Kisah Sultan Agung Penggal Kepala Panglima Perang yang Gagal Kuasai Batavia
Senin, 06 Desember 2021 - 05:06 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Tragedi Raden Ayu Lembah dan Jatuhnya Kekuasaan Amangkurat III di Kartasura
Pada tahun 1621, Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua pihak saling mengirim duta besar. Namun VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya. Akibatnya, hubungan diplomatik kedua pihak pun putus.
Setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram, sasaran Sultan Agung selanjutnya adalah Kesultanan Banten di ujung barat Pulau Jawa. Namun, posisi Batavia yang menjadi "benteng" Kesultanan Banten perlu diatasi terlebih dahulu. Alasan itu adalah keinginan lain Sultan Agung untuk menyerbu Batavia selain ingin mengusir penjajah VOC dari bumi Nusantara.
Keinginan menguasai Banten yang begitu besar itu ingin dicapainya dengan banyak cara. Di antaranya, Sultan Agung memerintahkan Adipati Ukur, untuk membantunya menyerang VOC di Batavia pada 1628 Masehi.
Buku Sejarah Nasional Ketika Nusantara Berbicara karya Joko Darmawan menuliskan, persiapan untuk menyerang Batavia pun dilakukan pada tahun 1628. Pada tanggal 22 Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa dari Kendal yang diberi titah Sultan Agung memimpin penyerbuan ke Benteng Belanda, mendaratkan 59 perahu berisi 900 prajurit ke teluk Jakarta.
Di dalam kapal, armada Bahureksa membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Semua itu tentu saja tidak diakui sebagai perbekalan untuk menyerang benteng Batavia. Armada Bahureksa beralasan kedatangan mereka untuk berdagang dengan Batavia.
Sebagai bawahan, Adipati Ukur yang kala itu Bupati Wedana Priangan, melaksanakan perintah Sultan Agung. Namun ia mengalami kegagalan saat menyerang pasukan VOC.
Alhasil Adipati Ukur tak berani menghadap ke Sultan Agung. Ia takut bila dipenggal kepalanya. Selanjutnya Adipati Ukur dan pasukannya bersembunyi di kawasan Gunung Lumbung yang sekarang masuk wilayah Bandung.
Pada tahun 1621, Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua pihak saling mengirim duta besar. Namun VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya. Akibatnya, hubungan diplomatik kedua pihak pun putus.
Setelah Surabaya jatuh ke tangan Mataram, sasaran Sultan Agung selanjutnya adalah Kesultanan Banten di ujung barat Pulau Jawa. Namun, posisi Batavia yang menjadi "benteng" Kesultanan Banten perlu diatasi terlebih dahulu. Alasan itu adalah keinginan lain Sultan Agung untuk menyerbu Batavia selain ingin mengusir penjajah VOC dari bumi Nusantara.
Keinginan menguasai Banten yang begitu besar itu ingin dicapainya dengan banyak cara. Di antaranya, Sultan Agung memerintahkan Adipati Ukur, untuk membantunya menyerang VOC di Batavia pada 1628 Masehi.
Buku Sejarah Nasional Ketika Nusantara Berbicara karya Joko Darmawan menuliskan, persiapan untuk menyerang Batavia pun dilakukan pada tahun 1628. Pada tanggal 22 Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa dari Kendal yang diberi titah Sultan Agung memimpin penyerbuan ke Benteng Belanda, mendaratkan 59 perahu berisi 900 prajurit ke teluk Jakarta.
Di dalam kapal, armada Bahureksa membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Semua itu tentu saja tidak diakui sebagai perbekalan untuk menyerang benteng Batavia. Armada Bahureksa beralasan kedatangan mereka untuk berdagang dengan Batavia.
Sebagai bawahan, Adipati Ukur yang kala itu Bupati Wedana Priangan, melaksanakan perintah Sultan Agung. Namun ia mengalami kegagalan saat menyerang pasukan VOC.
Alhasil Adipati Ukur tak berani menghadap ke Sultan Agung. Ia takut bila dipenggal kepalanya. Selanjutnya Adipati Ukur dan pasukannya bersembunyi di kawasan Gunung Lumbung yang sekarang masuk wilayah Bandung.
Lihat Juga :