Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, Raja Samudera Pasai dalam Catatan Ibn Battuta

Kamis, 11 November 2021 - 07:22 WIB
loading...
Sultan Mahmud Malik...
Kerajaan Islam Samudera Pasai. Foto: Istimewa
A A A
JAKARTA - KERAJAAN Islam Samudera Pasai mengalami masa jaya, saat berada di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir yang bijaksana. Sultan Mahmud Malik, berkuasa pada periode 1326-1345 Masehi.

Dalam catatan asing, nama Sultan Mahmud Malik Az-Zahir banyak disebut-sebut. Diantaranya oleh Ibn Battuta, yang berkunjung ke Samudera Pasai, pada 1345 Masehi. Kesan Ibn Battuta terhadap Sultan Mahmud Malik sangat baik.

Disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, Kerajaan Islam Samudera Pasai yang berada di Aceh itu, dipimpin oleh Sultan yang sangat taat menjalankan ibadah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Syahwat Terlarang Sultan Ahmad Malik Az-Zahir Picu Majapahit Hancurkan Kerajaan Samudera Pasai

Tidak hanya itu, Ibn Battuta juga mencatat, bahwa Sultan Mahmud Malik Az-Zahir kerap dikelilingi oleh ahli-ahli agama Islam yang selalu membicarakan masalah agama dalam tinjauan Mahzab Syafii.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perkembangan ajaran agama Islam di Kerajaan Samudera Pasai, di masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Tercatat, diantara para ahli-ahli agama Islam itu ada Qadi Sharif Amir Sayyid dari Persia (sekarang Iran) dan Taj-alDhin dari Isfahan. Para teolog Islam itu, telah menetap jauh sebelum Ibn Battuta tiba di Kerajaan Islam Samudera Pasai.

Baca: Kelihaian Gajah Mada Taklukan 2 Kerajaan Besar, Samudera Pasai dan Sunda

Tidak hanya dibilang ilmu pengetahuan agama Islam, Kerajaan Samudera Pasai juga dikenal sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka, hingga akhir abad ke-13. Terutama, karena kerajaan ini mengeluarkan mata uang sendiri.

Pendahulu Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, yaitu Sultan Malik al-Zahir yang memerintah pada 1297-1326 Masehi, tercatat sebagai orang yang pertama kali mengeluarkan mata uang emas dirham sebagai alat perdagangan.

Tradisi itu diteruskan, pada masa Sultan Mahmud Malik Az-Zahir berkuasa. Hingga kini, mata uang tersebut tercatat sebagai yang paling tua, yang pernah dikeluarkan oleh kerajaan Islam yang ada di Asia Tenggara.

Baca: Pengganti Gajah Mada, Mahapatih Enggon yang Tak Tegas Sebabkan Kehancuran Majapahit

Tentang mata uang ini, dicatat oleh Tome Pires, pada 1513-1515. Dituliskan, bahwa peredaran mata uang di beberapa kerajaan digunakan sebagai alat tukar barang dalam perdagangan di berberapa pusat kota dan kerajaan.

Dari 11 mata uang dirham yang ditemukan, beberapa diantaranya memuat nama Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, Sultan Ahmad, dan Sultan Abdullah yang semua merupakan raja-raja dari Kerajaan Islam Samudera Pasai.

Baca: Dyah Wiyat, Kisah Cinta Segitiga dan Perselingkuhan di Kerajaan Majapahit

Dalam catatan yang lain, Kerajaan Samudera Pasai juga dikenal sebagai kerajaan maritim yang tangguh. Dalam bidang perdagangan, kerajaan ini menjadi pemasok lada yang berkualitas dengan mutu nomor satu di dunia.

Panen lada di wilayah kerajaan itu, bisa dua kali setahun. Selain lada, produksi susu sapi dari Kerajaan Samudera Pasai juga sangat terkenal dan berkualitas sangat baik, untuk dijadikan bahan dasar keju di Eropa.

Sumber tulisan:
Susanto Zuhdi, Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra, Kumpulan Makalah Diskusi, Proyek lnventarisasi dan Dokumentasi sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.
Ahmad Sugiri, Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia Abad VII Sampai Abad XV, Penerbit A-Empat, April 2021.
Prof. Dr. M. Dien Madjid, Catatan Pinggir Sejarah Aceh, Perdagangan, Diplomasi, adn Perjuangan Rakyat, Obor, 2013.
Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM, Sejarah 8 Kerajaan Terbesar di Indonesia, KBM Indonesia, 2020.
(hsk)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
15 Ribu Hektare Lahan...
15 Ribu Hektare Lahan Hangus Akibat Karhutla di Aceh dan Riau
Listrik Padam, Aceh,...
Listrik Padam, Aceh, Sumut, Sumbar, dan Riau Blackout
Usai Relaunching AMANAH,...
Usai Relaunching AMANAH, Hilirisasi dan Ekonomi Kreatif Jadi Motor Penguatan SDM Aceh
Pemulihan Pascabencana...
Pemulihan Pascabencana Aceh Terus Dipercepat, Layanan Publik di 10 Wilayah Kembali Normal
Solidaritas Ramadan,...
Solidaritas Ramadan, Lazisnu Salurkan Air Bersih dan Perlengkapan Sekolah bagi Korban Bencana
Perjuangan Teuku Feroz...
Perjuangan Teuku Feroz Bantu Anak Aceh Tembus Kampus Top Nasional
Ambon, Poso, dan Aceh...
Ambon, Poso, dan Aceh Tenang, Anies: Di Situ Ada Sidik Jarinya Pak JK
Momen Penghuni Huntara...
Momen Penghuni Huntara Jamur Ujung Aceh Bersyukur Dapat Bantuan Peralatan Dapur
Rekomendasi
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Dibully Sampai Hidupnya...
Dibully Sampai Hidupnya Hancur, Ini Balas Dendam Anna di Microdrama V+Short She Was Never Gone
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved