BKKBN Sulsel Gandeng 26 Perguruan Tinggi untuk Atasi Stunting
Senin, 06 Desember 2021 - 20:29 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Rizal berharap agar penandatanganan MoU ini dapat ditindaklanjuti dengan aksi nyata dengan memberikan nilai dukung terhadap pencapaian target-target prioritas nasional termasuk menurunkan Angka Stunting.
“Yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi kepada mahasiswa terkait informasi stunting diseluruh prodi yang ada di perguruan tinggi, minimal mereka tahu stunting itu apa dan bagaimana mencegahnya, kemudian bagaimana masyarakat di sekitar kampus kita bebaskan dari stunting khususnya keluarga yang ada di Kampung Keluarga Berkualitas dapat dilakukan melalui kegiatan pendampingan keluarga melalui Program KKN Tematik” terangnya.
Dalam upaya Pencegahan Stunting, BKKBN telah membetuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari Bidan, PKK dan Penyuluh KB untuk memberikan edukasi dan pendampingan ke masyarakat yang berpotensi mengalami Stunting bagaimana Pola Asuh Anak yang baik terutama di 1000 hari Pertama Kehidupan.
Baca Juga: Hasto Wardoyo Dorong BKKBN Sulsel Maksimalkan Penggunaan Anggaran
“Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya” jelasnya.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan , Andi Ritamariani, menyebutkan dalam MoU ini memuat perihal optimalisasi penyelenggaraan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (Bangga Kencana) yang diimplementasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi lewat Program KKN Tematik dan Mahasiswa Peduli Stunting lewat Program Kampus Merdeka.
“Yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi kepada mahasiswa terkait informasi stunting diseluruh prodi yang ada di perguruan tinggi, minimal mereka tahu stunting itu apa dan bagaimana mencegahnya, kemudian bagaimana masyarakat di sekitar kampus kita bebaskan dari stunting khususnya keluarga yang ada di Kampung Keluarga Berkualitas dapat dilakukan melalui kegiatan pendampingan keluarga melalui Program KKN Tematik” terangnya.
Dalam upaya Pencegahan Stunting, BKKBN telah membetuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari Bidan, PKK dan Penyuluh KB untuk memberikan edukasi dan pendampingan ke masyarakat yang berpotensi mengalami Stunting bagaimana Pola Asuh Anak yang baik terutama di 1000 hari Pertama Kehidupan.
Baca Juga: Hasto Wardoyo Dorong BKKBN Sulsel Maksimalkan Penggunaan Anggaran
“Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya” jelasnya.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan , Andi Ritamariani, menyebutkan dalam MoU ini memuat perihal optimalisasi penyelenggaraan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (Bangga Kencana) yang diimplementasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi lewat Program KKN Tematik dan Mahasiswa Peduli Stunting lewat Program Kampus Merdeka.
Lihat Juga :