. Kami tidur seperti di kamp...tetapi beberapa rekan kami yang menolak telah diberhentikan dan mereka akan mengajukan permohonan kembali setelah perusahaan dibuka lagi," kata seorang pekerja yang tidak disebutkan namanya.
Pegawai Zambia lainnya dari perusahaan yang sama mengatakan bahwa bosnya dari China mengancam akan memukulnya jika dia menolak untuk tinggal. “Kami dipaksa oleh bos China kami dan mereka mengancam akan memukul Anda jika Anda menolak. Ini adalah bagaimana sebagian dari kita melarikan diri—saat ini, kami hanya ingin pemerintah membantu kami mengklaim upah kami yang belum dibayar," ujarnya, yang juga menolak diidentifikasi.
Ketika CNN menghubungi pabrik, seorang staf yang menolak untuk menyebutkan namanya membantah tuduhan melakukan kesalahan.
"Kami tidak mengambil mereka (sebagai) tahanan—kami hanya melindungi mereka dari penyakit corona ini," katanya. “Pekerja dibayar lebih untuk tidur di pabrik." (BACA JUGA: Warga Gaza Gembira dengan Dibukanya Lagi Masjid dan Sekolah)
Dia tidak akan mengatakan jumlah upah tambahan yang diberikan, tetapi seorang karyawan mengatakan pekerja biasanya dibayar 1.600 kwacha Zambia (USD95) per bulan.
Bara Lama yang Dihidupkan Kembali
Kehadiran China di Zambia telah menjadi kontroversi selama beberapa dekade.
Pada tahun 2005, sebuah ledakan di tambang dekat Chambeshi, sebuah kota di sabuk tembaga Zambia, telah menewaskan puluhan pekerja Zambia. Lima tahun kemudian, dua manajer China menembaki pekerja Zambia yang memprotes kondisi kerja yang buruk di tambang batubara Collum. Pada 2012, pekerja Zambia membunuh seorang supervisor China di tambang yang sama.
Insiden ini telah menarik perhatian media di seluruh dunia dan sering disajikan sebagai bukti standar tenaga kerja China yang buruk—tidak hanya di Zambia tetapi di seluruh benua Afrika.
"Jadi ketika masalah mengarantina pekerja Zambia oleh bos China muncul selama pandemi Covid-19, itu menghidupkan kembali beberapa luka lama orang-orang terhadap majikan China," kata Kanenga Haggai, dosen senior di Department of Development Studies di University of Zambia dan kandidat PhD di Southeast University di China.
"Jika tidak dikelola dengan baik, itu berisiko merusak hubungan China dengan Zambia di tingkat rakyat," katanya lagi.
Hari ini, China melakukan lebih banyak perdagangan dengan Zambia daripada negara lain di Afrika kecuali Kenya. Pada 2018, perdagangan bilateral melebihi USD5 miliar.
Namun, ketika ekspor Zambia ke China cukup besar, berkat produksi tembaga, apa yang dilihat banyak orang Zambia di lapangan adalah penetrasi China dan bisnis di negara mereka. Proyek infrastruktur besar, termasuk bandara, jalan raya, dan bendungan di Zambia, telah dibangun oleh perusahaan milik negara atau terkait China.
China juga beroperasi di sektor penambangan yang penting, seperti halnya perusahaan di negara-negara asing lainnya, dan perusahaan yang didukung Beijing. Media lokal sering menerbitkan tajuk utama yang meradang, seperti judul "Bagaimana China secara perlahan menjajah ekonomi Zambia." (BACA JUGA: Dikepung Militer, Area Gedung Putih Bak Zona Perang)
“Orang-orang Zambia merasa bahwa China perlahan-lahan mengambil kendali atas tanah dan urusan mereka, dan bahwa China sekarang menerima perlakuan istimewa dari para pejabat pemerintah,” kata Haggai. “Kami telah melihat banyak orang China memperoleh tanah yang luas."
Lihat Juga :